Laporan Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Marmaris, Turki.
REPUBLIKA.CO.ID, MARMARIS -- Dua pemimpin pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 Thiago Avila dan Saif Abuleshek dalam proses deportasi ke negara asal. Keputusan tersebut setelah otoritas penjajahan Zionis Israel melakukan penawanan selama 10 hari terhadap aktivis kemanusian asal Brasil, dan Palestina tersebut.
Anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla Maimon Herawati di Marmaris, Turki menyampaikan Zionis Israel mendeportasi Thiago ke Brasil melalui Mesir. "Thiago jalan darat ke Mesir, lalu di sana ke Brasil," begitu kata Maimon kepada Republika, Ahad (10/5/2026). Thiago, bukan sekali ini ditawan oleh zionis lantaran aktivitasnya dalam misi pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla.
Pada konvoi laut akbar menembus blokade Gaza, Global Sumud Flotilla dari Tunisia 2025 lalu, angkatan laut Zionis Israel juga melakukan penculikan terhadapnya saat memimpin kapal-kapal kemanusian melintasi perairan internasional Laut Mediterania. Ketika itu, Thiago juga dipaksa zionis untuk masuk ke sel tahanan, lalu dideportasi ke Brasil melalui Yordania. Kali ini, pendeportasian Thiago melalui Mesir.
Adapun Saif, yang merupakan aktivis kemanusian kelahiran Palestina, dideportasi ke Spanyol melalui Yunani. "Saif akan dipulangkan ke Yunani untuk selanjutnya ke Madrid (Spanyol)," sambung Maimon. Meskipun berasal dari Nablus, Palestina, Saif sejak lama menjadi diaspora dan berkewarganegaraan Eropa di Spanyol juga Swedia. Thiago dan Saif kali ini memegang komando pelayaran Global Sumud Flotilla 2026.
Pelayaran kemanusian untuk membantu masyarakat Gaza di Palestina itu, tahun ini mengambil Barcelona sebagai titik awal angkat jangkar serempak menembus blokade Gaza. Pelayaran pertama digelar di Barcelona pada 12 April 2026 lalu, dengan memberangkatkan sebanyak 30-an kapal. Sebelum pelayaran itu, armada Freedom Flotilla Coalition dan Thousand Madleens dari Pelabuhan Marseilles, Prancis juga berlayar dengan 20-an kapal.
Pada misi kemanusian menembus blokade Gaza kali ini, juga disertai dengan kapal besar Artic Sunrise dari Greenpeace, dan Kapal OpenArms dari Spanyol. Kapal-kapal kemanusian itu, melintasi perairan internasional di Laut Mediterania menuju Gaza. Saat pelayaran tiba di perairan Sisilia, Italia juga bergabung armada tambahan sekitar 27-an kapal. Jika ditotal, lebih dari 76 kapal-kapal kemanusian yang akan berlayar menembus blokade Gaza.
Namun pada 29 April 2026, ketika armada kemanusian itu melintasi perairan internasional di sisi timur Pulau Kreta, Yunani, tentara angkatan laut Zionis Israel melakukan penyerangan. Sekitar 22 kapal-kapal kemanusian mengalami pembajakan dan perusakan. Tentara penjajahan itu juga melakukan penculikan terhadap 178 aktivis dan relawan dari berbagai warga negara yang ikut dalam misi pelayaran itu. Zionis melakukan beragam kekerasan, bahkan pelecehan saat pembajakan dan penculikan para aktivis itu.
Sebanyak 176 para relawan dan aktivis yang diculik, diserahkan ke otoritas Yunani untuk dilakukan penahanan dan deportasi. Zionis Israel hanya membawa Thiago dan Saif ke tanah penjajahan di Palestina untuk diadili dan diintrogasi. Thiago dan Saif dibawa ke sel penjara isolasi di Shikma. Selama dalam penawanan, Thiagobdan Saif mengalami ragam penyiksaan fisik, dan psikologis. Tentara zionis mengintrogasi keduanya secara terpisah selama delapan jam setiap hari.
Zionis Israel juga tak membiarkan Thiago dan Saif istirahat tidur karena di dalam sel isolasi yang terpisah keduanya berada dalam ruangan dengan lampu sangat terang, dan kondisi udara yang sengaja didinginkan secara ekstrim. Selama dalam tawanan, Thiago dan Saif melakukan mogok makan. Baru-baru ini, sebelum dibebaskan, Thiago dan Saif juga melakukan mogok minum.
Pelanggaran hukum internasional
Adalah, yang menjadi tim advokasi Global Sumud Flotilla menyampaikan, meskipun Zionis Israel sudah membebaskan Thiago dan Saif bukan berarti masalah pelanggaran hak asasi yang dipraktikkan otoritas penjajahan hapus. Adalah menegaskan tetap meminta badan-badan internasional, dan negara-negara berdaulat tetap menyampaikan ketegasannya atas beragam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Zionis Israel.
Adalah mengatakan, Zionis Israel masih merupakan entitas pelanggar hukum internasional. Mulai dari melakukan pembajakan kapal-kapal kemanusian Global Sumud Flotilla di perairan internasional di dekat Pulau Kreta, Yunani. Zionis juga melakukan penculikan terhadap ratusan aktivis dan relawan pelayaran Global Sumud Flotilla. Penculikan tersebut, dikatakan Adalah juga disertai dengan beragam pelanggaran lain berupa kekerasan bahkan pelecehan seksual.
Dalam penculikan yang dilakukan zionis terhadap Thiago dan Saif juga disertai dengan ancaman. Selama berada tahanan sejak Rabu (29/5/2026) zionis mengancam pembunuhan terhadap Thiago dan Saif. Keduanya juga diancam bakal dipenjara selama 100 tahun. Di dalam sel penawanan, Thiago dan Saif juga mengalami beragam model penyiksaan saat introgasi. Paling penting, menurut Adalah, pelanggaran internasional yang dilakukan Zionis Israel terhadap Palestina.
Adalah menegaskan, Zionis Israel hingga kini masih terus melanggengkan penjajahan di Palestina. Zionis Israel juga masih gencar melakukan pembunuhan dengan sengaja terhadap warga biasa di Gaza. Kebijalan apertheid, dan pemblokadean yang dilakukan Zionis Israel terhadap jutaan warga di Gaza, menurut Adalah harus tetap dianggap sebagai kejahatan kemanusian yang harus dihentikan segera.
Karena itu, Global Sumud Flotilla tetap menjalankan misi sipilnya untuk kemanusian. Pada Ahad (10/5/2026) dini hari, sekitar 32 kapal-kapal Sumud Flotilla yang sepekan terakhir bertahan di perairan Yunani, sudah tiba di Dermaga Albatros, Marmaris, Turki. 32 kapal-kapal kemanusian tersebut, merupakan sisa dari 56 armada kemanusian Sumud Flotilla yang menjadi target penyerangan dan pembajakan tentara laut penjajahan pada Rabu (29/4/2026) lalu.
Armada dari Yunani itu, masuk ke perairan Turki bagian selatan melalui sisi barat Pulau Rhodes, Yunani dengan penjemputan sebanyak 10 kapal-kapal kemanusian dari Marmaris. Saat ini, di Dermaga Albatros, Marmaris, Turki terdapat sekitar 57 kapal-kapal kemanusian yang siap melanjutkan misi Global Sumud Flotilla untuk menembus blokade Gaza. Misi tersebut bermaksud membuka koridor kemanusian, sekaligus mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan, air bersih, susu dan perlengkapan bayi untuk masyarakat di Gaza.

11 hours ago
6















































