Faiz zaini
Agama | 2026-07-29 21:44:01
sumber : pribadi
Julid di Kolom Komentar? Rasulullah Ternyata Sudah Kasih Solusinya
Coba buka kolom komentar unggahan viral apa saja hari ini. Dalam hitungan menit, biasanya sudah ada yang saling sindir, saling hujat, bahkan saling mendoakan buruk hanya karena berbeda pendapat.
Fenomena ini begitu akrab sampai punya istilah sendiri: war komentar, julid, hingga cancel culture. Anehnya, semakin sering terjadi, fenomena ini justru semakin dianggap wajar. Padahal di balik layar ponsel yang kita pegang, ada kualitas iman dan akhlak yang sedang diuji setiap detik.
Selama ini, akhlak sering kali diartikan secara sempit, sebatas sopan santun kepada orang tua atau tata krama di depan guru. Padahal, cakupan akhlak sejatinya sangat luas. Cara kita mengetik komentar, membalas pesan di grup percakapan, hingga menahan diri dari membagikan berita yang belum pasti kebenarannya juga bagian dari cerminan akhlak kita.
Islam membagi akhlak menjadi dua kutub besar. Pertama, akhlak terpuji (mahmudah) seperti jujur, sabar, rendah hati, dan pemaaf. Kedua, akhlak tercela (mazmumah) seperti dengki, sombong, suka menghina, dan gemar menyebar fitnah. Di era digital ini, kedua kutub tersebut menemukan panggung baru bernama media sosial.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri menegaskan bahwa misi utama kenabian beliau berkaitan langsung dengan penyempurnaan akhlak. Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal melalui jalur sanad sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
"Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad)
Hadis pendek ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kehadiran Islam bukan sekadar menambah ritual ibadah formal, melainkan membenahi cara manusia bersikap satu sama lain. Ini mencakup tata cara berbicara, berinteraksi di media sosial, hingga menahan diri dari kata-kata yang berpotensi menyakiti perasaan orang lain.
Pesan ini semakin menguat jika disandingkan dengan sabda Nabi lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari. Beliau menegaskan bahwa sebaik-baik manusia di antara orang beriman adalah yang paling baik akhlaknya (ahsanakum akhlaqan).
Artinya, ukuran kualitas keislaman seseorang tidak hanya dilihat dari seberapa banyak dalil yang ia hafal atau seberapa keras ia membela pendapatnya di kolom komentar. Kualitas iman justru dicerminkan dari seberapa terjaga lisannya, seberapa lapang hatinya menerima perbedaan, dan seberapa jauh ia dari kebiasaan menghina sesama.
Lalu apa hubungannya dengan keributan di media sosial hari ini? Hubungannya sangat erat dan mendasar. Krisis akhlak yang terjadi di dunia digital, mulai dari perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian antarpendukung tokoh publik, hingga kebiasaan menertawakan kemalangan orang lain demi konten viral sebenarnya adalah cermin dari lunturnya penghayatan terhadap pesan hadis tersebut.
Kita sering kali begitu semangat menuntut orang lain untuk berakhlak baik kepada kita. Namun, kita mendadak lupa menuntut hal yang sama kepada diri sendiri saat jempol sudah memegang gawai. Kita merasa aman mencaci-maki hanya karena bersembunyi di balik akun anonim atau jarak layar digital.
Kontekstualisasi ajaran ini sebetulnya sangat sederhana: akhlak mulia tidak berhenti di dunia nyata. Sabar saat dikritik di kolom komentar, memilih diam saat emosi memuncak, serta memverifikasi informasi (tabayyun) sebelum membagikan kabar adalah bentuk nyata akhlak terpuji versi masa kini.
Sebaliknya, praktik ghibah yang dulu terjadi di ruang tamu kini telah berpindah ke grup WhatsApp. Fitnah yang dulu menyebar pelan dari mulut ke mulut, sekarang menyebar kilat lewat tombol share dalam hitungan detik. Media dan sarananya boleh berubah, tetapi timbangan dosa dan standar akhlak yang diajarkan Rasulullah tetap sama.
Ruang digital kita hari ini sangat membutuhkan kesejukan akhlakul karimah. Menjaga lisan (hifzhul lisan) di zaman sekarang berarti juga menjaga jari-jemari dari mengetik ujaran kebencian. Sebab, setiap ketikan dan unggahan kita tetap tercatat dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Sebagai generasi yang hidup dengan notifikasi tak pernah berhenti, kita punya pilihan penuh setiap kali membuka aplikasi menambah kebaikan atau menambah keributan di linimasa. Pilihan itu sepenuhnya ada di jari kita masing-masing.
Mari mulai dari hal kecil, tahan jari kita sebelum mengetik komentar pedas, pikirkan matang-matang sebelum membagikan berita yang belum jelas kebenarannya, dan jadikan akun media sosial kita sebagai ladang akhlak, bukan ladang amarah. Sebab pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa ramai pengikutnya (followers), melainkan dari seberapa terjaga akhlaknya baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Nama Penulis: Moch. Faiz Zaini
Program Studi: Ilmu Hadis
Kampus: STAI Nurul Qadim Paiton Probolinggo
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

19 hours ago
11









































