Universitas Ahmad Dahlan
Lomba | 2026-07-21 10:13:20
Shaldhan Bayu Yuska mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Shaldan)
Perjuangan pantang menyerah ditunjukkan oleh Shaldhan Bayu Yuska, mahasiswa Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2023. Setelah melewati proses panjang, persaingan ketat, serta perjuangan selama tiga tahun, ia sukses menorehkan prestasi gemilang dengan menyabet medali perunggu dalam ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Kompetisi tingkat nasional tersebut berlangsung di Universitas Airlangga (Unair) pada 8 hingga 11 Juni 2026.
Perjalanan Shaldhan menuju babak final dimulai dari tahapan seleksi internal di kampus UAD. Dari proses tersebut, terpilih 5 delegasi per bidang pendaftaran. Shaldhan bersama 4 delegasi bidang biologi UAD lainnya kemudian dikirim untuk mewakili universitas di tingkat wilayah LLDIKTI V. Setelah melewati seleksi wilayah, ia berhasil menyisihkan kompetitor dan masuk ke dalam jajaran 65 finalis dari seluruh Indonesia yang berhak maju ke babak final tingkat nasional.
Sebagai mahasiswa kedokteran, Shaldhan mengakui adanya tantangan tersendiri karena cakupan materi yang diujikan merupakan biologi komprehensif yang sangat luas. Materi tersebut meliputi level genetik, molekuler, mikroorganisme, hewan, tumbuhan, hingga ekologi, yang mayoritas tidak didapatkan dalam perkuliahan rutinnya.
“Sebagai mahasiswa kedokteran, saya menemui kendala dalam mengejar materi biologi karena tidak diajarkan dalam kuliah. Strateginya adalah dengan menyelesaikan seluruh bab pada buku Campbell yang jadi fundamental biologi. Selain itu, latihan dari soal tahun lalu yang memegang peranan paling penting,” ujar Shaldhan.
Pada babak final nasional, seluruh soal disajikan penuh dalam bentuk esai. Shaldhan menjelaskan bahwa tingkat kesulitan utama pada kompetisi ini terletak pada analisis soal serta manajemen pengerjaan, mengingat kolom jawaban dan waktu yang disediakan panitia sangat terbatas. Untuk menjaga fokus selama kompetisi, Shaldhan menerapkan strategi dengan mengurangi interaksi yang tidak perlu dengan delegasi lain, terutama dalam hal mencocokkan atau mendiskusikan jawaban. Begitu ujian selesai, ia memilih untuk langsung pulang atau mencari udara segar demi menjaga kejernihan pikiran.
“Saat di hari H, banyakin waktu untuk istirahat, jangan terlalu banyak push materi,” tambahnya.
Pencapaian ini sekaligus menjadi momen puncak dari partisipasi ketiga Shaldhan dalam ajang ONMIPA-PT setelah pada dua edisi sebelumnya belum berhasil membawa pulang penghargaan.
“Momen yang paling tidak terlupakan adalah ketika malam penganugerahan di mana namaku akhirnya dipanggil setelah dua kali aku mencoba ONMIPA dan belum pernah dapat penghargaan sama sekali. Itu menjadi momen penantian selama tiga tahun,” pungkasnya. (Anove)
uad.ac.id
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
10




































