Indonesia Raih Swasembada Beras 2025, Stok Awal 2026 Tertinggi Sepanjang Sejarah

1 day ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, memaparkan tiga indikator kunci yang mengukuhkan keberhasilan Indonesia meraih swasembada beras dengan catatan stok tertinggi dalam sejarah.

Ketut merinci ketiga indikator tersebut: pertama, Indonesia sama sekali tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang tahun 2025; kedua, angka produksi nasional melampaui tingkat konsumsi; dan ketiga, stok di gudang Bulog sangat kuat, yakni menembus angka lebih dari 3 juta ton pada akhir tahun.

"Artinya, perpaduan tiga sisi ini secara kumulatif menunjukkan bahwa posisi kita saat ini sudah benar-benar swasembada," ujar Ketut saat memberikan konfirmasi resmi di Jakarta, Selasa (6/1).

Ia menjelaskan bahwa pencapaian ini melampaui standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), yang menyebut suatu negara tetap dikategorikan swasembada meski mengimpor, asalkan jumlahnya di bawah 10 persen dari total kebutuhan nasional.

"Apalagi sekarang Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman secara tegas menghentikan impor beras konsumsi. Dengan kebijakan tanpa impor ini, arah kita sudah sangat jelas pada swasembada mutlak," lanjut Ketut.

Visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo dinilai mulai membuahkan hasil nyata hanya dalam tahun pertama pemerintahannya.

Kebutuhan pangan pokok strategis masyarakat kini sepenuhnya mampu dipenuhi dari peluh keringat petani lokal, tanpa bergantung pada pasokan luar negeri sepanjang tahun 2025.

Bapanas sepenuhnya mendukung capaian ini, di mana indikator swasembada tersebut telah termaktub dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025 hasil kolaborasi BPS, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta kementerian terkait lainnya.

"Berdasarkan data BPS, produksi beras kita di tahun 2025 menembus 34 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton. Surplus 3 juta ton ini menjadi penanda kuat bahwa kita sudah mandiri pangan," jelasnya.

Secara terperinci, surplus tersebut merupakan selisih positif antara hasil produksi terhadap total konsumsi beras nasional, yang diproyeksikan Bapanas mencapai angka 3,52 juta ton pada akhir tahun 2025.

Kalkulasi tersebut berasal dari total produksi beras 2025 sebesar 34,71 juta ton, yang berhasil melampaui total kebutuhan konsumsi setahun yang berada di angka 31,19 juta ton.

Jumlah konsumsi tersebut bahkan sudah mencakup alokasi beras untuk mendukung kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di tahun 2025.

Berkat surplus yang signifikan ini, Indonesia memasuki awal tahun 2026 dengan total stok beras nasional mencapai 12,529 juta ton.

Angka fantastis tersebut mencakup Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton, sementara sisanya tersebar merata di masyarakat, pedagang, hingga distributor.

"Dengan kebutuhan bulanan sekitar 2,5 juta ton, stok 12,5 juta ton ini memberikan fondasi yang sangat kuat bagi ketahanan pangan kita di awal tahun," tegas Ketut.

"Belum lagi ditambah proyeksi produksi Januari-Februari serta panen raya di Maret dan April 2026. Ini menandakan posisi ketahanan pangan kita di tahun 2026 akan semakin tangguh," tambahnya.

Ia meyakini bahwa ketersediaan beras yang melimpah saat ini menempatkan Indonesia pada posisi yang aman dari ancaman krisis pangan.

Senada dengan itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan optimisme serupa bahwa stok pangan pada 2026 sangat stabil.

Kendati demikian, Amran memberikan peringatan keras kepada para pelaku usaha sektor pangan agar tidak melakukan praktik spekulasi harga di atas ketentuan yang berlaku.

"Stok kita sangat aman, bahkan CBP lebih dari 3 juta ton ini tertinggi sepanjang sejarah. Jadi tidak ada alasan untuk bermain harga, terutama menjelang Ramadhan 2026. Jika melanggar, akan kami tindak tegas bersama Satgas Pangan Polri," ujar Amran.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |