Harga Emas Berpotensi Naik, Investor Pantau Perdamaian Iran dan AS

7 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan harga emas atau logam mulia terus berada di bawah Rp 3 juta per gram seiring meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah. Pengamat memprediksi harga emas pada pekan depan bergerak di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 2,88 juta per gram.

Tercatat, pada akhir perdagangan pekan ini harga emas dunia berada di level 4.209 dolar AS per troy ons. Sementara itu, harga logam mulia ditutup pada posisi Rp 2,71 juta per gram.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi, jika harga emas dunia mengalami koreksi, level support pertama berada di 4.058 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia diperkirakan berada di level Rp 2,61 juta per gram.

“Seandainya lanjut terkoreksi, level support kedua berada di 3.929 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia sebesar Rp 2,5 juta per gram,” ujarnya, Ahad (14/6/2026).

Sementara itu, jika harga emas dunia mengalami penguatan, level resistance pertama berada di 4.394 dolar AS per troy ons. Sedangkan harga logam mulia diperkirakan mencapai Rp 2,74 juta per gram.

“Seandainya melanjutkan penguatan, level resistance kedua berada di 4.571 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di posisi Rp 2,88 juta per gram,” ungkapnya.

Sejalan dengan prediksi tersebut, Ibrahim memproyeksikan indeks dolar AS pada perdagangan pekan depan berada di level support 99,10 dan level resistance 100,70.

Sementara itu, terkait pergerakan harga minyak, ia memprediksi harga minyak akan mengalami koreksi dengan level support di 77,40 dolar AS per barel. Sedangkan jika mengalami kenaikan, level resistance berada di 94,60 dolar AS per barel.

Ibrahim menjelaskan, dari sisi fundamental, terdapat dua faktor yang menyebabkan fluktuasi harga berbagai komoditas tersebut, yakni faktor geopolitik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS).

“Jadi, hanya ada dua faktor yang memengaruhi pergerakan indeks dolar, minyak mentah, kemudian harga emas dan logam mulia,” kata dia.

Mengenai faktor geopolitik, pada pekan ini Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa kesepakatan damai antara Iran dijadwalkan ditandatangani pada Ahad ini. Salah satu poin dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz setelah penandatanganan.

Selain itu, terdapat wacana pencairan dana Iran yang sebelumnya dibekukan AS sejak Revolusi Islam. Kesepakatan juga mencakup isu terkait reaktor nuklir.

Namun, lanjut Ibrahim, banyak pihak menilai perjanjian tersebut berpotensi hanya menjadi kesepakatan di atas kertas. Secara teknis, masih terdapat kemungkinan munculnya perlawanan.

Sebab, dalam perjanjian sebelumnya, penyelesaian konflik tidak hanya mencakup hubungan AS dan Iran, tetapi juga melibatkan Lebanon dan Hamas.

“Saya melihat kemungkinan besar masih akan terjadi baku tembak antara Israel dan Lebanon. Ini yang sangat dikhawatirkan. Namun, indikasi perdamaian ini membuat harga minyak turun. Kalau harga minyak turun kemudian indeks dolar menguat, berarti harga emas mengalami kenaikan,” tuturnya.

Ibrahim menyebut, apabila proses perdamaian benar-benar terealisasi, terdapat potensi investor mengalihkan investasinya dari greenback ke logam mulia.

“Kalau benar-benar terjadi perdamaian antara AS dan Iran, kemudian Selat Hormuz dibuka, kemungkinan besar investor yang sebelumnya berinvestasi di dolar AS akan beralih ke logam mulia sebagai safe haven,” terangnya.

Ia menuturkan, harga emas dunia atau logam mulia sempat mengalami pelemahan akibat blokade Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga dolar dan minyak sehingga berdampak terhadap inflasi.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |