Bangsa yang tak Belajar 

14 hours ago 11

Oleh : Achmad Tshofawie; Kordinator ECOFITRAH, Keluarga FKPPI dan ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, -- Sejarah manusia sesungguhnya tidak pernah kekurangan peringatan. Yang langka justru kemampuan untuk belajar. Dalam Al-Qur’an, kegagalan suatu bangsa jarang disebabkan oleh kekurangan sumber daya, teknologi, atau kecerdasan, melainkan oleh satu penyakit laten: penolakan terhadap pelajaran. 

Inilah tema besar QS Al-A‘raf — sebuah potret berulang tentang bangsa-bangsa yang melihat tanda-tanda kehancuran, namun enggan menyeberangkan maknanya ke dalam perubahan sikap dan kebijakan.

Allah menyebut fenomena ini dengan ungkapan yang tajam dan berulang: “qoliilan maa tadzakkaruun”—amat sedikit kalian mengambil pelajaran. Ungkapan ini bukan kritik intelektual semata, melainkan vonis peradaban. Karena ketika pelajaran diabaikan, syukur mengering; dan ketika syukur mengering, kerusakan alam dan ketidakadilan sosial menjadi keniscayaan.

Kesadaran yang Absen

Al-Qur’an membedakan antara ‘ibrah dan i‘tibar. ‘Ibrah adalah pelajaran yang tersedia di hadapan mata: kehancuran suatu kaum, keruntuhan sebuah peradaban, atau bencana ekologis yang berulang. Namun i‘ti bar adalah proses batiniah—menyeberangkan peristiwa itu menjadi kesadaran dan perubahan arah hidup. Banyak bangsa memiliki ‘ibrah, tetapi sangat sedikit yang melakukan i‘tibar.QS Al-A‘raf menggambarkan manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran (QS Al-A‘raf: 179). Ini bukan soal keterbatasan sensorik, melainkan kemandekan kesadaran. Dan dari sinilah krisis syukur bermula.

Syukur dalam Al-Qur’an bukan emosi spontan, tetapi buah dari kesadaran mendalam. Orang yang tidak belajar akan menganggap nikmat sebagai sesuatu yang wajar; orang yang menganggap nikmat sebagai kewajaran akan sulit bersyukur; dan orang yang sulit bersyukur akan mudah mengeksploitasi.

Kaum ‘Ad: Teknologi yang Melahirkan Kesombongan

Al-Qur’an mengisahkan kaum ‘Ad sebagai bangsa yang unggul secara fisik dan teknologi. Mereka membangun bangunan megah di dataran tinggi dan merasa tak terkalahkan. “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” adalah logika dominan mereka. Namun kemajuan itu tidak melahirkan syukur, melainkan arogansi. Mereka gagal belajar bahwa kekuatan adalah amanah, bukan jaminan keabadian. Angin—elemen alam yang selama ini mereka remehkan—justru menjadi instrumen kehancuran mereka. Di sini Al-Qur’an mengajarkan satu pelajaran penting: bangsa yang memuja kemajuan tanpa kesadaran ekologis sedang menyiapkan alat kehancurannya sendiri.

Tsamud: Rekayasa Alam Tanpa Etika

Kaum Tsamud lebih canggih lagi. Mereka memahat gunung, menguasai sumber air, dan membangun permukiman tahan zaman. Secara teknik, mereka adalah ahli geologi dan arsitektur. Namun penguasaan alam tidak diiringi amanah.

Mereka menyembelih unta—simbol keseimbangan ekosistem dan keadilan sosial—bukan karena kebutuhan, tetapi karena pembangkangan. Pesan Qur’ani di sini sangat jelas: ketika alam diperlakukan semata sebagai objek kuasa, bukan ayat Allah, kehancuran hanya menunggu waktu. Gempa yang membinasakan Tsamud adalah peringatan bahwa alam memiliki batas toleransi.

Fir‘aun: Negara Kuat yang Anti-Pelajaran

Fir‘aun adalah contoh paling lengkap tentang bangsa yang tak belajar. Ia memiliki negara terpusat, birokrasi rapi, infrastruktur megah, dan propaganda efektif. Sungai Nil yang menjadi tulang punggung ekonomi dan simbol kekuasaan Fir‘aun justru menipu kesadarannya, sementara kehancurannya datang dari laut yang ia anggap di luar kendalinya.

Fir‘aun membanggakan sungai-sungai Nil yang mengalir di bawah kekuasaannya, tetapi justru ditenggelamkan Allah di laut—wilayah yang tak pernah ia anggap sebagai sumber ancaman.

Mukjizat datang berulang, peringatan hadir berkali-kali, tetapi Fir‘aun menolak i‘tibar. Ia melihat tanda-tanda, namun menolak menyeberangkan maknanya. Dalam logika Qur’ani, Fir‘aun bukan kekurangan bukti, tetapi kelebihan kesombongan 

Pola Qur’ani yang Berulang

Dari ‘Ad, Tsamud, hingga Fir‘aun, Al-Qur’an menunjukkan pola yang konsisten: nikmat dan kekuatan diberikan, kesombongan tumbuh, pelajaran diabaikan, kerusakan dinormalisasi,dan kehancuran menjadi akhir.

Pola ini tidak berhenti di masa lalu. Ia berulang dalam sejarah manusia dengan nama dan kemasan berbeda.

Romawi: Imperium yang Lelah dari Dalam

Sejarawan mencatat bahwa runtuhnya Kekaisaran Romawi bukan semata akibat serangan barbar, tetapi karena kelelahan internal. Ekspansi berlebihan, eksploitasi tanah dan tenaga kerja, ketimpangan ekstrem, serta krisis moral membuat imperium itu rapuh.

Edward Gibbon (The History of the Decline and Fall of the Roman Empire ) dan Joseph Tainter (The Collapse of Complex Societies) menunjukkan bahwa kompleksitas yang tak terkendali dan hilangnya etika publik mempercepat keruntuhan. Romawi memiliki ‘ibrah berlimpah—krisis demi krisis—tetapi gagal melakukan i‘tibar. Mereka tidak belajar bahwa kekuasaan tanpa keadilan adalah bom waktu.

Peradaban Maya: Ekologi yang Diabaikan

Studi arkeologi modern menunjukkan bahwa runtuhnya peradaban Maya berkaitan erat dengan deforestasi, degradasi tanah, dan pengelolaan air yang buruk. Elite politik tetap hidup mewah meski tanda-tanda krisis ekologis semakin nyata.

Mereka memiliki pengetahuan astronomi dan teknik yang tinggi, tetapi gagal belajar dari alamnya sendiri. Ini mempertegas satu hal: pengetahuan teknis tanpa kesadaran etis tidak cukup menyelamatkan peradaban.

Revolusi Industri dan Krisis Global

Revolusi Industri membawa kemajuan luar biasa, tetapi juga melahirkan paradigma eksploitatif: alam sebagai bahan baku tak terbatas. Polusi, krisis kesehatan, dan kerusakan lingkungan dianggap “biaya pembangunan”.

Hari ini, degradasi lingkungan global adalah buah dari kegagalan kolektif mengambil pelajaran. Data ilmiah berlimpah, peringatan ilmuwan jelas, tetapi kebijakan seringkali tetap tunduk pada logika pertumbuhan jangka pendek. Ini adalah ciri klasik bangsa yang tak belajar: mengetahui, tetapi tidak mengubah arah.

Krisis Syukur sebagai Akar Masalah

Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya orang berilmu yang benar-benar bersyukur (QS Al-‘Ankabut: 43). Ilmu di sini bukan sekadar informasi, tetapi kesadaran akan keterhubungan: antara manusia dan alam, antara kebijakan dan dampak, antara nikmat dan tanggung jawab.

Krisis syukur membuat nikmat dianggap hak mutlak, bukan amanah. Dari sinilah lahir ketidakadilan sosial. Harta menumpuk di segelintir tangan, sementara kerusakan ekologis ditanggung bersama. Ketika syukur mati, zakat dianggap beban, keadilan dianggap ancaman, dan keberlanjutan dianggap penghambat pertumbuhan.

Kita di Persimpangan yang Sama

Hari ini, kita hidup di tengah limpahan data, teknologi, dan peringatan. Namun pertanyaannya sederhana,apakah kita belajar? ataukah kita sekadar mengumpulkan ‘ibrah tanpa i‘tibar?

QS Al-A‘raf bukan surat nostalgia sejarah, melainkan cermin peradaban. Ia memaksa kita bercermin dan bertanya: apakah kita sedang mengulangi pola yang sama dengan dalih yang lebih modern?

Refleksi

Krisis ekologi dan ketidakadilan sosial bukanlah kebetulan sejarah, melainkan akibat logis dari kegagalan kolektif mengambil pelajaran. Bangsa yang tak belajar akan terus mengulang kesalahan, sampai nikmat dicabut dan peringatan berubah menjadi penyesalan. Ketika i‘tibar ditolak, syukur mati—dan bersama itu, bumi serta keadilan ikut dikorbankan.

Keberlanjutan bangsa hanya mungkin terjaga bila kita mau belajar dari sejarah, menerjemahkan syukur sebagai amanah, dan menumbuhkannya dalam kebijakan serta amal shaleh lintas generasi.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kegagalan belajar dari kelimpahan yang dimilikinya. Ketika nikmat diperlakukan sebagai hak mutlak, bukan amanah, syukur kehilangan makna, dan kehancuran hanya menunggu waktu—persis seperti bangsa-bangsa yang disebut Al-Qur’an: melihat tanda-tanda, tetapi menolak mengambil pelajaran.

Keberlanjutan bangsa hanya mungkin terjaga bila kita mau belajar dari sejarah! Dan  tentu kita meyakini, bangsa kita mampu sebagai bangsa pembelajar. Insyaa Allah.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |