Revly Haiqal Bais
Info Terkini | 2026-04-10 17:56:17
Selasa sore, 28 Oktober 2025 - suasana di Pelataran PPG UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terasa berbeda dari biasanya. Langit yang mulai meredup tidak menyurutkan semangat puluhan kader yang berkumpul dalam satu momentum penting: memperingati Sumpah Pemuda dengan cara yang lebih hidup, lebih reflektif, dan lebih relevan dengan realitas hari ini.
Mengusung tema “Dari Generasi Heroik ke Generasi Patriotik: Meneguhkan Kembali Api Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Identitas Anak Muda”, kegiatan yang diinisiasi oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Distrik PIPS ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi ruang perenungan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, krisis identitas di kalangan generasi muda bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang kian nyata.
Di era ketika batas budaya semakin kabur dan nilai-nilai lokal perlahan tergerus, generasi muda dihadapkan pada dilema: menjadi bagian dari dunia modern tanpa kehilangan jati diri. Di sinilah kegiatan ini mengambil peran. Tidak dengan cara yang kaku, melainkan melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak muda.
Acara dibuka dengan puisi berantai, sebuah simbol bahwa suara generasi tidak pernah tunggal, melainkan saling menyambung, saling menguatkan. Setiap bait yang dibacakan seolah menjadi refleksi kegelisahan sekaligus harapan tentang masa depan, tentang identitas, tentang Indonesia.
Kemudian, tari daerah yang ditampilkan menjadi pengingat bahwa akar budaya tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu untuk dirawat kembali. Di tengah modernitas, gerakan-gerakan tradisional itu justru tampil sebagai bentuk perlawanan yang halus namun bermakna.
Tidak berhenti di situ, orasi-orasi kritis yang disampaikan para kader menggugah kesadaran kolektif. Mereka tidak hanya berbicara tentang romantisme sejarah, tetapi juga menyoroti realitas kekinian mulai dari degradasi nilai kebangsaan hingga tantangan digitalisasi yang membentuk pola pikir generasi muda.
Menariknya, kegiatan ini tidak melulu serius. Stand up comedy yang disisipkan menjadi oase, menghadirkan tawa yang cerdas sekaligus kritik sosial yang tajam. Sementara akustikan bersama di penghujung acara mengikat seluruh peserta dalam suasana kebersamaan menegaskan bahwa perjuangan tidak selalu harus kaku, tetapi bisa hangat dan penuh makna.
Lebih dari sekadar rangkaian acara, momentum ini menjadi ajang merajut kaderisasi dan memperkuat silaturahmi antar kader HMI Distrik PIPS. Di tengah fragmentasi sosial yang kerap terjadi, ruang-ruang seperti ini menjadi penting untuk menjaga solidaritas dan memperkuat identitas kolektif sebagai generasi penerus bangsa.
Narasi besar yang ingin disampaikan jelas: bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai teks sejarah. Ia harus terus dihidupkan, diterjemahkan, dan diperjuangkan dalam konteks zaman yang terus berubah.
Dari generasi heroik tahun 1928 yang berani bersumpah untuk satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa kini estafet itu berada di tangan generasi patriotik. Generasi yang tidak hanya mengenang, tetapi juga bertindak. Generasi yang tidak hanya bangga menjadi Indonesia, tetapi juga berani menjaga dan merawatnya.
Dan di Pelataran PPG sore itu, api itu api yang pernah dinyalakan hampir satu abad lalu kembali menyala. Tidak besar, mungkin. Tapi cukup untuk menerangi jalan pulang: pulang pada jati diri sebagai pemuda Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
13











































