Dilema Mahasiswa yang Selalu Garap Tugas Kelompok Sendirian

19 hours ago 13

Image Diajeng Rizky Ramadhani

Lifestyle | 2026-07-23 00:26:44

Proyek kelompok bisa menjadi “undian nasib” yang dihadapi banyak mahasiswa saat membagi pekerjaan. Ada yang beruntung memiliki anggota kelompok yang bertanggung jawab, kreatif, dan mau membantu dengan sepenuh hati. Namun tetap saja, Anda tidak akan terkejut jika mendapati diri berada di dalam kelompok yang anggotanya mendadak diam, keluar dari grup WhatsApp, atau membalas dengan kata-kata ajaib satu suku kata: “Aku ikut aja, bilang kalau aku bisa bantu.”

Pada akhirnya, ceritanya selalu sama. Seseorang yang mengetik naskah, memformat semuanya, membuat slide. Ini kemudian melahirkan tipe mahasiswa yang biasanya disebut sebagai “pengumpul tugas kelompok.”

Jadi pertanyaannya: apakah mereka melakukannya hanya supaya terlihat baik, atau menurut Anda ada rasa takut di balik semua kepedulian itu?

Lingkungan Kampus dan Si Pencari Kesenangan Publik

Sering kali mahasiswa yang mengerjakan proyek kelompok sendirian terjebak menjadi people pleaser mereka selalu ingin membuat orang lain senang dan kesulitan berkata “Tidak.”

Ada ketakutan bahwa jika mereka menegur teman yang pasif atau melaporkan mereka kepada dosen, mereka akan dianggap orang jahat, dihindari oleh orang lain, atau membuat teman-temannya merasa tidak nyaman sampai akhir semester ini. Mereka bahkan rela mengorbankan waktu tidur, energi, dan kesehatan mental demi menjaga perdamaian dan mencegah konflik dengan Anda. Yang awalnya berupa membantu atau mempercepat sesuatu berubah menjadi jerat seperti perusahaan yang besar, karena tidak ada batas yang jelas.

Kebaikan Publik vs. Masalah Free Rider dan Isu Keterkaitan InbreedFenomena “menyerah dan mengerjakannya sendiri” ini, pada gilirannya, menguatkan masalah free rider: anggota yang ikut-ikutan atas nama orang lain tetapi tidak melakukan apa pun.

Anggota tim yang ceroboh jadi lebih santai ketika seorang people pleaser menanggung seluruh pekerjaan. Mereka tahu bahwa meski melawan segala rintangan, semuanya akan selesai dan nilai akan tetap lolos, tanpa perlu bersusah payah. Membiarkan hal ini tanpa disadari ibarat menjaga budaya impunitas di universitas-universitas kita.

Bagaimana Cara Memutus Siklus Ini?

Bertanggung jawab adalah hal yang baik, tetapi ketika Anda terus mengambil tanggung jawab beban orang lain, itu disebut mengabaikan diri sendiri. Langkah apa yang bisa diambil untuk keluar dari dilema ini?

1. Jangan menunggu itikad baik, bagi tugas secara spesifik sejak awal: Anda diharapkan memiliki daftar yang jelas tentang siapa mengerjakan apa dan pada tenggat internal yang ditetapkan.

2. Menjadi Lebih Tegas dengan Alasan yang Benar: Jika seorang anggota gagal menghasilkan bagiannya pada tenggat yang kalian sepakati bersama, cukup berikan peringatan tegas. Silakan mengabaikan nama siapa pun yang diberi kesempatan yang adil lalu berkontribusi nol.

3. Konsultasikan dengan Dosen: Ini bukan niat jahat dan bukan sikap bermuka dua, ini memastikan penilaian kelompok yang adil dan seimbang.

Menjaga persahabatan saat kuliah adalah bagian dari hidup, tetapi itu tidak berarti kita harus kehilangan rasa hormat pada diri sendiri dan kesehatan mental hanya karena mengerjakan tugas orang lain. Teman sejati tidak akan pernah membiarkan Anda menggantung.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |