REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah sebentar lagi tiba. Umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bagi mereka yang menjalankan, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi tantangan tentang bagaimana menjaga kesehatan dan energi tubuh tetap optimal meski sedang berpuasa.
Republika berbincang dengan Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr Toto Sudargo, SKM, MKes untuk mengulik bagaimana seharusnya tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan asupan makanan yang akan terjadi selama menjalankan ibadah puasa tersebut.
Toto menyebut pentingnya persiapan tubuh sebelum puasa dimulai. Ia tak menampik perubahan yang terjadi di awal puasa seringkali membuat sebagian orang merasa lemas, kurang bersemangat, bahkan mengalami penurunan konsentrasi di siang hari. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa diminimalkan dengan strategi nutrisi yang tepat.
"Saat berpuasa, tubuh pertama-tama membakar glikogen, cadangan gula dalam otot, untuk menghasilkan energi. Protein tetap awet, sementara lemak dibakar sedikit demi sedikit. Dengan persiapan nutrisi yang tepat, puasa tidak membuat tubuh lemas," katanya kepada Republika, Kamis, (22/1/2026).
Toto menyampaikan bahwa protein tidak langsung dibakar saat puasa. Menurutnya, tubuh masih sangat ‘hemat’ menggunakan protein sebagai sumber energi. Meski begitu, ia mengingatkan kekurangan asupan protein selama puasa akan berdampak pada stamina dan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, pemenuhan protein dinilainya penting, baik saat sahur maupun berbuka puasa.
Ia mengatakan zat gizi utama yang paling cepat habis saat puasa adalah karbohidrat. Hal ini dikarenakan tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama berjam-jam, sehingga sumber energi pertama yang tersedot adalah glikogen, atau cadangan gula yang tersimpan di otot dan hati. Pembakaran glikogen ini disebutnya proses alami yang justru menyehatkan tubuh. Selain zat gizi makro, puasa juga berpotensi menyebabkan berkurangnya mikronutrien, seperti zat besi, kalsium, fosfor, kalium, serta vitamin B kompleks, terutama jika pola makan saat sahur dan berbuka tidak seimbang.
"Zat besi penting untuk menjaga kadar hemoglobin. Jika Hb menurun, tubuh akan terasa lebih cepat lelah dan kurang bertenaga," ucapnya.
Begitupula dengan Vitamin B kompleks juga memiliki peran penting dalam metabolisme energi dan fungsi saraf. Kekurangannya dapat membuat tubuh terasa lesu dan sulit fokus.
Kuncinya Asupan Nutrisi Yang Tepat
Untuk mengatasi potensi kekurangan nutrisi tersebut, Pakar Gizi UGM ini menyarankan agar masyarakat tidak hanya fokus pada rasa kenyang saat sahur atau berbuka, tetapi juga memperhatikan kualitas gizi. Salah satu caranya adalah dengan menambahkan suplemen atau sumber nutrisi yang mudah diserap tubuh. Walaupun sedang berpuasa, tubuh harus tetap optimal untuk menjalankan aktivitas atau pekerjaan seperti hari biasanya.
Bagi individu dengan aktivitas tinggi, Toto menyebut konsumsi suplemen protein termasuk susu kambing yang tepat dapat membantu menjaga ritme kerja tubuh selama puasa.
"Sahur yang hanya mengandalkan karbohidrat tinggi sering membuat orang cepat mengantuk dan lemas di siang hari. Dengan tambahan protein dan mikronutrien, energi bisa lebih tahan lama dan produktivitas tetap terjaga," katanya.
"Bisa dengan konsumsi susu, termasuk susu kambing Etawa ini memiliki kandungan protein, vitamin, dan mineral yang cukup lengkap. Namun harus diingat, ini sebagai suplemen tambahan, bukan pengganti makanan utama," ucapnya tegas.
Menurutnya, susu kambing Etawa memiliki kandungan protein berkualitas tinggi yang mudah diserap tubuh, ditambah vitamin dan mineral penting seperti kalsium, fosfor, kalium, zat besi, zinc, serta vitamin A, B1, B3, dan C. Sementara dari sisi lainnya, ia menyebut susu kambing Etawa rendah laktosa, rendah lemak, dan memiliki risiko alergi yang sangat kecil, sehingga aman dikonsumsi selama puasa.
Meski menganjurkan, konsumsi suplemen protein atau susu kambing tersebut tetap harus sesuai takaran. Untuk orang dengan kondisi normal, Toto menyampaikan satu gelas atau sekitar 200 ml per hari dianggap cukup dan bisa diminum setelah berbuka atau sahur, baik sebelum maupun sesudah makan, kembali pada kebiasaan masing-masing.
Sementara untuk orang dengan kondisi khusus atau obesitas, Toto menyarankan agar dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga profesional sebelum mengonsumsi.
"Ini bukan pengganti makanan utama, tapi sebagai suplemen tambahan yang mendukung energi dan stamina," katanya.
"Saya ingatkan, tetap berbuka puasa dengan makanan yang sehat, plus Etawaku Platinum boleh. Tetapi jangan menghindari (makanan saat sahur atau berbuka) atau hanya mengkonsumsi Etawaku Platinum saja. Itu tidak baik. Tetap berbuka dan sahur dengan menu seimbang," ujar Toto.
Terkait kalangan usia yang aman mengkonsumsi Susu kambing Etawa, Toto menyebut hampir semua kalangan usia, kecuali anak balita di bawah 5 tahun. Ia mengatakan susu ini bisa menjadi sumber protein dan mikronutrien tambahan yang bermanfaat selama puasa dan membuat tubuh kuat beraktivitas setiap hari. Lansia juga dianjurkan mengonsumsinya malam hari menjelang tidur untuk membantu menstimulasi saraf dan meredakan pegal-pegal sehingga tidur lebih nyenyak dan keesokan harinya bisa menjalankan puasa dengan nyaman.
Toto menyakini dengan persiapan yang matang, Ramadhan tidak hanya menjadi waktu spiritual, tetapi juga kesempatan untuk membiasakan pola hidup sehat.
"Ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam, tetapi harus ingat bahwa ketika berpuasa, jangan sampai menurunkan kualitas pekerjaan. Jangan sampai menurunkan kebugaran. Untuk itu persiapan dari sekarang. Lalu minum makanan yang sehat, yang baik ditambah dengan multivitamin atau ditambah dengan suplemen yang menyehatkan dan isinya dapat dipertanggungjawabkan. Selamat berpuasa," kata Toto.
Terpisah, Brand Manager Etawaku Platinum, Devi Eliya menyampaikan produk ini dirancang khusus untuk mendukung gaya hidup aktif sekaligus menjaga keseimbangan gizi termasuk di bulan puasa. Ia menyakini masyarakat bisa merasakan kehadiran produk ini sebagai pilihan ideal sebagai suplemen dan sumber protein yang mendukung aktivitas sehari-hari selama bulan puasa, tanpa mengganggu kenyamanan dan pola makan.
"Mengonsumsi susu kambing Etawa saat sahur dapat membantu rasa kenyang lebih lama dan energi yang lebih stabil karena kandungan protein berkualitas tinggi dan lemak rantai sedang (MCT) yang dicerna lebih lambat dan efisien," ujarnya.
Protein, disebutnya akan berperan dalam meningkatkan hormon kenyang dan memperlambat pengosongan lambung, sementara MCT membantu menyediakan energi bertahap tanpa lonjakan gula darah.
"Selain itu, struktur protein dan lemak susu kambing yang lebih mudah dicerna mendukung penyerapan nutrisi yang lebih stabil selama puasa. Konsumsi Etawaku Platinum 1 gelas saat sahur dan 1 gelas saat berbuka akan membantu menambah protein serta nutrisi penting, sehingga tubuh lebih bertenaga dan tidak mudah lemas saat berpuasa," ungkapnya.
Lebih jauh, Devi menjelaskan kelebihan Etawaku Platinum sebagai solusi praktis untuk mendapatkan nutrisi berkualitas tanpa ribet. Di tengah kesibukan masyarakat urban, menjaga asupan gizi seringkali menjadi tantangan. Berkaca dari kondisi ini, PT Etos Kreatif Indonesia (Ethos) merancang produk Etawaku Platinum untuk mendukung gaya hidup yang serba cepat tersebut. Produk ini berupa susu kambing Etawa yang diolah menjadi bubuk dan dirancang mudah larut saat dicampur dengan air hangat.
"Kemudahan ini memungkinkan setiap individu untuk mendapatkan nutrisi berkualitas tanpa perlu alat khusus, cukup dengan ketersediaan air hangat di pantry kantor maupun saat sedang transit di bandara," kata dia.
Devi memastikan kemudahan penyajian tidak mengorbankan kualitas gizi yang terkandung di dalamnya. Mengubah susu segar menjadi bubuk yang tetap kaya protein dan mineral memerlukan teknologi pengolahan yang presisi. Karenanya, masyarakat yang ingin mengonsumsi, tidak perlu khawartir terhadap kualitas gizi yang terkandung.
"Hal ini sangat krusial karena mineral seperti kalsium dan fosfor dalam susu kambing sangat sensitif terhadap proses pemanasan yang tidak stabil," ungkapnya.
Salah seorang warga Kota Yogyakarta, Agus Haryanto (71 tahun) membagikan pengalamannya kepada Republika. Ia mengaku sudah mengonsumsi susu kambing beberapa tahun belakangan ini. Menurutnya, mengonsumsi susu kambing setiap pagi. menjadi rahasianya dalam menjaga tubuh tetap bugar dan sehat.
"Saya rutin mengonsumsi susu kambing setiap pagi sebelum memulai aktivitas. Selain rendah lemak, susu kambing bermanfaat buat menjaga daya tahan tubuh saya yang meskipun sudah lansia, tapi masih memiliki aktivitas tinggi," katanya.
Selain itu, Agus menyampaikan kebiasaannya yang rutin mengonsumsi susu kambing ini membuatnya jarang sakit dan hasil pemeriksaan kesehatan selalu bagus. Bahkan, ia tetap aktif berolahraga, terutama bersepeda dengan rute yang cukup jauh, seperti hingga Kulon Progo.
Tak ada alasan baginya untuk tidak mengonsumsi susu kambing termasuk di momen bulan puasa.
"Saat Ramadhan, saya akan tetap konsumsi susu kambing di saat sahur. Jadi badan saya tetap fit walaupun puasa dan tetap aktivitas seperti biasa," ujarnya.

1 week ago
29




































