REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Fortune Southeast Asia 500 (FSEA500) 2026 yang memuat daftar 500 perusahaan terbesar di Asia Tenggara berdasarkan pendapatan tahun fiskal 2025, kembali menempatkan perusahaan asal Indonesia di dalam daftar.
Salah satu perusahaan tersebut yakni Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Pupuk Indonesia (Persero). Tahun ini, Pupuk Indonesia berada di posisi ke-68 dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 dengan membukukan pendapatan audited sebesar Rp90,4 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, mengatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pencapaian kinerja bisnis dan pelaksanaan mandat strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Peringkat Pupuk Indonesia dalam Fortune Southeast Asia 500 mencerminkan kuatnya fundamental bisnis perusahaan yang dibangun melalui transformasi tata kelola dan peningkatan efisiensi secara berkelanjutan. Fondasi tersebut memungkinkan kami untuk terus mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mempercepat investasi yang memperkuat daya saing dan membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan,” ujar Yehezkiel.
Penguatan fundamental bisnis Pupuk Indonesia tidak terlepas dari transformasi tata kelola pupuk bersubsidi yang dilakukan pemerintah. Penyederhanaan mekanisme distribusi pupuk melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025 mempercepat penyaluran kepada petani dan meningkatkan efektivitas program subsidi.
Pemerintah kemudian memperkuat reformasi tersebut melalui Perpres Nomor 113 Tahun 2025 yang memperbarui skema subsidi dari cost plus menjadi marked-to-market. Perubahan ini turut memperbaiki struktur pembiayaan industri pupuk serta memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk menjalankan investasi produktif dalam program revitalisasi.
“Efisiensi tidak hanya berdampak pada kinerja perusahaan, tetapi juga menciptakan manfaat yang lebih luas bagi seluruh ekosistem. Tata kelola yang semakin baik memungkinkan penyaluran pupuk bersubsidi menjadi lebih efektif, sementara efisiensi yang tercipta memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk menjalankan investasi strategis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. Di saat yang sama, manfaat efisiensi juga dikembalikan kepada petani melalui penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20% sejak Oktober 2025,” kata Yehezkiel.
Penguatan tata kelola dan efisiensi tersebut kini memberikan ruang yang lebih besar bagi Pupuk Indonesia untuk mempercepat agenda revitalisasi dan hilirisasi. Kedua inisiatif ini akan menjadi penggerak utama pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang sekaligus memperkuat daya saing industri pupuk nasional.
Dalam program revitalisasi, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan dan peremajaan tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan guna meningkatkan efisiensi energi, kapasitas produksi, dan keandalan operasi.
Salah satu proyek yang telah selesai dilaksanakan adalah Revamping Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kalimantan Timur yang berhasil menurunkan konsumsi gas lebih dari 10% sehingga meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan.
Di bidang hilirisasi, Pupuk Indonesia terus memperluas portofolio bisnis melalui pengembangan berbagai proyek strategis. Di antaranya pembangunan pabrik soda ash berkapasitas 300.000 ton per tahun di Bontang, Kalimantan Timur serta pengembangan pabrik metanol yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Berbagai proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis, serta memperkuat daya saing industri pupuk Indonesia di tingkat regional.

2 hours ago
1

















































