REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov berpendapat, harga minyak mentah dunia dapat melonjak tinggi jika kelompok Houthi Yaman benar-benar menutup Selat Bab al-Mandeb, menyusul terganggunya Selat Hormuz oleh Iran. Lonjakan harga minyak mentah dunia mau tidak mau akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia, terutama tekanan terhadap fiskal.
Abra menjelaskan, dengan terganggunya lalu lintas di Selat Hormuz saja, harga minyak mentah saat ini sudah menembus level 115 dolar AS per barel. Jika Houthi merealisasikan rencana penutupan Selat Bab al-Mandeb, harga minyak dunia akan semakin tinggi.
“Kalau Selat Bab al-Mandeb sampai ditutup juga, sudah pasti nanti ada risiko harga minyak melonjak ke level di atas 130 dolar AS per barel. Kalau Selat Hormuz mengganggu 20 persen pasokan minyak dunia, Selat Bab al-Mandeb bisa lebih besar lagi sekitar 30–44 persen minyak global,” ungkap Abra saat dihubungi Republika, Senin (30/3/2026).
Seiring dengan potensi semakin melonjaknya harga minyak mentah dunia, risiko terbesar terhadap ekonomi Indonesia adalah dari sisi fiskal. Beban anggaran subsidi dan kompensasi energi dapat membengkak.
“Risiko terbesar terhadap ekonomi kita adalah dari sisi fiskal, terutama karena beban subsidi dan kompensasi energi. Ini harus diantisipasi akan melonjak,” tuturnya.
Hingga saat ini, pemerintah diketahui masih berupaya memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak mengalami kenaikan, dengan jumlah dana yang disiapkan sebesar Rp 881 triliun.
Berkaca dari pengalaman 2023, pemerintah meningkatkan anggaran subsidi dan kompensasi energi mencapai 150 persen menjadi sekitar Rp 520 triliun. Dibandingkan tahun ini yang sebesar Rp 881 triliun, sekilas memang tampak lebih besar, namun Abra mengingatkan sisi lain, yakni posisi nilai tukar rupiah yang melemah bisa menjadi beban tersendiri.
“Rp 881 triliun memang terlihat masih cukup kalau nanti diasumsikan bisa dialokasikan banyak untuk subsidi dan kompensasi. Namun, faktornya bukan hanya dari sisi lonjakan harga minyak mentah saja, tetapi juga tekanan nilai tukar rupiah,” tuturnya.
Diketahui, nilai tukar rupiah saat ini berada di posisi Rp 16.900-an per dolar AS. Mata uang Garuda dapat menembus Rp 17.000 per dolar AS seiring dengan berbagai tekanan. Nilai tukar rupiah diprediksi juga makin tertekan jika harga minyak mentah, bahkan harga barang impor lain, mengalami lonjakan.
“Jadi intinya dampaknya adalah fiskal kita. Anggaran subsidi dan kompensasi sudah pasti akan melonjak, dan pasti ada limitasi harga ICP berapa yang bisa menahan defisit kita tetap di jalur pemerintah,” tegasnya.
Abra menjelaskan, pemerintah sendiri sebenarnya memiliki tiga skenario defisit. Kondisi terburuk versi pemerintah adalah ketika rata-rata harga minyak mentah pada tahun ini sebesar 115 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah Rp 17.500 per dolar AS.
“Nah, hari ini saja harga minyak mentah sudah 115 dolar AS per barel, artinya sudah berada di level paling berat. Makanya, kalau Selat Bab al-Mandeb ditutup dan harga minyak mentah bisa makin liar, maka subsidi BBM dan LPG berpotensi tidak mencukupi, apalagi jika rupiah ikut tertekan di atas Rp 17.000 per dolar AS,” jelasnya.

8 hours ago
14










































