REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) satu hari dalam sepekan tidak akan memberi dampak berarti terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional. Menurut CELIOS, skema yang mulai berlaku setiap Jumat itu terlalu kecil untuk memengaruhi struktur konsumsi energi domestik.
Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengatakan konsumsi BBM nasional selama ini bukan ditopang oleh mobilitas ASN, melainkan didominasi sektor logistik dan industri. Karena itu, pengurangan perjalanan ASN ke kantor satu hari dalam sepekan dinilai tidak cukup kuat untuk menurunkan konsumsi BBM dalam skala nasional.
“Kalau konsumsi BBM nasional kita itu bukan dari ASN, tetapi didominasi oleh sektor logistik dan industri,” kata Wahyu kepada Republika.co.id, Rabu (1/4/2026).
Ia menilai dampak penghematan dari kebijakan tersebut sangat kecil jika diukur terhadap keseluruhan beban subsidi energi nasional. Dalam pandangan CELIOS, langkah itu belum menjawab tekanan fiskal dan lonjakan biaya energi yang sedang dihadapi pemerintah.
“Efek riilnya mungkin tidak sampai 1 persen dari total subsidi energi nasional kita,” ujar Wahyu.
Sebelumnya, pemerintah mulai menerapkan delapan kebijakan baru per 1 April 2026 sebagai respons atas dinamika global dan upaya efisiensi di dalam negeri. Salah satu kebijakan utamanya ialah WFH setiap Jumat bagi ASN pusat dan daerah, disertai pembatasan kendaraan dinas, pemangkasan perjalanan dinas, serta dorongan penggunaan transportasi publik. Pemerintah menyebut kebijakan itu sebagai bagian dari transformasi budaya kerja nasional yang lebih adaptif dan efisien.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari transformasi budaya kerja nasional agar lebih adaptif dan produktif di tengah tekanan global. Pemerintah juga memperkirakan penerapan WFH dapat menekan kompensasi BBM hingga Rp 6,2 triliun.
Namun, CELIOS menilai asumsi penghematan itu perlu dilihat lebih hati-hati. Wahyu mengatakan WFH tidak otomatis menghapus konsumsi energi, melainkan berpotensi hanya memindahkan beban penggunaan energi dari kantor ke rumah tangga.
“WFH bukan berarti menghilangkan konsumsi energi. Akhirnya konsumsi itu pindah ke rumah, dari kantor pindah ke rumah,” tuturnya.
Ia menjelaskan penggunaan listrik rumah tangga berpotensi meningkat saat ASN bekerja dari rumah, mulai dari pendingin ruangan, laptop, hingga internet. Pada saat yang sama, mobilitas masyarakat juga belum tentu benar-benar turun karena sebagian orang tetap beraktivitas di luar rumah atau bekerja dari lokasi lain seperti kafe.
Dari sisi birokrasi, CELIOS juga mengingatkan adanya risiko penurunan produktivitas jika pola kerja tidak dibarengi sistem pengawasan dan target kinerja yang ketat. Menurut Wahyu, biaya dari potensi penurunan produktivitas tersebut bisa saja lebih besar dibanding penghematan BBM dari berkurangnya perjalanan harian ASN.
“Bisa jadi kerugian karena penurunan produktivitas ini melampaui penghematan yang terjadi karena tidak commute,” katanya.
Kebijakan WFH ASN sendiri diperkuat melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 800.1.5/3349/SJ. Dalam aturan itu, pemerintah daerah diminta menerapkan kombinasi work from office (WFO) dan WFH, mempercepat layanan digital, serta menghitung potensi penghematan anggaran dari perubahan pola kerja tersebut.
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan kebijakan itu diarahkan untuk mendorong transformasi budaya kerja ASN daerah yang lebih efektif dan efisien. Unit layanan publik langsung tetap diminta bekerja dari kantor, sedangkan unit pendukung dapat menjalankan WFH secara selektif dengan tetap menjaga capaian kinerja.
CELIOS berpandangan, jika pemerintah ingin menekan konsumsi energi dan dampak kenaikan harga minyak global, kebijakan yang ditempuh seharusnya lebih menyasar sektor yang menyumbang konsumsi energi terbesar. Wahyu menilai subsidi transportasi massal dan efisiensi belanja pemerintah yang tidak efektif akan lebih terasa dampaknya dalam jangka pendek.

11 hours ago
12













































