Ketahanan Pangan Jadi Garda Depan Menghadapi Perang, Iklim, dan Revolusi Teknologi

16 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketahanan pangan merupakan pilar utama ketahanan nasional di tengah berbagai tantangan global seperti perang, krisis iklim, dan disrupsi teknologi. Pangan tidak lagi sekadar urusan ekonomi, tetapi telah menjadi fondasi politik, sosial, dan keamanan negara.

Pakar kelautan dan tokoh nasional, Rokhmin Dahuri menegaskan bangsa yang mampu menjamin pangan bagi rakyatnya akan lebih kuat menghadapi guncangan global.

“Bangsa yang mampu menjamin pangan bagi rakyatnya akan lebih kuat menghadapi guncangan global, baik berupa perang, perubahan iklim, maupun disrupsi teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, dari lima kebutuhan dasar manusia yakni pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan, pangan merupakan kebutuhan paling vital. Sebab, pangan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia dan daya saing bangsa.

“Kecerdasan seseorang ditentukan oleh asupan gizi. Tanpa pangan yang cukup, bangsa akan kehilangan daya saing,” kata Rokhmin.

Ia menyambut langkah Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Kebijakan tersebut dinilai sejalan dengan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang pernah menyatakan bahwa pangan merupakan hidup-matinya sebuah bangsa.

Mengutip penelitian Food and Agriculture Organization (FAO), ia menjelaskan bahwa negara dengan jumlah penduduk besar yang masih bergantung pada impor pangan akan sulit menjadi negara maju, makmur, dan berdaulat.

“Negara dengan penduduk lebih dari 100 juta jiwa yang bergantung pada impor pangan akan sulit menjadi maju, makmur, dan berdaulat,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa kondisi global saat ini semakin tidak menentu akibat konflik geopolitik dan dampak perubahan iklim yang menurunkan produktivitas pertanian serta mengganggu rantai pasok pangan dunia. Kondisi tersebut membuat setiap negara harus memperkuat produksi dalam negeri dan cadangan pangan nasional.

Rokhmin juga menyampaikan bahwa produksi beras nasional menunjukkan tren positif dan telah berada pada kondisi surplus. Namun demikian, tantangan ke depan bukan hanya produksi, tetapi juga memastikan akses pangan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Alhamdulillah, beras kita sudah surplus. Produksi mencapai sekitar 34 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 32 juta ton. Namun persoalan bukan hanya produksi, tetapi akses rakyat terhadap pangan yang adil dan merata,” kata Rokhmin.

Rokhmin menjelaskan beberapa komoditas strategis seperti jagung, garam, dan cabai telah mencapai swasembada. Sementara komoditas lain seperti gandum, kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih bergantung pada impor dan terus diupayakan peningkatan produksinya.

Selain itu, Rokhmin juga menyoroti pentingnya inovasi teknologi dalam sektor pangan sebagai jawaban atas tantangan global. Digitalisasi pertanian, bioteknologi, dan kecerdasan buatan dinilai dapat meningkatkan efisiensi produksi, distribusi, dan konsumsi pangan di masa depan.

Namun ia mengingatkan bahwa teknologi harus diintegrasikan dengan kebijakan yang berpihak pada petani, nelayan, dan masyarakat kecil agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

Ia juga mengingatkan krisis pangan bukan hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga dapat memicu instabilitas politik dan sosial di berbagai negara. “Pangan bukan hanya masalah ekonomi, tapi juga politik. Jika impor terganggu, harga pupuk dan pangan bisa melambung, rakyat menderita, dan stabilitas negara terancam,” kata dia.

Rokhmin menyampaikan pesan bahwa ketahanan pangan merupakan benteng terakhir bangsa.

“Ketahanan pangan adalah benteng terakhir yang menentukan daya tahan bangsa. Tanpa pangan yang cukup, sehat, dan terjangkau, ketahanan nasional akan rapuh menghadapi badai global,” ujar Rokhmin.

Seiring dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat sektor pertanian melalui peningkatan produksi, optimalisasi lahan, pembangunan dan rehabilitasi irigasi, penyediaan pupuk, modernisasi pertanian, serta penguatan cadangan pangan nasional.

Menurut Amran, ketahanan pangan bukan hanya program sektor pertanian, tetapi strategi besar negara dalam menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan politik nasional.

“Ketahanan pangan adalah benteng terakhir bangsa. Kalau pangan kita aman, negara aman. Kalau pangan terganggu, stabilitas bisa terganggu. Karena itu produksi harus terus meningkat, pertanian harus maju, dan cadangan pangan nasional harus kita perkuat,” kata Amran.

Mentan menambahkan bahwa ketahanan pangan harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa karena pangan merupakan faktor penentu kedaulatan dan masa depan bangsa Indonesia.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |