Ketahanan Ekonomi Nasional Jadi Kunci Hadapi Gejolak Global

11 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meningkatnya ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik, termasuk krisis Timur Tengah, mendorong pentingnya penguatan ketahanan ekonomi nasional. Pandangan tersebut mengemuka dalam sesi panel Islamic Economic Outlook 2026: Scenario & Strategic Options for Regional Crisis di Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Diskusi yang dimoderatori Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Bappenas, Vivi Yulaswati, menghadirkan perwakilan pemerintah, akademisi, dan Dewan Ekonomi Nasional untuk membahas langkah-langkah yang perlu ditempuh Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global.

Direktur Pertahanan dan Keamanan Kementerian PPN/Bappenas, Erik Armundito, memaparkan bahwa stabilitas keamanan merupakan fondasi utama (enabler) sebelum membangun kesejahteraan karena dinamika geopolitik saat ini meningkatkan risiko terhadap kedaulatan wilayah serta jalur perdagangan di Selat Hormuz.

“Indonesia perlu memperkuat kapasitas antisipasi dan menyiapkan berbagai skenario kebijakan agar tetap mampu menjaga stabilitas nasional,” ujar Erik.

Ia menegaskan pentingnya langkah konkret seperti modernisasi alutsista, penguatan industri pertahanan maritim, hingga kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman perang opini dan siber di ruang publik digital sesuai rencana pembangunan jangka menengah.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Percepatan Program Ekonomi Prioritas Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat, menjelaskan bahwa meskipun krisis global memicu volatilitas rupiah dan kenaikan harga di sisi produsen, fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap sehat, memiliki stamina kas yang tinggi, dan jauh dari bayang-bayang krisis ala 1998.

“Setiap perubahan global menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Yang perlu dilakukan adalah memastikan Indonesia memiliki strategi yang tepat,” tegas Firman.

Ia mengingatkan pentingnya langkah antisipatif berupa identifikasi risiko dan diversifikasi pasar atas komoditas nonmigas strategis seperti nafta dan sulfur, mengingat penutupan jalur logistik global sempat mengganggu rantai pasok industri hilirisasi nasional.

Dari perspektif akademik, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Irfan Syauqi Beik, menilai penguatan fondasi ekonomi domestik harus berbasis pada paradigma growth through equity (pertumbuhan melalui pemerataan) agar resiliensi menjadi kuat dengan melibatkan pelaku UMKM sebagai motor penggerak ekonomi.

“Ketahanan ekonomi tidak dibangun ketika krisis terjadi, melainkan jauh sebelum itu melalui penguatan sektor produktif yang adil secara sosial,” kata Irfan.

Ia menambahkan bahwa instrumen ekonomi syariah memiliki potensi besar sebagai solusi konkret, salah satunya melalui optimalisasi industri halal global serta terobosan regulasi yang memungkinkan pemanfaatan aset wakaf sebagai underlying asset sukuk negara untuk memperkuat fiskal.

Para panelis sepakat bahwa ketahanan nasional harus dibangun melalui kebijakan yang adaptif dan inklusif. Sinergi antara penguatan keamanan, pemanfaatan keuangan syariah, dan mitigasi rantai pasok menjadi modal utama Indonesia menghadapi tantangan global menuju Indonesia Emas 2045.

Forum ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |