Konflik Global Tekan Rupiah, Ditutup di Level Rp 16.758 per Dolar AS

1 day ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan dan berkutat di level Rp 16.750-an per dolar AS. Pelemahan Mata Uang Garuda ini antara lain dipengaruhi konflik yang terjadi antara AS dan Venezuela. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 18 poin atau 0,11 persen menuju level Rp 16.758 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.740 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, terdapat berbagai sentimen yang memengaruhi tertekannya nilai tukar rupiah, baik dari faktor eksternal maupun internal. Faktor sentimen eksternal terutama dipicu insiden penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro atas perintah Presiden AS Donald Trump.

“Wakil Presiden Maduro, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai presiden sementara pada hari Senin. Meskipun ia menyampaikan dukungan untuk Maduro, tidak jelas apakah ia berencana untuk menentang intervensi AS. Laporan pada Senin menunjukkan bahwa intelijen AS memandang Rodriguez sebagai orang yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan sementara,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).

Diketahui, pada Senin, Maduro menyatakan tidak bersalah atas tuduhan AS terkait distribusi narkotika. Ia, yang muncul di pengadilan New York beberapa hari setelah penangkapannya di Caracas oleh pasukan AS, menegaskan bahwa dirinya masih merupakan presiden Venezuela.

“Penangkapan Maduro, yang menurut Trump dilakukan tanpa persetujuan Kongres, mengejutkan pasar global minggu ini. Trump mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela dan membuka industri minyak negara itu, mengundang perusahaan minyak besar Amerika untuk berinvestasi di negara tersebut,” jelas Ibrahim.

Sementara itu, data ekonomi AS mengungkapkan bisnis manufaktur terus menunjukkan prospek yang suram. Indeks PMI Manufaktur ISM AS untuk Desember 2025 turun menjadi 47,9, meleset dari perkiraan 48,3 dan turun dari 48,2 pada November.

“Hal ini menandakan penurunan lebih lanjut dalam aktivitas manufaktur. Angka tersebut menandai bulan kontraksi kesepuluh berturut-turut dan menggarisbawahi pelemahan yang terus-menerus di sektor ini,” ujarnya.

Selain itu, Ibrahim melanjutkan, komentar Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari yang tetap bersikap hawkish menilai inflasi masih terlalu tinggi. Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter kini lebih dekat ke posisi netral. Kashkari juga menggambarkan pasar tenaga kerja berada dalam lingkungan “perekrutan rendah, pemecatan rendah”, yang menunjukkan perputaran terbatas ketimbang penurunan yang nyata.

Sentimen Internal

Sementara itu, dari dalam negeri, fluktuasi pergerakan rupiah terjadi seiring rilis data inflasi tahunan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen secara bulanan (month to month/mtm). Dengan demikian, sepanjang 2025 Indonesia mencatat inflasi sebesar 2,92 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Capaian inflasi 2025 sebesar 2,92 persen masih berada dalam kisaran target pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen. Namun, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi 2024 yang tercatat sebesar 1,57 persen maupun inflasi 2023 sebesar 2,61 persen.

Penyumbang utama inflasi Desember 2025 secara bulanan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 1,66 persen dan andil inflasi mencapai 0,48 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok tersebut antara lain cabai rawit dengan andil inflasi 0,17 persen, daging ayam ras 0,09 persen, bawang merah 0,07 persen, ikan segar 0,04 persen, serta telur ayam ras 0,03 persen.

Komoditas lain yang turut memberi andil inflasi yakni emas perhiasan sebesar 0,07 persen, bensin 0,03 persen, serta tarif angkutan udara 0,02 persen. BPS juga mencatat masih terdapat komoditas yang memberi andil deflasi pada Desember 2025, yakni cabai merah dengan andil deflasi 0,03 persen.

Adapun penyumbang utama inflasi Desember 2025 secara year on year adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi 1,33 persen. Komoditas utamanya meliputi cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras.

Komoditas penyumbang utama inflasi sepanjang 2025 antara lain emas perhiasan, cabai merah, ikan segar, cabai rawit, dan beras.

BPS mencatat sejumlah peristiwa penting yang berpengaruh terhadap indikator harga, di antaranya tren kenaikan harga emas dunia yang berlanjut hingga akhir 2025 serta penyesuaian batasan harga jual eceran (HJE) hasil tembakau. Pemerintah kembali menyesuaikan HJE hasil tembakau pada 1 Januari 2025 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97 Tahun 2024.

Selain itu, terdapat pula program diskon tiket transportasi. Pemerintah menerapkan paket stimulus ekonomi pada akhir 2025 berupa program diskon tiket transportasi pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |