Pesan Menohok Alquran untuk Pejuang FOMO

19 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada kegelisahan yang tidak berisik, tetapi menggerogoti seperti rayap di balik kayu kehidupan. Ia tidak tampak, tetapi perlahan merapuhkan. Kita melihat orang lain berlari, lalu merasa langkah kita terlalu lambat.

Kita melihat orang lain memiliki, lalu diam-diam hati kita merasa kurang. Dunia seperti pasar yang riuh, dan jiwa kita menjadi pembeli yang gelisah, takut pulang tanpa membawa apa-apa. Di situlah FOMO bersemayam, bukan sekadar istilah, melainkan gejala zaman.

Padahal, Alquran sejak awal telah membaca kegelisahan itu dengan kedalaman yang tidak tergesa. Ia tidak sekadar menenangkan, tetapi membongkar akar. Dalam QS. Al-Hadid: 23, manusia diarahkan untuk berdiri di titik keseimbangan:

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

likai lā ta`sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr

Agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu.

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥul Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini bukan sekadar etika emosi, tetapi fondasi cara pandang hidup. Segala yang datang dan pergi telah berada dalam ilmu Allah. Maka kegelisahan karena “ketinggalan” sejatinya adalah kegagalan memahami bahwa tidak semua yang luput adalah kerugian.

Kita gelisah bukan karena kekurangan, tetapi karena terlalu sering menoleh. QS. Thaha: 131 mengingatkan:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Wa lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta’nā bihī azwājam min-hum zahratal-ḥayātid-dun-yā linaftinahum fīh, wa rizqu rabbika khairuw wa abqā

Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada sebagian mereka sebagai bunga kehidupan dunia.

Dalam tafsir Al-Razi, “bunga” dunia itu indah, tetapi fana. Ia hanya tampak menarik dari kejauhan, namun tidak bertahan lama. FOMO lahir ketika manusia menjadikan “bunga” itu sebagai ukuran kebahagiaan, padahal ia hanyalah ujian.

Lebih dalam lagi, Alquran meruntuhkan ilusi bahwa semua yang menarik harus dikejar. QS. Al-Baqarah: 216 menyatakan:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

kutiba ‘alaikumul-qitālu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asā an takrahụ syaiaw wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbụ syaiaw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu.

Al-Razi menegaskan: manusia menilai berdasarkan rasa, Allah menilai berdasarkan ilmu. Di sinilah jebakan FOMO, kita mengejar karena terlihat menarik, bukan karena benar-benar baik.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |