Wisnu Aji Nugroho
Hospitality | 2026-07-21 16:51:40
Ini adalah tulisan pertama saya di Retizen.
Saya memulainya bukan karena merasa memiliki jawaban atas berbagai persoalan pembangunan, melainkan karena ingin mengajak pembaca berbagi sebuah pengamatan. Beberapa waktu terakhir saya mencoba meluangkan waktu membaca berbagai dokumen mengenai perkembangan negara-negara di Timur Tengah. Di antara semuanya, satu dokumen yang paling menarik perhatian saya adalah Qatar National Vision 2030.
Saya tidak sedang mencari informasi mengenai investasi atau peluang kerja. Yang ingin saya pahami justru lebih sederhana: bagaimana sebuah negara mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan yang terus berubah.
Semakin saya membaca, semakin saya menyadari bahwa kekuatan utama visi tersebut bukan terletak pada besarnya proyek pembangunan ataupun kemajuan teknologinya. Yang menarik justru urutan cara berpikirnya. Qatar menempatkan Human Development sebagai pilar pertama, diikuti Social Development, Economic Development, dan Environmental Development. Urutan ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa manusia bukan pelengkap pembangunan, melainkan fondasi utama dari seluruh proses pembangunan nasional.
Bagi saya, cara pandang ini menarik untuk direnungkan di Indonesia.
Selama ini kita sering mengukur kemajuan dari bertambahnya investasi, tumbuhnya kawasan industri, atau meningkatnya berbagai indikator ekonomi. Semua itu tentu penting. Namun pengalaman Qatar menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan memerlukan investasi yang sama seriusnya pada pendidikan, kesehatan, pengembangan keterampilan, riset, dan kualitas sumber daya manusia. Dalam visi tersebut, pengembangan tenaga kerja yang kompeten, inovatif, dan mampu beradaptasi menjadi bagian penting dari strategi pembangunan jangka panjang.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, jika sebuah negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil begitu serius mempersiapkan manusianya, bagaimana dengan Indonesia yang memiliki bonus demografi dan salah satu populasi terbesar di dunia?
Pertanyaan itu membawa saya melihat hubungan Indonesia dan Qatar dari sudut pandang yang berbeda.
Selama ini hubungan kedua negara lebih sering diberitakan melalui kerja sama ekonomi, perdagangan, atau investasi. Padahal, di balik menguatnya hubungan tersebut terdapat peluang lain yang tidak kalah penting, yaitu mobilitas talenta. Ketika sebuah negara memperluas sektor pariwisata, layanan profesional, pendidikan, kesehatan, dan industri jasa, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi internasional juga akan meningkat.
Di sinilah saya melihat peluang bagi Indonesia.
Qatar National Vision 2030 menjelaskan bahwa diversifikasi ekonomi diarahkan untuk membangun sektor-sektor baru yang lebih berkelanjutan melalui penguatan sektor swasta, inovasi, investasi, serta pengembangan industri dan jasa berbasis pengetahuan. Dokumen tersebut juga menempatkan daya saing, kewirausahaan, tata kelola yang baik, dan keterbukaan terhadap investasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional.
Salah satu sektor yang berkembang seiring arah kebijakan tersebut adalah hospitality.
Ketika sebuah negara memperkuat pariwisata, memperluas penyelenggaraan berbagai kegiatan internasional, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik, kebutuhan terhadap tenaga profesional ikut berkembang. Hotel membutuhkan pengelola operasional yang andal. Restoran memerlukan pemimpin tim yang memahami standar pelayanan internasional. Maskapai penerbangan, pusat konvensi, perusahaan katering, hingga industri perjalanan membutuhkan manusia yang mampu bekerja dalam lingkungan yang semakin multikultural.
Saya percaya Indonesia memiliki modal yang baik untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Keramahan telah lama menjadi bagian dari identitas bangsa kita. Industri pariwisata Indonesia juga telah melahirkan banyak profesional yang berpengalaman. Berbagai sekolah vokasi dan perguruan tinggi di bidang pariwisata terus menghasilkan lulusan setiap tahun. Modal budaya dan pengalaman ini merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua negara.
Namun, modal tersebut perlu terus diperkuat. Dunia kerja internasional tidak hanya menilai keramahan, tetapi juga kompetensi, kemampuan berbahasa asing, sertifikasi profesi, literasi digital, disiplin, dan kemampuan bekerja dalam lingkungan yang beragam. Persaingan hari ini bukan lagi antarnegeri, melainkan antar-talenta.
Sebagai masyarakat Jawa Barat, saya juga melihat daerah ini memiliki potensi yang besar. Jawa Barat selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi penting dalam penempatan pekerja migran Indonesia. Di sisi lain, provinsi ini memiliki jaringan pendidikan, industri, serta sekolah pariwisata yang terus berkembang. Potensi tersebut menurut saya layak diarahkan agar semakin banyak talenta Indonesia yang tidak hanya bekerja di luar negeri, tetapi juga dipercaya mengisi posisi-posisi profesional dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Di sinilah saya merasa istilah pekerja migran perlahan perlu kita lengkapi dengan cara pandang baru, yaitu talenta global Indonesia. Perubahan istilah ini bukan sekadar persoalan bahasa. Perubahan tersebut mencerminkan perubahan cara kita mempersiapkan sumber daya manusia, dari sekadar memenuhi kebutuhan pasar kerja menjadi membangun profesional yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar yang saya peroleh dari Qatar bukanlah tentang besarnya investasi atau megahnya pembangunan fisik. Pelajaran terbesarnya adalah keberanian menempatkan manusia sebagai investasi jangka panjang. Ketika manusia dipersiapkan dengan baik, ekonomi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan bahwa tulisan ini hanyalah awal dari sebuah perjalanan belajar. Saya tidak sedang menawarkan resep pembangunan, apalagi mengklaim bahwa apa yang dilakukan Qatar dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Setiap negara memiliki sejarah, budaya, dan tantangannya masing-masing. Namun saya percaya, selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil dari pengalaman bangsa lain.
Melalui Retizen, saya berharap dapat terus berbagi catatan mengenai berbagai praktik pembangunan, kepemimpinan, tata kelola, pengembangan talenta, dan transformasi ekonomi dari berbagai negara. Harapan saya sederhana, semoga setiap tulisan dapat menjadi ruang untuk berdiskusi, saling belajar, dan bersama-sama mencari gagasan yang relevan bagi masa depan Indonesia.
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tulisan pertama saya. Saya akan sangat menghargai setiap masukan, koreksi, maupun sudut pandang baru dari para pembaca. Bagi saya, setiap dialog adalah bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
7






































