REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol, mengatakan blokade Selat Hormuz yang terjadi saat ini memicu disrupsi distribusi minyak terburuk yang pernah terjadi. Namun, blokade yang dilakukan Iran sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel itu tidak hanya mengganggu pasokan minyak dunia.
Ada banyak komoditas nonminyak dari kawasan yang juga terganggu. Blokade memang mengganggu sirkulasi 11 juta barel minyak dan 140 miliar meter kubik gas per hari.
Namun, konflik juga mengancam berbagai komoditas lain mulai dari pupuk, mineral langka, dan berbagai komoditas lainnya yang dibutuhkan pertanian hingga transisi energi. World Economic Forum, Jumat (2/3/2026), mencatat sembilan komoditas selain minyak yang terdampak dari konflik AS dan Iran.
Komoditas pertama adalah pupuk. Teluk Arab merupakan pusat pertanian global yang menyumbang setidaknya 20 persen ekspor pupuk jalur laut.
Sekitar 46 persen perdagangan urea, yang digunakan untuk memproduksi pupuk, juga berasal dari kawasan. Pasokan ini sangat penting bagi negara-negara dengan sektor pertanian yang besar, seperti India, Brasil, dan China. Para pengamat memperingatkan gangguan terhadap pasokan pupuk dan urea akan meningkatkan harga pangan di seluruh dunia.
Sulfur juga terdampak blokade Selat Hormuz. Produksi produk sampingan dari proses penyulingan minyak dan gas ini sedang terhenti.
Hampir setengah dari perdagangan sulfur dunia melalui Selat Hormuz. Distribusi sulfur di kawasan itu akan berdampak pada harga sulfur dunia. Sulfur merupakan bahan baku untuk asam sulfat, bahan kimia yang dibutuhkan untuk baterai dan industri fosfor.
Sulfur digunakan dalam proses high-pressure acid leaching (HPAL) untuk memurnikan nikel, kobalt, dan tembaga untuk baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi terbarukan. Komoditas ini sangat penting bagi transisi energi.
Indonesia sebagai salah satu pusat produksi baterai untuk kendaraan listrik akan terdampak dengan lemahnya pasokan sulfur. Pada akhirnya, kondisi ini akan mengganggu upaya dunia menuju transportasi yang lebih berkelanjutan.
Sepertiga perdagangan metanol dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di celah sempit di pesisir Iran itu menahan distribusi bahan baku untuk resin dan plastik serta akan menimbulkan efek domino pada rantai pasokan bahan kimia lainnya.
Situasi ini akan mempersulit China sebagai pembeli metanol terbesar di dunia. Persediaan di gudang-gudang di pelabuhan yang sebelumnya cukup aman turun sampai batas “mengkhawatirkan” bila ekspor dari kawasan masih tertahan. Hal ini diperkirakan akan menaikkan harga plastik, cat, dan serat sintetis.
Negara-negara produsen minyak juga mengimpor grafit sintetis yang merupakan produk sampingan dari kilang minyak. Grafit digunakan untuk anoda baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Kenaikan harga grafit sintetis akan memengaruhi baterai EV dibandingkan bahan baku lainnya. Produksi grafit sintetis sangat bergantung pada kokas minyak bumi (petroleum coke), yang merupakan produk sampingan dari penyulingan minyak. Jika kilang minyak lebih memilih fokus memproduksi produk lain yang nilai jualnya lebih tinggi saat harga minyak naik, maka pasokan kokas ini akan berkurang.
Karena ketergantungan tersebut, harga grafit sintetis terancam melonjak lebih tajam dibandingkan material baterai lainnya. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan pasokan bahan baku utama tersebut. Selain grafit sintetis, grafit alami juga mengalami tekanan harga.
Faktor utamanya adalah biaya pengiriman (logistik) yang terus meningkat sehingga menambah beban biaya bagi produsen baterai. Kenaikan harga grafit, baik sintetis maupun alami, memperparah kondisi industri kendaraan listrik. Sebelumnya, biaya produksi baterai sudah tertekan akibat gangguan pasokan mineral penting lainnya seperti nikel, kobalt, dan sulfur.

12 hours ago
9













































