REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok menuju level Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Pelemahan Mata Uang Garuda terjadi menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) soal rebalancing indeks.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 91 poin atau 0,52 persen menuju posisi Rp 17.505 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah menjadi Rp 17.414 per dolar AS.
Diketahui, MSCI akan mengumumkan rebalancing indeks, termasuk pasar modal Indonesia, yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 waktu New York atau 13 Mei 2026 waktu Indonesia. Indeks MSCI menjadi acuan utama dalam menentukan alokasi investasi bagi banyak fund global, sehingga cukup krusial.
Pengumuman indeks MSCI beberapa waktu lalu cukup mengguncang pasar modal Indonesia. MSCI menghentikan sementara kenaikan bobot dan penambahan saham Indonesia di indeks global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami kejatuhan yang sangat dalam, imbas pengumuman tersebut. Bahkan pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri.
Pengumuman indeks MSCI kali ini juga dinanti-nanti oleh pelaku pasar. Regulator sendiri meyakini reformasi integritas pasar modal Indonesia akan membawa keuntungan jangka panjang (long term gain), meski berpotensi memicu perubahan komposisi saham dalam indeks MSCI pada hasil rebalancing.
“Dengan perbaikan dan reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya. Dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain, tetapi InsyaAllah long term gain,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Friderica atau kerap disapa Kiki menilai potensi perubahan komposisi Saham Indonesia dalam indeks MSCI merupakan konsekuensi dari upaya pembenahan fundamental pasar modal. Termasuk penguatan keterbukaan informasi, integritas pasar, serta penegakan hukum.
“Kan mereka (MSCI) sudah bilang freeze, jadi tidak ada saham baru yang masuk ke indeks MSCI, tetapi yang lama mungkin akan keluar. Tapi ya kita lihat, semoga ini bisa kita antisipasi dengan baik,” tuturnya.
Kiki meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap hasil rebalancing MSCI nantinya. Menurut dia, potensi penyesuaian indeks akibat reformasi pasar modal merupakan konsekuensi jangka pendek yang perlu dilihat sebagai bagian dari penguatan fundamental pasar keuangan Indonesia.
“Jadi jangan sampai orang terus dibikin panik dan lain-lain. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” kata Kiki.
Mengenai potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, Kiki mengatakan keputusan tersebut baru akan ditinjau MSCI pada Juni 2026 mendatang. Berbagai perbaikan yang dilakukan regulator diharapkan menjadi pertimbangan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market.
Menurut dia, Indonesia memiliki kualitas keterbukaan informasi dan granularitas data yang baik, termasuk dalam aspek integritas pasar yang selama ini menjadi perhatian investor global. Kiki juga memastikan regulator terus melakukan pembenahan fundamental pasar modal melalui delapan aksi reformasi, termasuk penguatan penegakan hukum, peningkatan kualitas perusahaan tercatat, serta upaya mendorong lebih banyak investor masuk ke pasar modal domestik.
Selain itu, OJK juga terus memperdalam pasar keuangan melalui peningkatan basis investor domestik, baik ritel maupun institusi. Pendalaman pasar dinilai menjadi penting untuk memperkuat ketahanan pasar modal Indonesia terhadap gejolak global.
“Dulu, 20 tahun lalu, kalau ada guncangan global itu panik semua karena kalau terjadi outflow isinya asing. Kalau sekarang, investor kita (domestik) sudah 26 juta dan semakin banyak investor, baik ritel maupun institusi, masuk ke pasar modal Indonesia,” kata Kiki.

7 hours ago
7















































