Dapur MBG Serap Pekerja Lokal, Menggerakkan Ekonomi Warga Sekitar

2 months ago 106

REPUBLIKA.CO.ID, Dapur besar Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) Polri di Pejaten menjadi salah satu titik penting penggerak ekonomi warga sekitar melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala SPPG Pejaten, M Iqbal Salim mengatakan, dapur itu kini mempekerjakan 49 orang, seluruhnya adalah masyarakat sekitar.

“Ada 49 orang dan semuanya berasal dari masyarakat sekitar SPPG. Mereka terbagi menjadi beberapa tim yaitu, Asisten Lapangan, Persiapan bahan pangan, tim masak, tim pemorsian, tim distribusi, tim cuci alat makan, tim cleaning service dan tim keamanan,” kata Iqbal saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan alur operasional dapur dimulai sejak pukul 02.00 dini hari. Proses dimulai dari penerimaan bahan baku yang terlebih dahulu menjalani pemeriksaan quality control (QC) secara kuantitas dan kualitas.

Setelah lolos QC, bahan makanan masuk gudang sementara sebelum diproses oleh tim persiapan. Memasak dilakukan pada pukul 02.00 dan makanan untuk kloter pertama dikemas pukul 04.30. Sebelum distribusi, dapur melakukan uji organoleptik dan rapid test keamanan pangan oleh ahli gizi dan personel Dokpol.

“Melakukan uji organoleptik dan rapid test food safety sebelum distribusi. Selain itu, pemilihan dan pengecekan bahan baku dilakukan dengan detail. Setiap proses juga memerhatikan kebersihan dan SOP yang berlaku,” katanya.

Di sisi lain, Iqbal menjelaskan, proses rekrutmen tenaga kerja dilakukan oleh SSDM Polri dan melibatkan Dokpol untuk pemeriksaan kesehatan. Mayoritas pelamar berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Persyaratan utama yaitu sehat jasmani, rohani, dan juga memiliki semangat tinggi untuk bekerja dan mampu bekerja sama secara tim,” katanya.

Pihaknya juga menjelaskan para pekerja menerima pelatihan khusus sebelum mulai bekerja, termasuk penanganan bahan makanan, penggunaan alat memasak skala besar, dan pelatihan penjamah makanan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.

Menurut Iqbal, keberadaan dapur memberikan dampak ekonomi nyata pada masyarakat sekitar. Ia juga menilai komunikasi dan interaksi sosial antarwarga meningkat.

“Tentu, yang semula tidak berpenghasilan sekarang memiliki penghasilan sendiri, yang sudah berpenghasilan namun kecil dan jarak dari rumah ke tempat kerja jauh lebih memilih bekerja di SPPG,” katanya.

Meski SPPG dinilai mampu memicu aktivitas ekonomi di sekitar dapur, Iqbal mengakui belum ada pemetaan rinci mengenai warga yang membuka usaha baru terkait aktivitas produksi pangan tersebut. “Benar (ada dampak geliat ekonomi sekitar, namun) sejauh ini SPPG belum melakukan monitoring secara detail akan hal tersebut,” katanya.

SPPG turut memberdayakan UMKM lokal sebagai pemasok bahan pangan. Sekitar 80 persen kebutuhan dapur diperoleh dari UMKM Pasar Induk Kramat Jati dan pemasok lokal lainnya, termasuk penyedia boks makanan dan jasa transportasi.

“Kemungkinan besar ada, namun SPPG belum pernah melakukan monitoring secara langsung,” katanya.

Di sisi lain, Iqbal mengungkapkan tantangan utama dapur adalah menyesuaikan menu dengan ketersediaan bahan pangan serta kapasitas SDM. SPPG melakukan diversifikasi menu saat terjadi kelangkaan atau kenaikan harga bahan baku.

“Tantangannya adalah harus selalu menyesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan dengan kemampuan pekerja dalam mengolah makanan. Sehingga dalam melakukan pemilihan menu harus mempertimbangkan kemampuan pekerja dan bahan baku yang ada, serta meminimalisasi menu yang terlalu rumit dan menghindari,” katanya.

“Membuat menu yang simpel dengan tetap memperhatikan angka kecukupan gizi, melakukan diversifikasi menu dengan substitusi bahan baku yang memiliki kandungan yang sama menyesuaikan ketersediaan bahan pangan yang ada di pasar dan dengan harga yang sesuai dengan anggaran,” katanya.

Ia berharap program MBG dapat berlanjut jangka panjang sehingga SPPG terus memperkuat jaringan tenaga kerja dan pemasok lokal melalui kerja sama dengan kelurahan dan pemangku kepentingan lainnya.

“Bekerja sama dengan kelurahan atau stakeholder terkait dengan upaya penguatan SDM dengan berbagai pelatihan dan keterampilan. Dapat memberikan multiplier effect dalam menggerakkan ekonomi lokal, baik membuka lapangan pekerjaan secara langsung maupun menumbuhkan supplier dan UMKM di sekitar SPPG,” katanya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |