Laporan Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Istanbul, Turki
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL – Panitia Global Sumud Flotilla mengungkap dugaan kekerasan berat yang dialami para peserta misi kemanusiaan tersebut setelah ditahan aparat Israel. Selain penghinaan dan kekerasan fisik, dilaporkan terjadi kasus pelecehan seksual hingga pemerkosaan.
Jurnalis Republika Bambang Noroyono yang ikut diculik mengungkapkan, ada sekitar 20 peserta yang dimintai keterangan di Istanbul soal terjadinya pemerkosaan terhadap para aktivis. “Perempuan dan laki-laki korbannya,” kata dia melaporkan dari Istanbul, semalam.
Ia menuturkan, seluruh peserta mengalami penggeledahan tanpa busana oleh pasukan Israel setelah dibawa ke Pelabuhan Ashdod kemudian ke Penjara Ketziot di wilayah yang diduduki Israel. Pada saat itu terjadi banyak pelecehan seksual oleh aparat Israel.
Menurutnya, korban pelecehan tersebut tak sedikit dari negara-negara Eropa yang selama ini menjadi sekutu Israel. Sementara kekerasan verbal selama prosesi ini dialami kebanyakan peserta yang diculik Israel. Bambang Noroyono mengalami kekerasan verbal tersebut namun tak sampai kekerasan seksual secara fisik.
Luca Poggi, seorang ekonom Italia yang ditahan di armada tersebut, mengatakan kesaksian serupa kepada kantor berita Reuters. "Kami ditelanjangi, dilempar ke tanah, ditendang. Banyak dari kami disetrum, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa tidak diberi akses ke pengacara."
Pihak Global Sumud Flotilla menyatakan kelompoknya telah mendokumentasikan sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual. Dugaan kekerasan paling parah disebut terjadi di salah satu kapal pendarat milik Israel yang diubah menjadi penjara darurat menggunakan kawat berduri dan kontainer pengiriman barang.
Mereka dilaporkan mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk hingga sejumlah kasus pemerkosaan. “Sedikitnya 12 kekerasan seksual didokumentasikan hanya di salah satu kapal saja, termasuk pemerkosaan anal dan penetrasi paksa menggunakan pistol,” demikian pernyataan tersebut.
Pernyataan itu dirilis setelah otoritas lembaga pemasyarakatan Israel secara menyeluruh membantah tuduhan perlakuan buruk, pemerkosaan, dan kekerasan seksual. Kantor berita Reuters menyatakan telah menyampaikan rincian tambahan tuduhan tersebut kepada pihak penjara Israel, namun hingga Jumat malam waktu setempat—yang merupakan hari libur di Israel—belum ada tanggapan resmi diberikan.
Jurnalis Republika Thoudy Badai menuturkan ia bersama peserta lainnya yang diculik dari kapal-kapal mereka dilempar ke dalam kontainer gelap lalu dipukuli pada bagian kepala dan tulang rusuk. Mereka dipaksa menempati salah satu sudut kontainer saja.
Thoudy mengira-ngira mereka di penjara terapung selama dua hari. Kerap kali, para peserta dibiarkan kelaparan. Roti-roti yang kemudian diberikan tentara IDF, biasanya diawali penganiayaan. “Sebelum kasih roti mereka pasti melepaskan tembakan dulu untuk menakut-nakuti,” kata Thoudy.
Ia mengatakan, mengalami berulang kali pemukulan. Salah satu pukulan menghantam dadanya, membuat dia tergeletak kesulitan bernapas. “Mungkin karena takut saya mati tentara IDF mulai mengevakuasi kami,” ia melanjutkan kisahnya.
Kondisi para peserta Global Sumud Flotilla yang diculik Israel setibanya di Pelabuhan Ashdod, Rabu (20/5/2026).
Kesaksian Thoudy selaras dengan penuturan seorang aktivis asal Spanyol, Mi Hoa Lee. Ia mengatakan dirinya dipaksa masuk ke dalam kontainer gelap di kapal tersebut. Dalam wawancara video yang disertakan dalam pernyataan flotilla, ia mengaku mengalami penyiksaan fisik berat.
“Empat pria mulai memukuli wajah saya ke dinding. Saya terjatuh lalu berdiri lagi, jatuh lagi ke lantai, berdiri lagi, lalu mereka mulai menyetrum saya dengan taser selama lebih dari satu menit,” ujarnya sambil menunjuk bagian tulang rusuk, pinggul, dan punggung tempat ia mengaku disetrum.
“Mereka terus memukuli saya sampai saya hampir kehilangan kesadaran,” tambahnya.
Aktivis Italia, Ilaria Mancosu, kepada Reuters mengatakan anggota flotilla dipindahkan dari kapal mereka ke dua kapal yang disebut sebagai “kapal penjara”. Menurut dia, tahanan yang ditempatkan di salah satu kapal mengalami kekerasan lebih berat dibanding lainnya.
Mereka disebut dikunci di dalam kontainer dan dipukuli lima tentara hingga mengalami patah tulang rusuk dan lengan. Sejumlah tahanan juga mengalami luka serius pada mata dan telinga akibat penggunaan taser.
Ilaria mengatakan para tahanan menghabiskan dua hari di kapal penjara tanpa air mengalir. Mereka menggunakan kardus dan plastik untuk menghangatkan tubuh pada malam hari karena tidak diberi selimut dan sebagian besar pakaian mereka dilucuti.
Setelah dibawa ke daratan, mereka dipaksa berlutut selama berjam-jam. Jika bergerak atau berbicara, mereka disebut ditendang dan didorong. Para tahanan kemudian dipindahkan ke penjara, di mana mereka terus dipindah-pindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain agar tidak bisa tidur.

16 hours ago
9















































