REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden China Xi Jinping akan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington pada Kamis, 24 September 2026, dalam pertemuan yang berpotensi menentukan arah hubungan dua perekonomian terbesar dunia. Namun, berbeda dengan awal perang tarif pada masa jabatan kedua Trump, sejumlah analis menilai Xi datang dengan daya tawar yang lebih besar, terutama karena mesin ekspor China tetap kuat di tengah tekanan perdagangan Amerika Serikat.
Reuters melaporkan fokus utama pertemuan tersebut diperkirakan bukan menghasilkan kesepakatan besar, melainkan memastikan apakah gencatan perdagangan yang dicapai tahun lalu dapat diperpanjang. Selain perdagangan, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), mineral kritis, fentanyl, dan perang Iran diperkirakan ikut masuk ke meja pembicaraan.
Perubahan posisi tawar itu antara lain terlihat dari perdagangan China. Kendati menghadapi tarif dan pembatasan teknologi Amerika selama bertahun-tahun, ekspor China justru melonjak 25 persen secara tahunan pada Agustus 2026, sementara surplus perdagangan bulan itu mencapai 119,09 miliar dolar AS.
Dalam delapan bulan pertama 2026, surplus perdagangan China telah mencapai 805,51 miliar dolar AS. Angka tersebut membuat surplus perdagangan China berada di jalur untuk kembali menembus 1 triliun dolar AS tahun ini, setelah juga melampaui level tersebut pada tahun sebelumnya.
Lebih dari separuh dari sekitar 6.500 kategori produk yang diekspor China ke Amerika Serikat sepanjang tahun ini mengalami pertumbuhan dibandingkan 2025. Data itu menunjukkan tarif Washington belum sepenuhnya mampu membendung kemampuan China menjual barang ke pasar AS.
Kondisi tersebut tidak berarti ekonomi China tanpa masalah. Permintaan domestik masih lemah dan krisis sektor properti yang telah berlangsung bertahun-tahun belum sepenuhnya terselesaikan, sehingga ekspor tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan.
The Business Times menilai kekuatan ekspor itu sekaligus menjadi kelemahan Beijing. Surplus perdagangan yang semakin besar mulai menimbulkan resistensi bukan hanya dari Amerika Serikat, tetapi juga dari mitra dagang lain yang khawatir terhadap membanjirnya produk China di pasar mereka.
Artinya, Xi juga berkepentingan menjaga stabilitas hubungan dengan Washington. Jon Czin, pakar kebijakan luar negeri Brookings Institution dan mantan direktur China di Dewan Keamanan Nasional AS, mengatakan kepada Reuters bahwa Xi membutuhkan waktu untuk terus memperkuat ketahanan China dan karena itu tidak harus mengejar hasil dramatis dari satu pertemuan.
Trump Juga Membutuhkan Stabilitas
Di sisi lain, Trump memasuki pertemuan tersebut dalam situasi politik domestik yang tidak ringan. Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan terhadap 1.143 responden dewasa di seluruh Amerika Serikat pada September mencatat tingkat penerimaan terhadap kinerja Trump sebesar 35 persen, naik dari rekor terendah 33 persen pada survei sebelumnya. Margin kesalahan survei tersebut sekitar tiga poin persentase.
Penurunan popularitas Trump terjadi di tengah perang Iran yang mengganggu pasokan energi dan mendorong naik biaya bahan bakar bagi rumah tangga Amerika. Situasi itu menjadi salah satu tekanan terhadap Partai Republik menjelang pemilu sela pada 3 November 2026.
Karena itu, hasil perdagangan yang dapat diumumkan setelah pertemuan dengan Xi memiliki nilai politik bagi Gedung Putih. Pembelian produk pertanian Amerika dan pesawat Boeing menjadi beberapa kemungkinan yang selama ini dibahas dalam hubungan ekonomi kedua negara.
China sebelumnya menyatakan akan membeli 200 pesawat Boeing setelah pertemuan Trump-Xi di Beijing pada Mei. Namun, South China Morning Post melaporkan pada Ahad bahwa kesepakatan tersebut belum terealisasi dan kelanjutannya dapat dipengaruhi hasil pembicaraan di Washington.
Dari Tarif ke Mineral Kritis
Salah satu perubahan paling penting dalam hubungan perdagangan AS-China adalah bergesernya arena persaingan dari sekadar tarif menuju penguasaan rantai pasok strategis. Washington ingin Beijing memperlancar pengiriman rare earth dan mineral kritis yang dibutuhkan untuk industri otomotif, semikonduktor, dirgantara, dan pertahanan.
Dalam hal ini, Beijing memang mempunyai posisi struktural yang penting. International Energy Agency (IEA) mencatat China merupakan negara pemroses utama untuk 19 dari 20 mineral strategis yang dianalisis lembaga tersebut, dengan rata-rata pangsa sekitar 70 persen berdasarkan data yang digunakan dalam Global Critical Minerals Outlook.
Untuk rare earth magnet khususnya, IEA mencatat China menghasilkan sekitar 91 persen produk olahan dunia pada 2024. Konsentrasi itu mulai sedikit menurun setelah kapasitas baru tumbuh di Amerika Serikat dan Malaysia, tetapi China masih memegang posisi dominan dalam rantai pasok tersebut.
Konteks inilah yang membuat mineral kritis menjadi salah satu bagian penting dari perundingan. Wesley Alexander Hill, kontributor Forbes yang menulis mengenai energi dan geoekonomi, menilai mineral kritis sebagai salah satu area yang paling memungkinkan menghasilkan kemajuan konkret dalam pertemuan Trump-Xi, meskipun pandangan tersebut merupakan analisis, bukan posisi resmi kedua pemerintahan.
Amerika Serikat telah meningkatkan investasi untuk mengurangi ketergantungan tersebut. Namun, Reuters melaporkan China masih menguasai sekitar 70 hingga 95 persen kapasitas pemrosesan berbagai mineral strategis, sehingga membangun rantai pasok alternatif tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

11 hours ago
12
















































