Bukan Sekadar Angka Timbangan: Memahami Dampak Obesitas terhadap Kesehatan Perempuan

7 hours ago 6

Image Safitri

Gaya Hidup | 2026-07-30 20:17:01

Spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto BMedSc Sp.OG dan Associate Director, Medical and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman.

JAKARTA -- Obesitas merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat memengaruhi kesehatan perempuan secara menyeluruh, termasuk kesehatan metabolik, kardiovaskular, mental, dan reproduksi. Melalui diskusi media bertajuk 'The Missing Conversation: Weight and Women’s Health', Novo Nordisk Indonesia mengajak publik memahami dampak obesitas di berbagai fase kehidupan perempuan, termasuk kaitannya dengan kondisi hormonal dan metabolik seperti Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS).

Diskusi ini juga menekankan pentingnya pengelolaan obesitas yang komprehensif, dipersonalisasi, dan berbasis sains. Dimulai dari perubahan gaya hidup hingga pilihan terapi medis sesuai evaluasi tenaga kesehatan. Isu ini menjadi sangat relevan mengingat dampaknya terhadap kualitas hidup perempuan bisa meluas sejak masa remaja hingga pascamenopause.

Di Indonesia, sekitar satu dari empat orang dewasa hidup dengan obesitas, dengan prevalensi pada perempuan yang tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yakni 36,4 persen berbanding 24,4 persen. Guna membedah lebih dalam keterkaitan berat badan dengan berbagai pilar kesehatan tersebut, diskusi ini menghadirkan spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto BMedSc Sp.OG.

"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi, mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan," ujar dokter Cynthia. Karena itu, kata dia, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu berdasarkan evaluasi dokter.

Spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto BMedSc Sp.OG dan Associate Director, Medical and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman.

Lebih lanjut, Cynthia menjelaskan, salah satu contoh keterkaitan obesitas dengan kesehatan reproduksi adalah PMOS, yang sebelumnya dikenal sebagai PCOS (Polycystic Ovary Syndrome). Perubahan nomenklatur ini mencerminkan pemahaman ilmiah bahwa kondisi tersebut bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi merupakan gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks.

PMOS merupakan penyebab tersering gangguan ovulasi, dan sekitar 35–50 persen perempuan dengan kondisi ini juga mengalami obesitas yang memperburuk gejala serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi maupun metabolik. Obesitas dan PMOS pun bisa menyebabkan kondisi yang kompleks.

“Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang,” tambah Cynthia. Karena itu, obesitas perlu mendapat perhatian yang serius.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pendekatan pengelolaan obesitas juga terus berkembang. Penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu, mencakup perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu. Dalam pendekatan ini, perubahan gaya hidup dan terapi medis dipandang sebagai bagian yang saling melengkapi untuk membantu pasien mencapai pengelolaan berat badan yang berkelanjutan.

Salah satu perkembangan dalam tata laksana obesitas adalah hadirnya terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Sesuai evaluasi dokter dan indikasi medis, terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pengelolaan berat badan, sebagai pelengkap perubahan gaya hidup.

Lebih dari sekadar menurunkan angka di timbangan, terapi ini juga mendukung quality weight loss. Di antaranya, penurunan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen, serta memperbaiki parameter kesehatan metabolik lainnya.

Pilihan terapi obesitas perlu ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan individual pasien oleh dokter. Pengelolaan obesitas dapat menjadi bagian dari pendekatan kesehatan yang menyeluruh bagi perempuan, termasuk bagi mereka yang hidup dengan PMOS.

Associate Director, Medical and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman menegaskan kembali komitmen Novo Nordisk dalam mendukung perjalanan kesehatan perempuan. Selama lebih dari 20 tahun di Indonesia, Novo Nordisk berkomitmen mendukung edukasi berbasis sains dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat penanganan penyakit kronis, termasuk obesitas.

“Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan," ujarnya. Perempuan, kata Riyanny, perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Novo Nordisk Indonesia menghadirkan situs NovoCare.id, platform edukasi yang menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas. Mulai dari kalkulator BMI untuk skrining awal obesitas, fakta tentang obesitas sebagai penyakit kronis, dampaknya terhadap kesehatan, hingga pentingnya konsultasi dengan dokter dan mencari pilihan pengelolaan bersama tenaga kesehatan.

“Melalui diskusi hari ini serta situs NovoCare.id, kami berharap semakin banyak perempuan merasa didukung untuk memahami fakta seputar obesitas tanpa stigma. Selain menyediakan informasi medis yang akurat, NovoCare.id juga membantu masyarakat menemukan bantuan profesional dengan mencari dokter untuk memulai langkah pengelolaan berat badan yang tepat,” tutup Riyanny.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |