REPUBLIKA.CO.ID, oleh Yayan Sopyan, Dosen Sosiologi dan Antropologi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Boaventura de Sousa Santos dalam Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide mengingatkan bahwa dunia modern sering terlalu percaya pada satu jenis pengetahuan: pengetahuan Barat. Cara berpikir ini kemudian menjadi ukuran tunggal kemajuan, sementara pengetahuan lokal dipandang kuno, irasional, bahkan harus ditinggalkan. Tulisan ini tidak bermaksud mengulas seluruh gagasan besar Santos, tetapi mencoba membaca satu konsep penting—subsistensi—melalui potret kehidupan urang Kanekes atau masyarakat Baduy.
Santos menyebut adanya epistemisida, yaitu penghancuran sistematis terhadap pengetahuan tradisional oleh dominasi sains modern, hukum negara, dan ekonomi kapitalistik. Kolonialisme, dalam sejarahnya, tidak hanya menaklukkan wilayah, tetapi juga merusak cara masyarakat memahami ruang hidup, politik, dan kebudayaannya. Ingatan kolektif diputus, hubungan dengan leluhur dilemahkan, dan cara manusia berinteraksi dengan alam dianggap tidak sah. Dalam bentuk yang lebih halus, pola ini masih berlangsung hari ini: pengetahuan yang tidak sesuai dengan logika pasar dianggap tidak produktif, sehingga perlahan disingkirkan.
Akibatnya tidak kecil. Ketika bahasa lokal hilang atau pengobatan tradisional ditinggalkan, manusia kehilangan cara lain untuk memahami kehidupan. Dunia menjadi seragam, tetapi sekaligus rapuh. Karena itu Santos mengajukan gagasan keadilan kognitif: pengakuan bahwa pengetahuan lokal bukan penghalang kemajuan, melainkan alternatif penting bagi masa depan peradaban.
Gagasan ini terasa dekat dengan kritik yang sering muncul dalam pidato-pidato Kang Dedi Mulyadi (KDM) tentang krisis jati diri akibat gaya hidup konsumtif. Konsumerisme menjadikan manusia hanya sebagai pembeli, bukan lagi pengelola kehidupan. Ketergantungan meningkat, sementara kemandirian melemah. Dalam konteks budaya Sunda, sering diingatkan bahwa alam adalah titipan, bukan warisan yang bebas dieksploitasi. Filosofi hidup seperti cageur, bageur, pinter, tur singer menekankan keseimbangan: sehat jasmani, baik perilaku, cerdas akal, dan sadar diri terhadap batas-batas alam.
Di sinilah kehidupan masyarakat Baduy menjadi contoh konkret. Mereka menjalani sistem ekonomi subsisten—produksi secukupnya untuk hidup, bukan untuk pasar. Di ladang huma mereka menanam padi gogo, talas, pisang, dan tanaman pangan lain terutama untuk kebutuhan sendiri. Padi tidak diperlakukan sebagai komoditas dagang, melainkan amanah leluhur. Ia disimpan di leuit sebagai cadangan hidup dan simbol keberlanjutan generasi.
Kemandirian menjadi prinsip dasar. Pakaian ditenun sendiri, rumah dibangun dari bahan alam, obat diperoleh dari tanaman hutan. Ketergantungan pada teknologi modern dan pasar dibatasi karena diyakini dapat merusak keseimbangan hidup. Tujuan bekerja bukan memperbesar keuntungan, tetapi menjaga keberlangsungan komunitas.
Skala produksi mereka kecil dan teknologi yang dipakai sederhana— pacul, bedog, parang dan tugal, tanpa pupuk kimia, tanpa mesin, tanpa irigasi buatan. Aturan adat (pikukuh karuhun) melarang eksploitasi berlebihan terhadap alam. Bagi orang Baduy, alam bukan objek ekonomi, melainkan ruang hidup bersama. Melanggar alam berarti melanggar tatanan kosmis.
Pengetahuan mereka diwariskan turun-temurun: membaca musim dari peredaran bintang, menentukan waktu tanam dari tanda alam, dan menjaga hutan sebagai sumber kehidupan. Pengetahuan ekologis ini berfungsi sekaligus sebagai hukum sosial. Dengan demikian, subsistensi bukan sekadar cara bertahan hidup, tetapi sistem nilai yang mengatur hubungan manusia, alam, dan leluhur.
Karena itu, ekonomi subsisten Baduy tidak dapat dipahami sebagai keterbelakangan. Ia justru strategi sadar menjaga stabilitas sosial: tidak ada kompetisi ekonomi berlebihan, kesenjangan rendah, dan solidaritas komunitas kuat. Dalam dunia yang krisis lingkungan dan krisis makna, kehidupan Baduy menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti mempercepat produksi—kadang justru memperlambatnya.
Dari huma Baduy kita belajar: mungkin masa depan tidak hanya membutuhkan teknologi baru, tetapi juga keberanian mengakui kembali pengetahuan lama. Subsistensi bukan nostalgia masa lalu, melainkan kemungkinan lain bagi peradaban yang lebih seimbang. Wallahu a’lam.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

11 hours ago
10



































