REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan 2024. Namun, pertumbuhan tak terjadi secara merata. Sejumlah wilayah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan 2024.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, ekonomi Indonesia secara spasial selama 2025 tumbuh di seluruh kelompok provinsi. “Ekonomi Indonesia secara spasial selama 2025 menunjukkan pertumbuhan di seluruh kelompok provinsi,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Amalia menyampaikan, kelompok provinsi di Sulawesi mencatat pertumbuhan (c-to-c) tertinggi sebesar 6,23 persen, diikuti Jawa 5,30 persen, Bali dan Nusa Tenggara 4,87 persen, Sumatera 4,81 persen, serta Kalimantan 4,79 persen. Sementara itu, Maluku dan Papua menjadi wilayah dengan pertumbuhan terendah, hanya 1,44 persen.
Ekonomi di semua kelompok provinsi memang tumbuh. Tapi jika dibandingkan dengan data 2024, terdapat beberapa kelompok provinsi yang tumbuh lebih tinggi, sementara wilayah lainnya melambat.
Ekonomi di Pulau Jawa mencatat akselerasi paling menonjol dari 4,92 persen pada 2024 menjadi 5,30 persen pada 2025. Sumatera juga naik dari 4,45 persen menjadi 4,81 persen, disusul Sulawesi yang meningkat tipis dari 6,18 persen menjadi 6,23 persen.
Sebaliknya, Bali dan Nusa Tenggara melambat dari 5,04 persen menjadi 4,87 persen. Kalimantan turun cukup dalam dari 5,52 persen pada 2024 menjadi 4,79 persen pada 2025, sementara Maluku dan Papua mengalami penurunan paling tajam dari 7,81 persen menjadi 1,44 persen.
Amalia mengatakan, Pulau Jawa tetap memegang peranan terbesar dalam perekonomian nasional dengan kontribusi 56,93 persen. Posisi berikutnya ditempati Sumatera 22,22 persen, Kalimantan 8,12 persen, Sulawesi 7,22 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,82 persen, serta Maluku dan Papua 2,69 persen.
“Selama 2025, kelompok provinsi di Pulau Jawa mendominasi ekonomi Indonesia secara spasial dengan kontribusi mencapai 56,93 persen dan mencatat pertumbuhan sebesar 5,30 persen (c-to-c),” lanjut Amalia.
Amalia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 yang sebesar 5,03 persen. Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya tumbuh paling tinggi sebesar 9,93 persen, sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03 persen.
Pada kuartal IV 2025 terhadap kuartal IV 2024, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Transportasi dan Pergudangan meningkat paling tinggi sebesar 8,98 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,12 persen.
Amalia menambahkan, pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi 0,66 persen pada 2025. Lapangan usaha dengan pertumbuhan signifikan meliputi Jasa Lainnya 9,93 persen, Jasa Perusahaan 9,10 persen, serta Transportasi dan Pergudangan 8,78 persen, sementara Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan Eceran masing-masing tumbuh 5,30 persen dan 5,49 persen.
“Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak menunjukkan perubahan berarti,” lanjut dia.
Ia mengatakan, perekonomian Indonesia masih didominasi Industri Pengolahan sebesar 19,07 persen, diikuti Perdagangan Besar dan Eceran 13,17 persen, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 13,10 persen, Konstruksi 9,83 persen, serta Pertambangan dan Penggalian 8,75 persen. Peranan kelima sektor tersebut mencapai 63,92 persen dari total PDB nasional.

3 days ago
17




































