REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Pertemuan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dengan buruh tani di tengah sawah Karawang, Jawa Barat, berujung pada pemberian combine harvester. Alat tersebut tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan kelompok buruh tani, tetapi juga diarahkan menjadi sumber pendapatan baru melalui jasa panen.
Amran turun dari kendaraannya setelah melihat sejumlah buruh tani bekerja di Desa Tegal Sawah, Kecamatan Karawang Timur, Senin (31/8/2026). Dari perbincangan tersebut, Amran mengetahui para buruh tidak memiliki lahan sawah sendiri dan selama ini mengandalkan pekerjaan sebagai buruh panen dengan pendapatan terbatas.
"Saya tadi di tengah jalan menemukan buruh ngarit. Itu dapat berapa? Hanya Rp30 ribu per hari dan itu dua kali seminggu, tiga kali seminggu, maksimal tiga kali seminggu," ujar Mentan.
Menurut Amran, kondisi tersebut membuat buruh tani selama ini sulit mengakses bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Mereka tidak masuk dalam kelompok penerima karena tidak memiliki lahan dan belum tergabung dalam kelompok tani.
Amran mengatakan Kementerian Pertanian telah mengubah regulasi agar buruh tani tanpa sawah dapat menjadi prioritas penerima alsintan. Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) tersebut disebut telah berlaku mulai Senin (31/8).
"Dulu buruh tidak bisa dapat karena dia tidak berkelompok, tidak punya lahan. Ini kita buka supaya kesejahteraannya meningkat," kata tokoh asal Sulawesi Selatan ini.
Melalui aturan baru tersebut, buruh tani dapat memperoleh berbagai alsintan, mulai dari pompa, alat panen, traktor roda dua (TR2), hingga traktor roda empat (TR4). Bantuan diberikan melalui kelompok yang dibentuk dengan pendampingan penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Amran meminta PPL aktif mendata buruh tani yang belum memiliki kelompok. Setelah diverifikasi, kelompok tersebut dapat mengajukan bantuan secara daring kepada pemerintah pusat tanpa harus menunggu memiliki lahan sendiri.
"Yang diprioritaskan yang tidak punya alat. Buruh tani boleh dapat traktor, boleh dapat combine," tegasnya.
Combine harvester yang diberikan di Karawang juga diarahkan untuk dikelola bersama oleh kelompok buruh tani. Amran meminta alat tersebut disewakan kepada petani di sekitar agar menghasilkan pendapatan tambahan bagi anggota kelompok.
Menurut Amran, satu combine harvester dapat menggarap sekitar lima hektare dalam sehari. Jika jasa panen menghasilkan Rp10 juta dan sebagian pendapatan disisihkan untuk biaya operasional, sisanya dapat dibagikan kepada anggota kelompok.
"Misalnya dapat lima hektare, berarti dapat Rp10 juta. Rp3 juta disimpan untuk beli bensin, yang Rp7 juta dibagi untuk 10 orang. Berarti Rp700 ribu satu orang per hari," jelas Amran.
Amran menekankan bantuan tersebut tidak boleh dikuasai oleh satu orang. Pengelolaan secara bersama diperlukan agar manfaat alsintan dapat dirasakan seluruh anggota kelompok.
"Bagi hasil, bagi rata. Semua ikut. Jangan ada yang ditinggal," tegas Amran.
Menurut Amran, skema tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan yang signifikan bagi buruh tani dibandingkan pekerjaan yang selama ini mereka jalani. Jika sebelumnya penghasilan mereka sekitar Rp240 ribu per bulan, jasa alsintan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.
Amran mengatakan bantuan alsintan untuk buruh tani merupakan upaya memperluas manfaat mekanisasi pertanian. Menurutnya, modernisasi pertanian tidak hanya perlu meningkatkan produktivitas, tetapi juga harus membuka peluang ekonomi bagi pekerja yang selama ini tidak memiliki lahan.
"Ini kita mau pemerataan, kita mau semua anak bangsa khususnya sektor pertanian merasakan kehadiran pemerintah," ujarnya.
Di Karawang, pemberian alsintan juga berjalan bersamaan dengan program pompanisasi untuk menghadapi musim kering. Amran mengatakan pemerintah bersama Kementerian Pekerjaan Umum terus memasang pompa di wilayah yang memiliki sumber air agar lahan tetap dapat ditanami.
Amran menyebut program pompanisasi yang sebelumnya mencapai sekitar 100 ribu unit mampu meningkatkan produksi padi di Jawa hingga sekitar 2,8 juta ton gabah. Di Karawang Timur, sekitar 3.000 hektare lahan berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp136 miliar jika produktivitas mencapai tujuh ton gabah per hektare dengan asumsi harga Rp6.500 per kilogram.
Menurut Amran, capaian tersebut menunjukkan pentingnya pemerintah melihat langsung persoalan di lapangan. Kunjungan ke Karawang juga dilakukan untuk memastikan pompa yang dipasang berfungsi dan lahan yang sebelumnya terdampak kekeringan dapat kembali ditanami. "Jangan sibuk berdebat, rapat, dan seterusnya. Kita lihatlah langsung lapangan," kata Amran.
Bagi Julaiha, salah seorang buruh tani yang ditemui Amran, bantuan tersebut menjadi penyemangat untuk meningkatkan produktivitas. Ia juga mendapat kepastian bahwa alat pertanian miliknya yang dicuri pada malam 17 Agustus akan diganti pemerintah.
"Mudah-mudahan dengan adanya alat jadi lebih produktif. Lebih semangat lagi buat kami di sini," ujar Julaiha.
Pertemuan di tengah sawah tersebut menunjukkan perubahan akses bantuan bagi buruh tani tanpa lahan. Melalui kepemilikan dan pengelolaan alsintan secara kelompok, pemerintah membuka peluang agar mekanisasi pertanian tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi pekerja tani.

19 hours ago
19

















































