REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga emas Antam telah menembus angka Rp 2.549.000 per gram berdasarkan laman Logam Mulia pada Rabu (7/1/2026). Harga tersebut naik Rp 34 ribu setelah sehari sebelumnya berada di level Rp 2.515.000 per gram. Lantas, apakah ini berarti logam mulia menjadi instrumen investasi yang menjanjikan?
Profesional perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menilai kenaikan tersebut tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa emas selalu menguntungkan. Menurutnya, dalam konteks investasi, istilah menjanjikan harus dilihat dari keseimbangan antara potensi keuntungan dan risiko.
Ia menjelaskan, harga emas memang menunjukkan tren kenaikan dalam jangka panjang. Berdasarkan data lima tahun terakhir, harga emas bergerak naik meski tetap mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.
“Kalau melihat data lima tahun terakhir, emas memang mengalami tren kenaikan. Namun, dalam perjalanannya tetap terjadi naik turun harga,” kata Mike saat dihubungi Republika, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, fluktuasi tersebut terjadi karena mekanisme permintaan dan penawaran. Ketika minat masyarakat terhadap emas meningkat, harga akan terdorong naik. Bahkan, pada kondisi tertentu, lonjakan permintaan dapat memicu kenaikan harga yang signifikan.
“Karakteristik tersebut membuat emas banyak dipilih sebagai instrumen investasi jangka panjang. Kalau orientasinya untuk jangka panjang, betul emas menjanjikan. Jadi, fluktuasi jangka pendek tidak perlu dikhawatirkan,” kata Mike.
Dalam konteks investasi, ia menyebut setidaknya ada tiga hal yang membuat emas dinilai menjanjikan. Pertama, emas berfungsi sebagai safe haven karena dalam jangka panjang nilainya umumnya berada di atas inflasi.
Kedua, emas memiliki potensi pertumbuhan harga yang signifikan pada momentum tertentu. Meski dalam kondisi normal pergerakannya relatif stabil, lonjakan harga bisa terjadi saat permintaan meningkat tajam.
Ketiga, emas berperan sebagai instrumen diversifikasi untuk meminimalkan risiko investasi secara keseluruhan. Dengan menyebar aset ke beberapa instrumen, risiko tidak terpusat pada satu pilihan investasi.
“Kalau seluruh dana hanya ditempatkan di saham atau hanya disimpan di bank, risikonya besar di satu instrumen. Dengan diversifikasi, misalnya sebagian di saham, reksa dana, dan emas, risikonya bisa ditekan,” ujarnya.
Ia mencontohkan alokasi sederhana, seperti menempatkan sekitar 25 persen dari total aset investasi ke emas. Dengan strategi tersebut, ketika saham atau reksa dana mengalami penurunan, emas yang memiliki karakteristik risiko berbeda dapat membantu menjaga nilai portofolio.
“Dalam kondisi tertentu, misalnya saat rupiah melemah, emas biasanya justru naik, sementara saham bisa tertekan,” katanya.
Meski demikian, Mike mengingatkan investasi emas tetap harus dilakukan dengan prinsip perencanaan keuangan yang disiplin. Investor perlu menetapkan tujuan, menghindari spekulasi jangka pendek, serta tidak menempatkan seluruh aset pada emas.
“Jadi, jangan 100 persen semuanya ke emas, tetapi kita jadikan dia sebagai alat untuk bisa meminimalkan risiko investasi secara keseluruhan dengan prinsip diversifikasi portofolio investasi,” kata Mike.

22 hours ago
8







































