REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat perang terhadap Iran memasuki hari ke-18, harga emas, yang biasanya dianggap sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian, justru tetap stabil secara tak terduga. Sejak Amerika Serikat dan Israel pertama kali melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, konflik telah meningkat di seluruh kawasan, memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap ekonomi global.
Pada 2 Maret 2026, Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengumumkan bahwa Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia ditutup. Langkah ini mendorong harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel. Harga saham juga turun selama dua pekan terakhir di tengah ketidakpastian terkait perang terhadap Iran.
Lantas, kenapa harga emas tidak melonjak?
Dikutip dari Aljazeera, harga emas secara umum tetap stabil di kisaran 5.000 dolar AS per ons dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (17/3/2026), harga emas spot hampir tidak berubah di angka 5.001,36 dolar AS per ons pada pukul 11.00 GMT. Emas spot adalah harga pembelian dan penjualan emas fisik untuk pengiriman segera. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik tipis 0,1 persen menjadi 5.005,20 dolar AS.
Minimnya pergerakan ini mengejutkan, mengingat harga emas biasanya melonjak saat krisis ekonomi ketika investor mencari aset aman untuk melindungi dana mereka. Hal ini terutama berlaku dalam periode konflik global.
Sebagai contoh, ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, harga emas melonjak tajam, kata Remi Bourgeot, ekonom di Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis di Paris sekaligus penulis platform analisis Epistelem, kepada Al Jazeera.
Sanksi yang kemudian dijatuhkan negara-negara Barat terhadap Rusia menciptakan gelombang kepanikan di kalangan bank sentral dan sepenuhnya mengubah dinamika harga emas. Negara seperti China melakukan pembelian besar-besaran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Namun, dalam perang AS-Israel terhadap Iran, respons yang terjadi berbeda.
Para pelaku pasar memperkirakan, bank sentral AS atau Federal Reserve akan menghentikan pemangkasan suku bunga. Bahkan mungkin menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi yang meningkat. Hal ini disampaikan James Meadway, mantan penasihat ekonomi kanselir bayangan Inggris dan kini anggota dewan Progressive Economy Forum.
“Kondisi ini membuat aset berbasis dolar lebih menarik dan emas, yang tidak memberikan bunga, menjadi kurang diminati,” kata Meadway.
Ia menambahkan bahwa investor sebelumnya telah memperkirakan adanya penurunan suku bunga AS. Faktor lain adalah kinerja emas yang sudah kuat sejak awal tahun ini.
“Harga emas sudah naik begitu tinggi sebelumnya sehingga kini kurang bereaksi terhadap perang,” ujarnya.
Rebecca Christie, peneliti senior di lembaga pemikir Bruegel, juga menyampaikan hal serupa. Ia mencatat bahwa harga emas tahun ini telah berada jauh di atas level historis.
Ada faktor lain yang turut berperan. Menguatnya dolar AS, sementara emas diperdagangkan dalam dolar, membuat investor lebih sulit mendorong harga emas lebih tinggi.
“Selain itu, penguatan dolar juga menjadi alternatif aset aman, dan kenaikan harga minyak kemungkinan memicu inflasi lebih tinggi, yang turut meningkatkan daya tarik dolar,” kata Christie.

7 hours ago
5






































