Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Kalau seseorang ingin memahami Prabowo Subianto, mungkin kita tak harus mulai dari pidato politiknya. Bisa jadi kita justru perlu membuka buku yang pernah ia rekomendasikan dibaca anak-anak muda.
Buku itu The Warrior of the Light karya Paulo Coelho. Versi Indonesianya, Kitab Suci Kesatria Cahaya, sudah lama terbit. Judulnya terdengar sangat Prabowo — warrior, cahaya, perjuangan.
Tapi isinya ternyata lebih rumit. Kesatria Cahaya tidak diajari untuk selalu menyerang. Ia diajari memilih pertempuran, mendengarkan lawan, dan memanfaatkan kekuatan lawan.
Dan, ini yang paling menarik, ia menghunus pedang hanya jika benar-benar perlu.
Dalam suatu wawancara dengan Najwa Shihab, suatu kali Prabowo menyebut Kitab Suci Kesatria Cahaya sebagai buku yang paling berpengaruh pada dirinya.
Buku itu, katanya, “tidak tebal, ringkas, namun penuh pelajaran yang membangkitkan semangat.” Ia bahkan merekomendasikannya kepada anak-anak muda yang ingin maju dan sukses.
Pernyataan itu menjadi lebih menarik karena Prabowo sendiri memberi petunjuk tentang cara membaca dirinya melalui buku tersebut. Dan satu buku lain tentang dirinya tersedia sebagai pembanding
Di buku Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto terbitan 2021, ia menyebut Kitab Suci Kesatria Cahaya
pada bagian yang membicarakan gambaran dirinya.
Seorang pengulas buku itu bahkan menempatkannya di halaman 473, setelah uraian panjang tentang sosok pemimpin yang berani, penuh perhitungan, berani mengambil keputusan tidak populer, dan merupakan perpaduan a man of action dengan a man of intellect.
Maka, membaca Kitab Suci Kesatria Cahaya bersama pengalaman politik Prabowo bukan sekadar permainan mencocok-cocokkan kutipan dengan peristiwa. Ada semacam peta yang bisa disusun.
Kita bisa melihat, nilai apa yang tampaknya ia serap, bagaimana nilai itu muncul dalam sikap politiknya, dan di mana perilakunya justru masih harus diuji oleh tuntutan menjadi presiden.
Sebab, sebuah buku yang berpengaruh tidak otomatis menjadikan pembacanya sebagai tokoh ideal buku tersebut. Buku adalah kompas, yang berguna bagi manusia yang kerap bisa salah membaca arah.
Mari kita masuk ke poin-poin penting yang saya ekstrak dari Kitab Suci Kesatria Cahaya, dan memproyeksikannya ke laku dan tindakan Prabowo. Dengan demikian, buku itu tampak membumi.
Pertama: kegagalan bukan alasan untuk berhenti.
Salah satu inti Kitab Suci Kesatria Cahaya adalah cara memandang kegagalan. Kesatria Cahaya bukan manusia tanpa luka. Ia justru menjadi kesatria karena pernah takut, pernah keliru, pernah jatuh, bahkan pernah merasa hidupnya kehilangan makna.
Dalam buku itu ditegaskan bahwa para kesatria cahaya “pernah gagal”, terus bertanya, terus mencari makna, dan akhirnya menemukannya.
Di sinilah kisah politik Prabowo terasa sangat dekat dengan arketipe Coelho. Ia kalah dalam Pilpres 2014 dan 2019 sebelum akhirnya memenangkan Pilpres 2024.
Kekalahan dalam politik Indonesia bukan perkara kecil. Di dalamnya ada biaya politik, luka pribadi, ejekan, perpecahan pendukung, dan godaan untuk menyimpulkan bahwa pintu telah tertutup. Tapi Prabowo tetap kembali ke gelanggang.
Bahkan jauh sebelum kemenangan 2024, ia berkali-kali berbicara tentang kegagalan sebagai bagian dari perjalanan. Dalam kerangka Kitab Suci Kesatria Cahaya, kegagalan tidak diperlakukan sebagai identitas. Orang boleh kalah dalam sebuah pertempuran, tapi kekalahan itu tidak harus menjadi kekalahan seluruh hidup.
Itulah mungkin salah satu bagian paling konkret dari “Kesatria Cahaya” dalam Prabowo, yakni persistensi.
Ia tidak membiarkan hasil satu pertempuran menentukan seluruh arah hidupnya. Yang menarik, sikap itu akhirnya membawanya bukan sekadar memenangkan pemilu, tapi sampai ke kursi yang selama bertahun-tahun ia kejar.
Tapi di sini ada satu catatan penting. Dalam filsafat Coelho, ketekunan bukan keras kepala. Kesatria harus mampu membedakan kapan terus maju dan kapan mengubah cara.
Buku Kitab Suci Kesatria Cahaya bahkan mengajarkan bahwa kegigihan harus dibedakan dari kebekuan. Sungai tetap menuju laut, tapi ia tidak memaksa menembus batu. Ia mengalir mengitarinya.
Prabowo pun mengalami perubahan strategi. Dari oposisi keras terhadap pemerintahan Jokowi, ia kemudian memilih rekonsiliasi dan masuk ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan.
Setelah memenangkan Pilpres 2024, ia melanjutkan politik koalisi yang jauh lebih luas. Dalam perspektif Kitab Suci Kesatria Cahaya, ini bisa dibaca bukan sebagai menyerah kepada lawan, melainkan sebagai perubahan medan untuk mencapai tujuan yang dianggap lebih besar.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

16 hours ago
11













































