Konsistensi Pendidikan Darunnajah di Tengah Arus Perubahan Zaman

10 hours ago 6

Oleh : Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sampai detik ini wacana pendidikan nasional kerap berubah haluan secara periodik, ganti menteri, ganti kebijakan tetap menjadi wajah kebijakan pendidikan kita saat ini. Ini berakibat kepada banyak lembaga yang gamang untuk menemukan format terbaiknya.

Tidak sedikit lembaga pendidikan yang terombang-ambing antara tren dan tuntutan pasar yang berakibat hilangannya nilai pendidikan. Tapi ada juga yang tetap teguh dengan peta pendidikannya. Pesantren Darunnajah adalah salah satu dari lembaga pendidikan itu. Keteguhannya bukan berasal dari kekakuan, melainkan dari sebuah konsistensi logis, sebuah alur berpikir dari Goal (Visi) hingga Tactic (Aksi) yang rapi.

Visi atau Goal-nya jelas, "mencetak pemimpin mutafaqqih fiddi"n. Ini adalah visi. Darunnajah tidak berpretensi menciptakan generasi serba-bisa yang cair identitasnya. Ia ingin melahirkan pemimpin yang akarnya kokoh, kuat ke dalam ilmu agama, sementara dahannya siap menjangkau realitas umat dan bangsa. Visi ini menjadi “inti” yang memompa setiap detak jantung kehidupan pesantren urban ini.

Namun, harus kita ingat, visi sehebat apa pun hanya akan menjadi slogan, apabila tidak didampingi strategi yang tepat. Nah, di sinilah kecerdasan pesantren di kota metropolitan ini terlihat. Alih-alih mencipta sistem dari nol dengan segala risiko trial and error-nya, pesantren ini dengan kesadaran dan penuh keyakinan mengadopsi sistem Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI).

KMI adalah strategi besar (strategy) yang telah teruji puluhan tahun dalam melahirkan ulama yang intelek. Pilihan ini menegaskan bahwa jalan menuju cita-cita luhur sudah ada petanya; tinggal bagaimana kita menapakinya dengan setia dan kreatif.

Kreativitas itu terwujud dalam tahap Plan (Rencana). Darunnajah tidak sekadar menjiplak KMI. Mereka melakukan kontekstualisasi yang cerdas, melahirkan Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI). Inilah bentuk realistis pesantren ini.

TMI adalah KMI yang telah “berdialek” diselaraskan dengan kultur lokal, kekhasan tradisi, dan tuntutan regulasi pendidikan nasional. Proses ini sangat krusial karena menjembatani strategi universal dengan realitas kekinian yang spesifik, dengan tetap menjaga relevansi sehingga tidak kehilangan visi.

Pada akhirnya, semua visi itu harus membumi dalam kehidupan konkret, napak, tidak ngawang-ngawang atau istilah katanya "Visi melangit, realitas membumi". Di sinilah level Tactic (Taktik) berbicara.

Inilah wajah Darunnajah yang dilihat santri setiap hari: kurikulum terpadu 24 jam yang menyatukan ilmu dan amal; penekanan pada penguasaan bahasa sebagai jembatan ilmu; pembinaan karakter melalui keteladanan guru (uswah hasanah) yang hidup bersama; serta laboratorium kepemimpinan riil di organisasi santri dan kehidupan asrama. Taktik-taktik inilah yang mengubah konsep tinggi menjadi sikap, keterampilan, dan mental pemimpin.

Dalam konteks pendidikan nasional yang kerap terjebak pada wacana dan perubahan kurikulum instan, metode Darunnajah ini layak menjadi cermin. Keberhasilannya tidak datang dari kebetulan, melainkan dari disiplin berpikir dan bertindak dalam kerangka GSTP yang jelas.

Mereka membuktikan bahwa untuk melahirkan pemimpin yang konsisten, lembaga pendidikannya harus terlebih dahulu konsisten pada peta jalannya sendiri. Di era VUCA, keteguhan pada visi yang jelas-lah yang akan membawa pendidikan ke tujuannya.

Mungkin inilah pelajaran terpenting yang bisa kita petik, sebelum sibuk mencari formula baru, sebaiknya kita setia dan tuntas menjalani formula yang sudah ada di hadapan kita. Karena pada hakikatnya pesantren bukan sekedar lembaga atau organisasi pendidikan, tapi dia adalah organisme yang terus belajar, bertahan, menyesuaikan diri dan mendorong perubahan.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |