Sebuah bilboard ukuran raksasa merujuk pada Selat Hormuz dengan teks berbahasa Persia yang artinya
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, negaranya tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama kapal Angkatan Laut AS masih melakukan blokade di wilayah perairan tersebut. Dia mengatakan, tindakan militer AS merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui kedua negara.
"Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata," kata Ghalibaf lewat akun X pribadinya, Rabu (22/4/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Hal itu disampaikan Ghalibaf saat AS dan Iran sedang berupaya menggelar kembali negosiasi putaran kedua. Pada Selasa (21/4/2026), Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan. Langkah tersebut diambil Trump hanya beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran berakhir.
New York Post, mengutip sejumlah sumber di pemerintahan Pakistan, melaporkan, negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran dapat berlangsung di Islamabad dalam tiga hari ke depan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif diketahui menjadi mediator dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang disetujui pada 7 April 2026 lalu.
"Itu mungkin," kata Trump saat dikonfirmasi New York Post soal apakah benar negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran bakal berlangsung di Pakistan dalam tiga hari ke depan.
Sesi pembicaraan pertama antara Washington dan Teheran 11 hari lalu tidak membuahkan kesepakatan. Negosiasi berlangsung alot ketika membahas soal program nuklir Iran.
Dalam perundingan tersebut, AS menghendaki Iran menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya miliknya. AS beralasan, tindakan tersebut dibutuhkan agar Iran tak melakukan pengayaan lebih lanjut hingga mencapai titik material itu dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Iran menolak permintaan AS. Teheran menegaskan, mereka hanya memiliki program nuklir sipil bertujuan damai dan hak kedaulatan untuk melanjutkannya sebagai penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.
Iran menginginkan agar perang dapat berakhir. Namun, Iran pun menuntut agar sanksi terhadapnya dicabut dan terdapat pembayaran ganti rugi yang ditimbulkan akibat perang. Selain itu, Teheran meminta adanya pengakuan soal kontrol mereka atas Selat Hormuz.
Pada 7 April 2026, Iran dan AS menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan itu tercapai melalui mediasi yang ditengahi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Lewat kesepakatan tersebut, AS setuju menghentikan serangannya terhadap Iran. Sebagai gantinya, Iran harus membuka akses Selat Hormuz. Keputusan Teheran membatasi secara ketat lalu lintas kapal di selat tersebut telah melambungkan harga minyak dunia.
Iran setuju untuk membuka Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Namun lalu lintas kapal di perairan tersebut tetap harus dikoordinasikan oleh militer Iran.
Iran turut mengajukan 10 poin proposal gencatan senjata kepada AS. Isinya antara lain pencabutan sanksi dan pelepasan dana serta aset milik Iran yang dibekukan AS, pembayaran penuh kompensasi untuk biaya rekonstruksi akibat perang, dan penghentian total serangan, tidak hanya ke Iran, tapi juga Irak, Lebanon, serta Yaman.
Berita Lainnya

11 hours ago
8












































