PCNU Jaktim Didorong Perkuat Dakwah Moderat

1 hour ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Timur didorong memperkuat perannya sebagai penjaga Islam yang teduh dan moderat di tengah maraknya hoaks, polarisasi sosial, dan budaya digital yang serba instan. Di wilayah yang dinilai sebagai miniatur keberagaman Indonesia itu, NU dinilai perlu hadir menjaga harmoni sosial sekaligus membimbing masyarakat menghadapi perubahan zaman.

Ulama Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta sekaligus Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta periode 2018-2023, Assc Prof Dr KH Didi Supandi mengatakan, tantangan masyarakat saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi dan pendidikan, tetapi juga derasnya arus informasi yang memicu fanatisme dangkal hingga lunturnya nilai kebersamaan.

“Jakarta Timur itu unik. Ia bukan sekadar wilayah administratif. Ia seperti dapur besar Indonesia. Orang Betawi ada. Orang Sunda datang. Orang Jawa menetap. Orang Madura berdagang. Orang Padang membuka rumah makan. Semua bercampur seperti sayur asem,” ujar Kiai Supandi dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).

Kiai Supandi mengatakan keberagaman masyarakat Jakarta Timur menjadi modal sosial yang harus dijaga melalui pendekatan keagamaan yang menyejukkan dan inklusif. Karena itu, NU dinilai perlu hadir lebih aktif membimbing masyarakat di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

“NU berdiri bukan sebagai menara gading, melainkan gardu ronda peradaban. Menjaga agar masyarakat tidak kehilangan arah ketika modernitas berlari terlalu cepat,” katanya.

Ia mengingatkan pembangunan kota tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga perlu diimbangi dengan penguatan akhlak dan toleransi sosial di tengah masyarakat.

“Kita bangga Jakarta punya gedung tinggi, tetapi lupa meninggikan akhlak. Kita sibuk memperluas jalan tol, tetapi hati malah makin sempit menerima perbedaan,” ujarnya.

Menurut dia, perkembangan media sosial saat ini turut mengubah cara masyarakat memahami agama. Kiai Supandi menilai ruang digital sering melahirkan pola beragama yang instan dan minim pendalaman nilai adab.

“Hari ini orang bisa hafal dalil lewat TikTok dalam satu menit, tetapi tidak sempat belajar adab bertahun-tahun. Orang mudah berkata ‘haram’ kepada sesama, tetapi sulit berkata ‘maaf’ kepada tetangga,” katanya.

Karena itu, ia mendorong NU tetap konsisten menghadirkan dakwah yang santun, moderat, dan mampu menjangkau generasi muda melalui media digital tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren.

“Dakwah hari ini bukan hanya di mimbar. Dakwah harus hadir di media sosial dengan ilmu, humor, dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Kiai Supandi juga menekankan pentingnya regenerasi di tubuh NU agar organisasi tetap relevan menghadapi tantangan zaman. Menurut dia, penguatan kader muda perlu dibarengi dengan pelestarian nilai tawadhu dan tradisi Islam Nusantara yang menjadi ciri khas NU.

Ia optimistis PCNU Jakarta Timur mampu menjadi contoh Islam perkotaan yang membumi dan menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk.

“NU harus terus berjalan. Pelan tidak apa-apa. Yang penting jangan kehilangan arah. Karena tugas kita bukan sekadar membesarkan organisasi, tetapi menjaga agar Indonesia tetap punya hati,” kata Kiai Supandi.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |