BI Rate Naik, Begini Strategi Bank BUMN Jaga Kredit

17 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) mulai direspons perbankan nasional dengan menjaga penyaluran kredit tetap stabil, terutama untuk sektor perumahan dan UMKM. Langkah tersebut dinilai penting agar aktivitas ekonomi domestik tetap tumbuh di tengah tekanan global dan potensi kenaikan biaya dana.

Bank Indonesia sebelumnya menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei 2026. Kebijakan itu ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah dinamika ekonomi global.

Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, keputusan BI dinilai dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka menengah.

“Bank Mandiri menyambut baik keputusan BI karena memperkuat fondasi makroekonomi nasional dalam jangka menengah,” ujar Adhika dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, penyesuaian bunga kredit maupun simpanan akan dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan nasabah, pertumbuhan bisnis, dan pengelolaan risiko.

Hal serupa disampaikan Corporate Secretary Bank Syariah Indonesia (BSI) Wisnu Sunandar. Ia mengatakan, kenaikan BI Rate penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global.

Wisnu menilai kondisi likuiditas perbankan syariah masih cukup kuat. Hingga Maret 2026, dana pihak ketiga BSI tercatat mencapai Rp376,8 triliun atau tumbuh 18 persen secara tahunan, dengan dana murah atau CASA sebesar Rp236,2 triliun.

“Permintaan pembiayaan dari sektor produktif dan konsumsi domestik masih cukup baik, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional tetap memiliki fondasi yang kuat,” kata Wisnu.

BSI memastikan penyaluran pembiayaan tetap berjalan secara selektif dengan menjaga kualitas aset. Hingga Maret 2026, pembiayaan BSI mencapai Rp329 triliun atau tumbuh 14,39 persen secara tahunan dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross sebesar 1,8 persen.

Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) memilih memperkuat dana murah atau current account saving account (CASA) untuk menjaga efisiensi biaya pendanaan.

Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan perseroan telah menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi perubahan kebijakan moneter.

“BTN terus menjaga struktur pendanaan agar tetap efisien melalui penguatan dana murah,” ujar Ramon.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga memastikan pembiayaan UMKM dan sektor produktif tetap berjalan di tengah tekanan global.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan perseroan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan likuiditas. “BRI memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan, khususnya untuk penyaluran kredit UMKM dan sektor produktif,” kata Dhanny.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah dari dampak gejolak global, termasuk tekanan akibat konflik di Timur Tengah.

“Kenaikan ini sebagai langkah untuk memperstabilisasi nilai rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, serta untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027,” ujar Perry.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |