Perempuan dan Teknologi: Melawan Stigma “Dunia Laki-laki”

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stigma teknologi sebagai “dunia laki-laki” masih menjadi salah satu penghalang utama keterlibatan perempuan di sektor digital. Penekanan itu disampaikan Pendiri Bubu.com, Shinta Witoyo Dhanuwardono, saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin di kantornya, kawasan Pondok Indah, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Berbekal pengalaman lebih dari tiga dekade di industri teknologi, Shinta menilai tantangan tersebut bersumber dari pola pikir, bukan keterbatasan kemampuan.

Shinta menapaki dunia digital sejak 1996, ketika internet belum dikenal luas di Indonesia dan ekosistem teknologi nyaris belum terbentuk. Latar belakang pendidikan arsitektur tidak menghalanginya terjun ke dunia teknologi setelah ia mengenal World Wide Web saat menempuh studi magister bisnis di Amerika Serikat dan bekerja di laboratorium komputer Portland State University.

“Waktu itu saya melihat dengan mata sendiri internet itu dahsyat. Saya jatuh cinta karena bisa belajar sendiri bagaimana membuat website melalui internet, dan itu sudah menjadi game changer,” ujarnya.

Pengalaman awal tersebut membentuk keyakinannya menempatkan teknologi sebagai alat pembelajaran dan pemberdayaan. Sepulang ke Tanah Air, ia mendirikan Bubu bersama sejumlah mitra yang memiliki visi serupa, memperkenalkan teknologi digital sebagai sarana mengubah cara kerja dan cara berpikir. Perjalanan tersebut tidak selalu mulus, terutama saat krisis dot-com awal 2000-an yang memaksanya menutup lebih dari lima perusahaan rintisan.

Tekanan dan kegagalan berulang justru menguatkan pandangannya tentang ketangguhan perempuan di dunia teknologi. Shinta menilai perempuan memiliki kapasitas untuk mengelola kompleksitas, termasuk bisnis, keluarga, dan peran sosial, ketika teknologi dimanfaatkan secara tepat.

“Perempuan sebenarnya bisa banyak menggunakan teknologi untuk membantu meringankan pekerjaan sehari-hari. Bukan hanya mengelola perusahaan, tapi juga mengelola semuanya, termasuk keluarga,” kata pendiri Nusantara Ventures itu.

Ia menilai persepsi teknologi sebagai ranah yang rumit dan maskulin kerap membuat perempuan enggan mendekat. Padahal, kemajuan teknologi justru menyederhanakan banyak proses. Media sosial, e-commerce, dan kecerdasan buatan membuka ruang luas bagi perempuan untuk berbisnis, membangun personal branding, serta menciptakan nilai tanpa batasan ruang dan waktu.

Dalam praktik kepemimpinan digital, Shinta menekankan pentingnya kemauan belajar tanpa henti, kreativitas, dan keberanian beradaptasi. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut pemimpin bersikap luwes sekaligus berani mengambil risiko ketika model lama tidak lagi relevan.

Pandangan tersebut tercermin dari transformasi Bubu menjadi Cultural Intelligence Agency setelah tiga dekade beroperasi. Pendekatan berbasis pemahaman kultur dan komunitas dipadukan dengan teknologi, termasuk pemanfaatan AI melalui divisi KisahVisual.ai untuk membantu pelaku usaha kecil membangun cerita merek secara efisien.

Shinta menilai kecerdasan buatan tidak perlu diposisikan sebagai ancaman. Di industri kreatif, AI justru membuka peluang model bisnis baru dan memperluas peran manusia selama teknologi dikendalikan sebagai alat.

“Internet tetap tool, AI tetap tool. Kita yang harus mengoperasikan dan mengendalikan, lalu mengambil manfaatnya,” ujarnya.

Refleksi tentang peran perempuan di dunia teknologi juga berakar dari sejarah keluarganya. Shinta menyebut Eyang Supeni, diplomat perempuan Indonesia pada era Presiden Soekarno yang memimpin delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB pada 1960, sebagai salah satu sumber inspirasi. Pengalaman tersebut meneguhkan keyakinannya bahwa tidak ada batasan peran berdasarkan gender.

Menurut dia, keunggulan perempuan terletak pada soft power seperti empati dan kemampuan melakukan banyak peran sekaligus. Ketika dipadukan dengan teknologi, kelebihan tersebut meningkatkan nilai dan daya saing perempuan di ruang digital yang semakin kompetitif.

Teknologi, dalam pandangan Shinta, seharusnya menjadi sarana pembebasan, bukan pembatas. Selama perempuan berani belajar dan memanfaatkan teknologi, stigma “dunia laki-laki” akan runtuh oleh praktik dan capaian nyata.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |