Bahlil: Dua Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Siap Produksi 2026

1 day ago 38

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel di Indonesia memasuki fase operasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel di Indonesia memasuki fase operasional. Pemerintah menargetkan dua pabrik baterai mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari penguatan rantai pasok industri kendaraan listrik nasional.

Bahlil menegaskan proyek baterai kendaraan listrik merupakan kelanjutan agenda hilirisasi mineral strategis yang diarahkan langsung Presiden Prabowo Subianto. Salah satu fasilitas utama berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dengan konsep terintegrasi mulai dari bahan baku nikel hingga baterai kendaraan listrik serta melibatkan mitra global.

“Ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh Bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL, direncanakan pada semester I 2026 itu sudah kita resmikan,” kata Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Ia menyebut pengembangan tersebut menandai kesiapan Indonesia memasuki tahap produksi baterai kendaraan listrik secara komersial. Pemerintah memandang penguatan industri baterai menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah nikel sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.

“Jadi berarti sudah ada dua nanti pabrik baterai kita di Indonesia yang ekosistem baterai mobil dari nikel, bahan baku nikel,” ujar Bahlil.

Pengembangan industri baterai berjalan beriringan dengan penataan pasokan nikel agar selaras dengan kebutuhan industri. Pemerintah menyiapkan kebijakan pengelolaan produksi melalui penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) guna menjaga keseimbangan pasokan bijih nikel, stabilitas harga, dan keberlanjutan industri pengolahan di dalam negeri.

Bahlil menekankan penataan tersebut ditujukan untuk mengharmoniskan kepentingan negara, pelaku usaha, dan masyarakat di sekitar wilayah tambang. “Kita akan menyesuaikan antara kebutuhan industri dan supply ore nikel kita,” tuturnya.

Kementerian ESDM mencatat investasi sektor ESDM sepanjang 2025 mencapai 31,7 miliar dolar AS, dengan kontribusi signifikan dari sektor mineral dan batu bara (minerba) serta proyek hilirisasi. Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik masuk dalam daftar proyek strategis nasional yang dipercepat bersama pembangunan smelter mineral dan fasilitas pengolahan lainnya.

Penguatan industri baterai diharapkan mendorong peningkatan nilai tambah nikel di dalam negeri, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Pemerintah menilai kesiapan dua pabrik baterai pada 2026 menjadi tonggak penting menuju kemandirian industri EV nasional dan peningkatan daya saing Indonesia di pasar internasional.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |