REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Negosiasi awal antara Spanyol dan Turki mengenai jet tempur generasi kelima KAAN di ajang SAHA Expo 2026 berkembang menjadi salah satu manuver geopolitik pertahanan paling strategis di NATO. Pembicaraan itu tidak sekadar menyangkut transaksi militer, melainkan membuka babak baru dalam persaingan pengaruh teknologi tempur udara di jantung aliansi Atlantik.
CEO Turkish Aerospace Industries (TUSAS), Mehmet Demiroglu, mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara Spanyol telah meminta informasi resmi mengenai KAAN. Menurut dia, komunikasi antarpemerintah kini memasuki tahap penjajakan awal yang melibatkan evaluasi teknis dan politik.
Langkah Madrid dinilai sangat signifikan karena muncul setelah Spanyol menangguhkan jalur akuisisi F-35 buatan Amerika Serikat pada Agustus 2025. Penundaan program Future Combat Air System (FCAS) Eropa hingga dekade 2040-an membuat Spanyol menghadapi kekosongan kemampuan udara siluman di tengah penuaan armada F/A-18 Hornet dan AV-8B Harrier.
Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol juga semakin kritis terhadap ketergantungan teknologi militer pada Washington. Pemerintah Madrid disebut keberatan terhadap kontrol ITAR Amerika Serikat yang membatasi akses perangkat lunak, integrasi persenjataan, hingga fleksibilitas operasional nasional pada platform F-35. Di kalangan pertahanan Spanyol, F-35 bahkan mulai dipandang sebagai “kotak hitam” yang terlalu bergantung pada kendali teknologi Amerika.
Media Spanyol, El Espanol mencatat bahwa F-35, satu-satunya pesawat tempur generasi kelima Barat yang saat ini tersedia, tidak menawarkan transfer teknologi kepada mitra, kecuali kepada Israel.
Semua operator F-35 lainnya tidak dapat mengintegrasikan sistem mereka sendiri ke dalam pesawat, dan platform tersebut membutuhkan layanan yang hanya dapat disediakan oleh Amerika Serikat untuk kemampuan operasional penuh. Dalam skenario gesekan diplomatik atau masa perang, ketergantungan ini dapat membuat pesawat tidak dapat beroperasi.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Turki untuk masuk ke pasar strategis Eropa melalui KAAN. Ankara menawarkan kombinasi pesawat tempur siluman generasi kelima, fleksibilitas integrasi subsistem, partisipasi industri lokal, serta skema transfer teknologi yang lebih terbuka dibanding platform Barat, sebagaimana diberitakan Turkiye Today dan sejumlah media asing pada Kamis (7/5/2026).
Program KAAN sendiri kini berkembang menjadi simbol kebangkitan industri dirgantara strategis Turki. Pesawat itu dirancang memiliki karakteristik utama jet generasi kelima seperti desain siluman, internal weapons bay, sensor fusion, peperangan berbasis jaringan, hingga kemampuan supercruise. Program tersebut dipercepat Ankara setelah Turki dikeluarkan dari konsorsium F-35 akibat pembelian sistem pertahanan udara Rusia S-400 yang memicu sanksi Amerika Serikat.
Keberhasilan penerbangan perdana KAAN mengubah persepsi banyak analis Barat yang sebelumnya meragukan kemampuan Turki mengembangkan jet tempur generasi kelima secara mandiri. Ankara kini mempercepat pengembangan ekosistem tempur udara nasional mulai dari drone KIZILELMA, ANKA, Hürjet, hingga KAAN sebagai tulang punggung kekuatan udara masa depan Turki.
Minat terhadap KAAN juga mulai muncul dari sejumlah negara di luar Eropa, termasuk Indonesia. Republika.co.id sebelumnya melaporkan Indonesia resmi menandatangani rencana pembelian 48 unit KAAN dalam ajang IDEF 2025 di Istanbul. Kesepakatan itu menjadi kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah industri militer Turki sekaligus memperlihatkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap program KAAN.

23 hours ago
16















































