Kremlin Bocorkan Agenda Kunjungan Putin ke Beijing Berjumpa Xi Jinping

12 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kremlin menyatakan memiliki ekspektasi besar terhadap kunjungan resmi Presiden Rusia Vladimir Putin ke China dalam waktu dekat. Moskow berharap pertemuan tersebut dapat semakin memperkuat hubungan strategis sekaligus memperluas kerja sama ekonomi kedua negara.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Putin saat ini tengah mempersiapkan kunjungan tersebut bersama delegasi besar yang terdiri atas wakil perdana menteri, para menteri, hingga pimpinan perusahaan Rusia.

“Saya dapat mengatakan bahwa kami memiliki harapan yang sangat serius,” kata Peskov kepada wartawan, Senin.

Menurut Peskov, berbagai isu ekonomi yang menjadi bagian penting hubungan Rusia–China akan dibahas secara mendalam selama kunjungan berlangsung. Agenda itu mencakup penguatan perdagangan, investasi, energi, serta kerja sama strategis di berbagai sektor lainnya.

Ia menegaskan setiap pertemuan antara Putin dan Presiden China Xi Jinping selalu memberi dorongan baru bagi perkembangan hubungan bilateral kedua negara.

“Kami mengembangkan hubungan independen dan sangat beragam dengan China, yang kami sebut sebagai kemitraan strategis istimewa dan khusus,” ujar Peskov.

Menurut Kremlin, hubungan Rusia dan China saat ini terus berkembang di berbagai bidang, mulai dari ekonomi dan energi hingga geopolitik internasional. Kedua negara juga semakin aktif memperkuat koordinasi di tengah meningkatnya ketegangan global dan rivalitas dengan Barat.

Putin dan Xi Jinping Semakin Erat?

Hubungan Rusia dan China dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya dibangun oleh kepentingan negara semata, tetapi juga ditopang oleh kedekatan personal antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping. Kedua pemimpin kerap menunjukkan chemistry politik yang kuat dalam berbagai pertemuan internasional maupun kunjungan bilateral. Hubungan personal tersebut turut mempercepat koordinasi politik dan memperkuat rasa saling percaya di antara kedua negara.

Putin dan Xi memiliki sejumlah kesamaan cara pandang dalam melihat dunia internasional. Keduanya sama-sama menolak dominasi tunggal Barat dan mendorong lahirnya tatanan dunia multipolar yang memberi ruang lebih besar bagi kekuatan non-Barat. Rusia dan China juga memiliki kepentingan bersama untuk mengurangi tekanan geopolitik dari Amerika Serikat dan sekutunya, baik dalam bidang ekonomi, keamanan, maupun teknologi.

Tekanan Barat menjadi faktor lain yang mempererat hubungan keduanya. Sanksi ekonomi terhadap Rusia akibat perang Ukraina serta meningkatnya rivalitas dagang dan teknologi terhadap China membuat Moskow dan Beijing merasa menghadapi tantangan strategis yang serupa. Dalam situasi tersebut, kedua negara semakin aktif membangun koordinasi diplomatik dan kerja sama ekonomi untuk memperkuat posisi masing-masing di panggung global.

Selain itu, Putin dan Xi sama-sama memimpin dengan model pemerintahan yang menekankan stabilitas politik dan kontrol negara yang kuat. Faktor ini membuat komunikasi politik keduanya relatif lebih stabil dan konsisten dibanding hubungan dengan negara-negara Barat yang sering berubah mengikuti dinamika politik domestik. Karena itu, hubungan Rusia–China saat ini berkembang bukan hanya sebagai kerja sama pragmatis, tetapi mulai bergerak menjadi kemitraan strategis jangka panjang.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |