Good Health ala Islam, Belajar dari Puasa Ramadhan

7 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Shaum (Puasa) Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual tahunan, tetapi juga sebagai model kesehatan holistik dalam perspektif Islam. Ketua Umum Rumah Aktivis Institute, Andri Nurkamal menegaskan, puasa mengandung prinsip-prinsip mendasar yang sejalan dengan konsep good health and well-being.

Dalam kajiannya, Andri menjelaskan, Islam sejak awal menempatkan persoalan konsumsi sebagai bagian dari pembentukan kualitas manusia. Aktivitas makan dan minum tidak dipahami sekadar proses biologis, melainkan ruang etika yang berdampak langsung terhadap kondisi fisik, mental, dan spiritual.

“Syariat Islam tidak hanya mengatur apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana, kapan, dan sejauh mana konsumsi dilakukan. Kesehatan dalam Islam adalah hasil dari tata kelola diri yang bermoral,” ujar Andri di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Ia merujuk pada firman Allah SWT dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa yang bertujuan membentuk ketakwaan. Menurutnya, tujuan takwa tersebut merepresentasikan kemampuan pengendalian diri, termasuk dalam mengatur dorongan konsumsi.

“Puasa adalah mekanisme pedagogis yang melatih manusia mengendalikan dorongan instingtif. Dalam konteks modern yang serba konsumtif, ini sangat relevan,” ucapnya.

Andri menambahkan, prinsip kemudahan dalam berpuasa ditegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yang menyatakan Allah menghendaki kemudahan, bukan kesukaran. Artinya, shaum tidak dimaksudkan sebagai praktik yang merusak tubuh, melainkan penataan ulang relasi manusia dengan konsumsi secara seimbang.

Ia juga mengutip hadis riwayat at-Tirmidzi tentang anjuran membagi kapasitas perut menjadi tiga bagian, yaitu untuk makanan, minuman, dan napas. Menurutnya, prinsip ini menjadi fondasi etika konsumsi yang sangat relevan dengan meningkatnya prevalensi obesitas, diabetes, dan gangguan metabolik akibat gaya hidup berlebihan.

Dalam perspektif hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menyebut mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Andri menilai, kekuatan fisik dan kesehatan jasmani memiliki nilai normatif dalam Islam, sehingga puasa berkontribusi membentuk tubuh yang lebih adaptif dan terkendali.

Dimensi protektif puasa ditegaskan pula dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai. “Puasa melatih stabilitas emosi dan pengendalian perilaku. Ini berpengaruh langsung terhadap kesehatan mental dan manajemen stres,” katanya.

Aspek ketenangan batin sebagai bagian dari kesejahteraan juga ditegaskan dalam Alquran surat Ar-Ra'd ayat 28 yang menyebutkan bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Intensifikasi ibadah selama Ramadhan, menurut Andri, menciptakan kondisi psikologis yang mendukung keseimbangan fisiologis tubuh.

Ia menegaskan, Islam juga melarang segala bentuk praktik yang membahayakan diri, sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 195 tentang larangan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Karena itu, puasa tidak boleh dipahami sebagai penyiksaan diri, melainkan sarana pembentukan relasi sehat antara manusia, tubuh, dan konsumsi.

Dalam konteks pembangunan global, Andri menilai prinsip shaum Ramadhan memiliki resonansi kuat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ketiga tentang Good Health and Well-Being. Namun, dalam Islam, kesehatan bukan sekadar target kebijakan, melainkan konsekuensi etis dari ketaatan pada prinsip moderasi dan pengendalian diri.

“Good health ala Islam lahir dari kesadaran spiritual, disiplin diri, dan komitmen terhadap moderasi. Shaum Ramadhan adalah model preventif yang telah diajarkan jauh sebelum diskursus kesehatan modern berkembang,” jelas Andri.

Di tengah meningkatnya penyakit tidak menular akibat pola hidup konsumtif, ia menilai puasa Ramadhan menghadirkan fondasi etis yang kokoh bagi pembentukan masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |