Bapanas: Minggu Ketiga Ramadhan Jadi Titik Balik Harga Cabai Rawit

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy menyebut minggu ketiga Ramadhan menjadi titik balik harga cabai rawit di pasaran. Panen raya di sejumlah sentra produksi mulai mengalir dan menekan harga di tingkat eceran.

Ia menyampaikan, secara umum harga pangan relatif stabil. Komoditas yang sempat melonjak hanya cabai rawit, namun kini menunjukkan tren penurunan seiring masuknya hasil panen ke pasar.

“Minggu ketiga puasa ini sudah mulai panen raya. Itu informasi dari Dirjen Hortikultura,” kata Sarwo Edhy di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan, hambatan utama normalisasi harga cabai terjadi saat musim hujan. Petani cenderung menunda panen karena risiko busuk cukup tinggi ketika dipetik dalam kondisi basah.

Distribusi juga menjadi tantangan. Saat cuaca cerah, petani memanen hingga malam hari dan langsung mengirimkan hasilnya ke pasar induk maupun pasar langganan agar kualitas tetap terjaga.

“Para petani biasanya enggan memanen ketika musim hujan. Karena kalau musim hujan dipanen, itu biasanya busuk. Nah, itu kendalanya. Sehingga para petani kalau misalnya hari ini tidak hujan, panen sampai malam hari. Kemudian langsung di-drop ke pasar-pasar induk atau pasar langganan mereka. Sehingga harga sekarang itu sudah mulai turun. Kalau minggu depan mungkin ada yang di atas Rp 100 ribu, sekarang sudah Rp 90 ribu, saya dengar tadi pagi sekitar Rp 70 ribu,” ujar Sarwo Edhy.

Menurut dia, harga di tingkat pengecer kini berada di kisaran Rp 70 ribu per kilogram. Di Pasar Induk Kramat Jati, harga berada pada kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram.

Harga acuan pemerintah untuk cabai rawit berada di angka Rp 57 ribu per kilogram. Angka tersebut menjadi rujukan stabilitas harga di tingkat konsumen. “Harga normalnya Rp 57 ribu. Harga acuan pemerintah. Harga pembelian pemerintah itu Rp 57 ribu. Memang untuk cabai rawit merah ini agak tinggi,” ujarnya.

Sarwo Edhy menambahkan, panen raya berlangsung di sejumlah sentra di Pulau Jawa. Wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi tumpuan pasokan dalam beberapa pekan ke depan.

Komunikasi intensif dilakukan dengan petani champion hortikultura agar suplai ke pasar tradisional tetap terjaga. “Itu champion. Jadi kami melalui Direktur Jenderal Hortikultura selalu komunikasi dan melalui Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, beliau yang selalu berkomunikasi dengan champion-champion itu untuk menyuplai ke pasar-pasar tradisional terutama,” ucapnya.

Bapanas juga menyiapkan fasilitasi distribusi jelang Lebaran jika terjadi lonjakan permintaan. Skema tersebut dilakukan atas permintaan pemerintah daerah agar harga di sentra produksi dan wilayah defisit tetap seimbang.

“Ya, dilanjutkan, pasti dilanjutkan. Hanya itu berdasarkan permintaan dari pemda setempat. Jadi itu baru bisa kita keluarkan fasilitasi distribusi sehingga harga di sentra dan harga di wilayah-wilayah yang defisit itu sama. Berarti kita fasilitasi distribusi,” katanya.

Sarwo Edhy memastikan pasokan dari luar Jawa, termasuk dari Aceh ke Jakarta, masih berjalan. Dengan panen raya dan penguatan distribusi, Bapanas berharap harga cabai kembali mendekati harga acuan sebelum Lebaran. Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga agar stabilitas pangan selama Ramadhan tetap terjaga.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |