Pemerintah Pertebal Cadangan Beras, Antisipasi Geopolitik dan El Nino

5 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiagakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk menghadapi gejolak geopolitik global dan ancaman El Nino dalam beberapa bulan ke depan. Kesiapan itu ditopang stok CBP yang kini telah menembus 4,5 juta ton.

Pemerintah memperkuat langkah tersebut melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026–2029. Melalui beleid itu, negara menargetkan pengadaan gabah atau setara beras sebanyak 4 juta ton pada 2026 guna mempertebal bantalan pangan nasional.

“Sekarang insya Allah beras kita aman di saat ada geopolitik yang memanas. Stok CBP kita 4,5 juta ton. Ini pertama dalam sejarah,” kata Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman di Jakarta, dikutip Selasa (7/4/2026).

Menurut dia, posisi stok yang tebal memberi ruang lebih besar bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Dalam struktur kebijakan baru itu, CBP juga disiapkan untuk menopang kebutuhan nasional ketika tekanan eksternal maupun gangguan iklim meningkat.

Penyaluran CBP dalam Inpres Nomor 4 Tahun 2026 dapat digunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pasar umum, bantuan pangan, dan tanggap darurat bencana. Cadangan itu juga dapat diarahkan untuk kebutuhan aparatur sipil negara (ASN), pemenuhan gizi nasional, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kerja sama internasional, hingga bantuan pangan luar negeri.

Amran menyampaikan penguatan stok beras saat ini merupakan capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut dia, posisi stok pada April biasanya berada di kisaran 2 juta ton, namun kini melonjak jauh di atas angka tersebut.

“Stok CBP kita tertinggi selama merdeka. 4,5 juta ton di seluruh Indonesia. Yang biasanya kalau April itu 2 juta ton stok di gudang, sekarang 4,5 juta ton,” ujar tokoh yang juga bertugas sebagai Menteri Pertanian itu.

Dalam catatan Bapanas, penguatan stok CBP dalam tiga tahun terakhir bergerak sangat cepat. Posisi 4,5 juta ton per awal April 2026 itu melonjak 507,5 persen dibandingkan awal April 2024 yang kala itu hanya 740,7 ribu ton.

Jika dibandingkan dengan awal April 2025, stok CBP tahun ini juga masih tumbuh 85,6 persen. Pada pekan pertama April tahun lalu, stok CBP tercatat berada di level 2,42 juta ton. Pemerintah memandang bantalan stok yang tebal penting untuk menghadapi ketidakpastian global, termasuk jika rantai pasok pangan dunia kembali terganggu. Dalam konteks domestik, cadangan itu juga menjadi instrumen antisipasi apabila musim kering mulai menekan produksi di sejumlah wilayah.

Amran menilai fenomena El Nino tidak selalu berdampak negatif terhadap produksi. Dalam kondisi tertentu, ia menyebut musim kering justru dapat menekan serangan hama dan mendukung kualitas hasil panen. “El Nino nanti justru berkah karena biasanya kurang hama, biasanya kualitas panennya luar biasa karena fotosintesis penuh. Kualitas gabahnya bagus, jadi petani bahagia,” ujarnya.

Untuk menjaga gairah produksi di tingkat petani, pemerintah tetap mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen di level Rp 6.500 per kilogram. Instrumen itu dipakai agar harga gabah tidak jatuh saat musim panen raya berlangsung.

Kebijakan HPP tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara penguatan stok nasional dan kesejahteraan petani. Pemerintah ingin penebalan CBP tidak dibayar dengan anjloknya harga gabah di tingkat produsen. “Kemudian, HPP dijaga. Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah itu Rp 6.500,” kata Amran.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga gabah petani sepanjang 2025 tidak pernah jatuh di bawah HPP tersebut. Harga rerata terendah tercatat pada April 2025, yakni Rp 6.712 per kilogram. Sepanjang 2025, rerata harga pembelian gabah tercatat berada di level Rp 7.081 per kilogram berdasarkan Survei Harga Produsen Beras di Penggilingan yang dilakukan BPS secara kontinu.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |