Pacaran...

7 hours ago 14

Image Moe Hadir Wastari

Senggang | 2026-04-10 19:13:52

Sumber : Pinterest

PACARAN
Oleh : Moe Hadir Wastari

Eit.. jangan salah paham dulu. Mengawali tulisan memakna sebuah kata ini, saya memulai dengan judul pacaran. Karena biasanya pacaran menjadi bahasan pembicaraan yang asyik, terutama buat muda mudi. Dengan harapan pacaran yang nanti saya maksud akan menjadi bahan pembicaraan yang asyik pula. Alhamdulillah saya menikah tahun 2005 tidak memalui proses pacaran. Dan pacarannya setelah menikah. Asyik juga tuh.

Pacaran sesungguhnya adalah sebuah aktifitas yang dapat menghadirkan pahala bagi pelakunya. Jika cara berfikir dan cara bertindak kita dalam kerangka kebaikan. Kebaikan yang diharapkan dan diajarkan oleh Islam.

Sebaliknya, pacaran bisa mendatangkan dosa. Jika cara berfikir dan cara bertindak kita masuk dalam jebakan atau amaliah syaithan. Ingat, syaithan itu musuh dan harus dijadikan musuh yang nyata. Lantas apa maksud pacaran, sehingga dapat mendapatkan pahala bagi pelakunya? Simak baik-baik.

Pelajari. Atau dalam pengertian yang lain adalah belajar. Belajar adalah proses pemahaman diri, pemahaman pikir, pemahaman rasa atau hati. Dalam Islam belajar adalah aktifitas yang mendapat perhatian begitu besar. Bagaimana Al Qur’an menggambarkan bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya beberapa derajat. Sebelum melakukan amal atau perbuatan, kita juga dituntut untuk memiliki dasar atau ilmunya.

Mari kita buka bersama Al Qur’an surat Al Isra ayat 36, “ Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya “.

Jadi jelas ya, bahwa kita sebagai manusia diminta untuk tidak mengikuti atau melakukan sesuatu yang belum tahu tentang ilmunya. Inilah pentingnya ilmu terlebih dahulu sebelum perbuatan. Orang bijak bilang, ilmu amaliyah amal ilmiyah. Bahasa sederhanya kalau punya ilmu kudu diamalkan, dan kalau memlakukan amal kudu punya ilmunya.

Oleh sebab itu, Islam sangat menghargai akan pentingnya ilmu atau belajar. Karena pentingnya para ulama terdahulu membandingkan sesuatu yang berharga dengan harta. Sebab orang pada umumnya menganggap bahwa harta adalah sesuatu yang sangat berharga. Akan tetapi para ulama menganggap bahwa ilmu itu adalah sesuatu yang sangat berharga dari pada ilmu.

Ilmu lebih berharga atau lebih utama dari pada harta, karena ilmu menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta bersusah payah memelihara atau menjaga harta atau kekayaannya. Ilmu lebih berharga dari pada harta, sebab jika ilmu menguasai harta, akan menjadi mulialah kedua-duanya.

Sebaiknya, jika harta menguasai ilmu, akan menjadi hinalah kedua-duanya. Ilmu lebih berharga dari pada harta, sebab kekayaan akan berkurang jika dibelanjakan atau diberikan, sedangkan ilmu pengetahuan akan bertambah jika dibagikan atau diberikan.

Dalam pepatah Arab disebutkan, “ Tuntutlah ilmu, karena ilmu menjadi hiasan bagi pemiliknya “. So ayo belajar ! Ayo menuntut ilmu! Agar hidup beroleh kemuliaan. Jangan sampai hidup digunakan untuk hal yang sia-sia. Rasulullah Saw juga sangat mengajurkan pengikutnya untuk belajar. Bahkan itu jadi sebuah kewajiban. “ Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan “.

Sahabat kebaikan nah kalau pelajari sudah, lalu apa yang dipelajari dalam maksud pacaran? Setelah P, berikutnya adalah A. A yang dimaksud adalah Al Qur’an.

Ya.. pelajari Al Qur’an. Memepelajari Al Qur’an bagi kita sebagai seorang muslim adalah bagian dari pada ibadah. Pedoman hidup ini akan semakin mudah dipahami jika kita mempelajarinya. Rasulullah Saw memotifasi kita untuk senantiasa memeplajari Al Qur’an. “Dari Utsman bin Affan Ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”. (HR Bukhari)

Kita mempelajari Al Qur’an agar dikelompokkan oleh Allah Swt sebagai shohibil Qur’an. Shohibul Qur’an adalah orang yang menghafal seluruh atau sebagian Al Qur’an atau terus menerus, membacanya dengan mentadaburi ayat-ayat, mengamalkan hukum-hukumnya, serta berakhlak dengan akhlaknya.

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash Ra berkata, bahwa Nabi Saw bersabfa, “Akan dikatakan kepada shohibul Qur’an, “Bacalah, naiklah dan tartirkanlah Al Qur’an sebagaimana kamu dahulu mentartilkannya didunia, karena tempatmu di sirga ialah pada akhir ayat yang kamu baca”. (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Jadi jelaslah mempelajari Al Qur’an memiliki keutamaan tersendiri. Jangan sampai keutaman itu terlewat begitu saja dalam hidup kita didunia, dan kita tidak mendapatkan apapun. Sangat merugi.

Berikutnya adalah C. C untuk cintai. Kata cinta adalah kata yang mampu merubah keadaan hidup seseorang. Orang akan merelakan dan memberikan apa yang dimilikinya kepada orang yang di cintainya. Ada dua jenis cinta dalam kehidupan ini, yang pertama adalah cinta secara syari dan yang ke dua adalah cinta yang tidak syari.

Cinta yang syari adalah mencintai segala sesuatu karena Allah Swt. Menutamakan Allah Swt dalam segala tindak perilakunya. Tidak menyekutukan Allah Swt dengan yang lainnya. Ketika mencintai orang tua kita, landasannya karena Allah Swt. Karenanya cinta kepada orang tua jangan sampai mengalahkan cintanya kepada Allah Swt.

Cinta yang tidak syari adalah mencintai sesuatu bukan karena Allah Swt. Ketika ada seorang laki-laki mencintai seorang perempuan karena kecantikannya, karena parasnya, karena kepintarannya dan bukan karena Allah Swt, inilah cinta yang tidak syari.

Dalam Raudatul Muhibbin, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah mengutarakan, “Kecintaanmu kepada sesuatu membuat engkau tuli dan buta”. Terntu kita tidak mau dibutakan oleh cinta, tidak mau ditulikan oleh cinta dengan menutup kebenaran.

Lalu siapa yang dicintai ? Yang dicintai oleh kita yang utama adalah Allah Swt. Ya, cintai Allah. Sebagai seorang muslim cinta kita yang utama hanya kepada Allah Swt. Dalam Al Qur’an, Allah Swt menjelaskan bahwa seorang mukmin itu dengan “Au asysyadu hubba lillah, amat sangat cintanya kepada Alah”.

Cinta kepada Allah Swt, menyebabkan Al Kholil Ibrahim As tidak mengikuti ajaran yang diantut oleh kaumnya termasuk orang tuanya dengan menyembah berhala. Cinta kepada Allah Swt, menjadikan Nabi Ismai’il As memberikan jawaban begitu teduh dan menyakinkan kepada ayahnya Nabi Ibrahim As untuk melakukan perintah Allah Swt untuk menyembelihnya.

Cinta kepada Allah Swt, membuat Nabiullah Nuh As tanpa reserve membuat bahtera untuk menyelamatkan kaumnya yang beriman. Cinta kepada Allah Swt, mengutakan kesabaran Nabi Ayyub As atas cobaan demi cobaan yang menimpanya.

Serelah mencintai Allah Swr, cinta berikutnya adalah kepada Rasulullah Swt. Ya, cintai Rasulullah Saw. Begitu agung peribadinya, begitu halus akhlaknya, begitu kasih sayang terhadap umatnya. Samapi-sampai yang diucapkan beliau adalah umatii, umatii. Begitu besar cinta Rasulullah Saw kepada umatnya.

Jika begitu besar rasa cinta beliau kepada umatnya, tentulah kita sebagai umatnya membalas dengan cinta kepada beliau Saw. Cinta yang bisa menyebabkan kita dicintai oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw, dihimpun oleh Allah Swt bersama beliau. Cinta kepada Raasulullah Saw yang menyebabkan para sahabat mulia rela berkorban untuk dakwah beliau.

Dengan hartanya, dengan jiwanya. Cinta kepada Rasulullah Saw yang menjadikan rela berpisah dengan istri, suami, anak dan keluarganya demi hijrah yang diserukan. Cinta kepada Rasulullah Saw yang bersegera meninggalkan kesenangan dunia demi seruan jihad yang dikumandangkan.

Mereka para sahabat radhiallahum ajma’in adalah generasi terbaik umat ini, mereka adalah para bintang gemintang yang bercahaya dan bertaburan di langit. Disebabkan rasa cinta yang begitu besar kepada Rasulullah Saw.

Mencintai Rasulullah Saw dalam bentuk mengikuti ajaran-ajarannya, meniru perilaku beliau, bersholawat ketika nama beliau disebut (Allahumma sholli’ala Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad), membaca siroh atau sejarah beliau. Ya Rabb, pertemukan kami dengan beliau, walau rasa cinta ini belum sebesar para sahabat yang mulia.

Sesudah Pelajari Al Qur’an, Cintai Allah dan Rasulullah Saw, memaknai kata pacaran adalah Amar maruf Nahi munkar. Amar maruf yakni menyeru dan mengajak orang yang berada disekitar kita untuk melakukan kebaikan. Menajak berarti menyampaikan seruan atau dakwah. Ia bia berupa dakwah bil qaul maupun dahwah bil hal, dakwah dengan perkataan ataupun dakwah dengan perbuatan.

Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebaikan walaupun sedikit, balighu ‘ani walau ayat. Sampaikan walaupun satu ayat. Sebab, dengan menyampaikan kebaikan kepada orang lain, dan orang yang kita ajak mendapat hidayah dan kesadaran untuk melakukan kebaikan, maka perbuatan itu lebih baik daripada unta merah.

“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung” QS. Ali Imron ayat 104.

Ayat ini menjadi motovasi kita untuk berusaha menyampaikan apa yang dimilikinya kepada orang lain. Sebab sebaik-baik perkataan adalah perkataan yang mengajak kepada kebaikan. Dengan menyampaikan kebaikan itulah kita digolongkan oleh Allah Swt menjadi bagian orang-orang yang beruntung.

Berikutnya adalah nahi munkar. Melarang, menahan dari berbuat keburukan. Keburukan yang dilakukan orang-orang sebelum kita, sesungguhnya dilakukan juga oleh orang-orang zaman sekarang. Yang membedakan hanya tempat dan waktunya saja. Perliakunya sama, yaitu keburukan. Oleh sebab itu, aktifitas yang dapat mendapatkan pahala disisi Alllah Saw adalah mencegah dari kemunkaran.

Dua hal diatas, yaitu amar maruf nahi munkar menjadi prasyarat untuk menjadi kuntum khairo ummat, kalian adalah umat yang terbaik. Dalam saurat Ali Imron ayat 110 Allah Swt menggabarkan bagaimana umat terbaik itu, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang maruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah ”.

Semoga memaknai pacaran dengan makna diatas, menjadikan aktifitas bernas. Menjadi hijrah makna, dari makana yang buruk menjadi makna yang baik. Dari aktifitas yang menjadi dosa menjadi aktifitas yang mendapatkan pahala. Walapun dalan Islam tidak dijumpai istilah pacaran, yang ada adalah taaruf sebagai pra untuk menuju pernikahan. Semoga bermanfaat

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |