
Oleh : Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Penasehat Institute for Democracy Education (IDe)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari ini, 19 Maret, KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Tingkat Menteri Luar Negeri untuk menyikapi eskalasi agresi Israel-AS terhadap Iran dan balasan Iran.
Balasan Iran tidak hanya menyerang infrastruktur militer AS di GCC – terdiri dari Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait – plus Irak dan Yordania, tapi juga infrastruktur energi di kawasan setelah menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati tanker-tanker internasional membawa 20 persen kebutuhan minyak global.
Keputusan OKI akan menentukan apakah eskalasi bertambah buruk atau berpotensi menghentikan agresi AS-Israel.
Pada 18 Maret, Iran melancarkan serangan rudal ke fasilitas gas utama Qatar di Ras Laffan, fasilitas gas Habshan di Abu Dhabi (UEA), dan dua kilang Arab Saudi di Riyadh. Ini merupakan balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars Iran menggunakan langit di dawasan Arab.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan akan konsekuensi yang tak dapat dikontrol yang bisa menjerumuskan seluruh dunia. Sikap Iran ini tak bisa dilepaskan dari pembunuhan Israel terhadap Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani, Komandan paramiliter Basjid, serta Menteri Intelijen Iran Ismail Khatib.
GCC sejak awal melobi Presiden AS Donald Trump untuk tidak melancarkan perang terhadap Iran yang merupakan agenda Israel pimpinan PM Benjamin Netanyahu. Walakin, Trump tak menggubris karena menganggap serangan taktis gabungan AS-Israel terhadap Iran akan berlangsung singkat karena Iran akan keos setelah pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei, dan pemimpin teras militernya terbunuh, sehingga pergantian rezim (regime change) dimungkinkan. Ketika agresi AS-Israel dilancarkan, 28 Februari, GCC menyatakan netral terhadap perang ini dan mengungkapkan penyesalannya karena Trump dan Netanyahu lebih memilih perang ketimbang jalan diplomatik.
Kecemasan mereka meningkat setelah terbukti objektif perang Trump-Netanyahu tak membuahkan hasil dan perang berkepanjangan dengan GCC, bersama Irak dan Yordania, yang kesemuanya menampung pangkalan militer AS, jadi sasaran Iran.
Di luar dugaan Trump dan Netanyahu, Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan balik yang mematikan. Banjir rudal dan drone Iran ke kota-kota di Israel tak sepenuhnya bisa ditangkis pertahanan udara berlapis Israel, menghancurkan situs-situs strategis, dan menewaskan tentara maupun warga sipil Israel. Tak berhenti sampai di situ, IRGC juga menyasar semua pangkalan militer AS di sana.
Awalnya, Iran menyatakan tetap melihat GCC sebagai negara sahabat dan hanya menyasar kepentingan AS di sana. Tapi sasaran Iran meluas setelah AS dan Israel menyerang infrastruktur sipil Iran, seperti sekolah, rumah sakit, pemukiman sipil, dan depot minyak Iran di Teheran. Serangan di sekolah SD di Minab menewaskan lebih dari 170 murid, mayoritas perempuan.
Kendati menyatakan netral, GCC, Yordania, dan Irak tidak mengutuk agresi AS-Israel. Mereka pun tidak mengirimkan ucapan belasungkawa terhadap kematian Khamenei. Padahal, pembunuhan pemimpin dan pejabat sebuah negara berdaulat tidak dibenarkan hukum internasional.
Yang juga membuat Iran kecewa, langit negara-negara di kawasan dilintasi dengan bebas oleh jet-jet tempur Israel dan pesawat-pesawat pembom AS tanpa dihadang sistem pertahanan udara negara-negara Arab itu. Sebaliknya, mereka menembak drone dan rudal Iran menggunakan senjata AS.
Maka, Iran mulai menyerang bandara-bandara di GCC, Irak, dan Yordania, dan menutup Selat Hormuz disertai serangan terhadap tanker-tanker internasional. Pemboman AS atas Pulau Kharg di Teluk, infrastruktur ekspor 90 persen minyak Iran, menyebabkan eskalasi meningkat dengan cepat. Terlebih, serangan itu dilancarkan AS dari UEA. Dan memperburuk situasi kawasan menyusul AS mengebom ladang gas Iran. Perang bertransformasi menjadi perang ekonomi.
Tindakan-tindakan Iran terhadap negara tetangga dan penutupan Selat Hormuz menggerus pendapatan GCC dan Irak serta melemahkan kinerja ekonomi mereka. Latar belakang inilah yang membuat kesabaran Qatar berakhir.
Doha mengusir atase keamanan dan militer Iran pasca IRCG menyerang ladang gasnya. Arab Saudi mengatakan kepercayaannya kepada Iran lenyap dan mengancam akan mengaktivasi pakta militernya dengan Pakistan yang memiliki senjata nuklir. Tentu saja Riyadh tak akan melakukannya dan Pakistan pun tak bakal menjatuhkan bom nuklir di Iran, sahabat Pakistan dan memiliki pendukung besar di Pakistan. Penggunaan senjata nuklir Pakistan pada konteks ini merupakan Tindakan bunuh diri.
Bangsa Arab pun tak ingin rezim mullah Iran jatuh berkeping yang mengancam keamanan Teluk. Di luar itu, mereka juga tak ingin Iran diperintah oleh kacung-kacung Israel dan AS saat mereka sedang terpuruk ditinggal AS-Israel yang menghadirkan bencana di kawasan. Cita-cita lama Netanyahu untuk menjadi satu-satunya kekuatan hegemon utama di kawasan akan terwujud. Sementara, sulit mengharapkan Iran menghentikan perang tanpa penyelesaian Apakah OKI akan mengeluarkan resolusi yang mengecam Iran dan menyerukan untuk menghentikan serangan terhadap bangsa Arab tanpa mengecam AS-Israel?
Di dalam OKI terdapat 6 negara Arab – UEA, Bahrain, Mesir, Yordania, Maroko, dan Sudan – yang sudah berdamai dengan Israel. Kalau nanti terkesan OKI berpihak pada aggressor AS-Israel, maka yang akan terjadi adalah memperbesar krisis.
Perang ini adalah perang eksistensial bagi Iran dan, kendati kapasitas militernya terkikis, Teheran masih punya stok senjata cukup untuk perang panjang. Yang lebih berbahaya, bila OKI mengutuk tindakan Iran yang merugikan bangsa Arab tanpa mengaitkannya dengan agresi AS-Israel, akan dilihat Iran sebagai alarm bahaya karena Dunia Islam melegitimasi agresi Trump-Netanyahu. Dus, tindakan Iran terhadap GCC, Irak, dan Yordania akan semakin keras.
Masih ada senjata terbaru Iran yang belum digunakan selama perang. Ketika pihak-pihak yang berperang tak memiliki senjata yang seimbang, maka pihak yang lemah akan memilih perang asimetris. Konteks inilah yang mendorong tindakan-tindakan Iran terhadap negara-negara Arab tetangga guna melemahkan AS dan Israel secara politik. Krisis keuangan dan energi global yang dipicu ambisi pribadi Netanyahu dan Trump tanpa mereka mampu mengatasinya telah menjatuhkan reputasi AS dan Israel sebagai kekuatan militer terhebat tingkat regional dan internasional. Ketidakpedulian pada multilateralisme, meminggirkan sekutu di Eropa dan Timteng, dan kehendak untuk melenyapkan tatanan internasional berbasis hukum, membuat AS-Israel kian terisolasi.
Trump bahkan harus menghadapi protes publik AS yang harus memikul dampak perang yang signifikan terhadap kehidupan mereka akibat kenaikan harga barang. Sebelumnya mereka sudah cukup terpukul dengan kebijakan tarif Trump. Sekutu Barat ogah terlibat perang ciptaan Trump-Netanyahu untuk membantu AS ketika perang ini tidak dikonsultasikan dengan mereka.
Bahkan Trump ketika itu mengatakan ia tak membutuhkan NATO. Israel menghadapi tantangan yang tak kurang sulitnya. Netanyahu dengan percaya diri menelikung Trump untuk merobohkan rezim mullah karena menganggap Hizbullah, proksi Iran di Lebanon, telah lumpuh. Asumsi ini keliru.
Hari ini Hizbullah membanjiri Israel utara dengan roket yang berhasil menerjang situs-situs strategis Israel dan membuat warganya mengungsi. Serangan darat Israel dipukul mundur Hizbullah. Beberapa tentara Israel tewas.
Sementara serangan Iran ke Dimona, situs nuklir Israel, dilaporkan mengena sasaran. Alhasil, kendati harus menghadapi kehancuran infrastruktur dan kematian sekitar 1.500 warganya, Iran mendominasi Teluk. Dengan cerdik, Iran membuka Selat Hormuz bagi negara yang meminta izinnya kecuali tanker-tanker yang terkait dengan AS dan Israel. India, Pakistan, Perancis, Kanada, China, dan negara Eropa lainnya berbondong-bondong mendatangi Teheran untuk negosiasi bagi izin navigasi kapal mereka di Selat Hormuz.
Dus, permintaan pertolongan Trump kepada negara yang mengimpor minyak dari Teluk untuk bersama-sama membuka Selat Hormuz secara paksa tak digubris. Karena ilegal dan berbahaya. Perang tanpa resolusi DK PBB kini menghadapkan Trump-Netanyahu pada situasi sulit. Mereka terperangkap dalam kobaran api yang mereka nyalakan sendiri.
Dus, kecil kemungkinan AS-Israel akan memenangkan perang. Di pihak lain, pertahanan AS di Asia-Pasifik dan Eropa melemah akibat pengalihan aset militernya dari Jepang dan Korea Selatan dan Eropa ke Timteng. Hal ini membuat Taiwan dan sekutu di Eropa rentan terhadap invasi China dan Rusia. Setidaknya, sumber daya AS terkuras yang menguntungkan Rusia-China.
Alhasil, kalau Iran berhasil melaksanakan perang panjang, Israel dan AS akan menanggung kekalahan kolosal yang belum pernah dialami AS sepanjang sejarahnya dan belum pernah diderita Israel sejak berdiri pada 1948. AS akan tersingkir dari kawasan untuk digantikan oleh Rusia dan China, dan pamor Iran di panggung internasional menjulang tinggi. Kalau OKI tak bisa membaca realitas ini sehingga mengeluarkan sikap yang melawan arus sejarah, maka krisis akan berkepanjangan, kerusakan Arab meluas, dan warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang hari ini masih dizalimi Israel berpotensi menambah krisis di negara-negara anggota OKI.
Jalan terbaik bagi OKI adalah menyatukan sikap mengecam AS dan Israel. Tak perlu takut akan dihukum AS. Trump tidak dalam posisi untuk menambah musuh. Malah, sikap OKI yang tegas menentang AS-Israel akan memaksa keduanya mengakui kekalahan. Yang dengan demikian akan mengakhiri perang sebelum semuanya menjadi terlambat. Dunia sedang berproses menuju polarisasi yang tidak lagi menjadikan AS sebagai imperium dunia. Maka pada momentum yang genting ini diperlukan kearifan politik dunia Islam sehingga berkontribusi bagi pembangunan tatanan dunia baru yang tertib dan beradab, yang memungkinkan tersebarnya kekuatan dunia yang lebih berkeadilan.
Tangsel, 19 Maret 2026
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
4








































