REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ramadhan tahun ini dinilai menghadirkan momentum istimewa bagi umat Islam yang merindukan Baitullah. Ketua Litbang DPP Amphuri sekaligus Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab mengajak umat untuk tidak menunda kesempatan umrah Ramadhan, terlebih dengan kondisi yang lebih kondusif dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan kepada diri sendiri menjelang Ramadhan: 'Jika Allah membuka kesempatan ibadah yang lebih ringan, lebih nyaman, dan lebih mulia, mengapa kita justru menundanya?" ujar Ulul kepada Republika.co.id, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, persepsi bahwa umrah Ramadhan identik dengan cuaca ekstrem dan kelelahan fisik tidak sepenuhnya tepat untuk tahun ini. Ramadhan kali ini bertepatan dengan fase musim sejuk menuju awal musim semi di Arab Saudi. Suhu udara relatif lebih bersahabat dibandingkan periode puncak musim panas.
Menurutnya, cuaca yang lebih sejuk bukan sekadar soal kenyamanan fisik. Ia memberi ruang ibadah yang lebih khusyuk.
"Cuaca yang lebih sejuk pastinya akan menghadirkan ruang ibadah yang lebih khusyuk. Thawaf terasa lebih ringan, sa’i lebih tenang, dan ibadah malam lebih panjang tanpa beban panas berlebih," kata Ulul.
Selain faktor cuaca, lanjutnya, durasi puasa di Kota Mekkah dan Madinah juga tergolong moderat. Pada awal Ramadhan, lama puasa di Arab Saudi berkisar sekitar 12 jam 45 menit dan di akhir Ramadhan sekitar 13 jam 20 menit. Siang hari yang tidak terlalu panjang dinilai membantu jamaah menjaga stamina serta menyeimbangkan waktu ibadah dan istirahat.
Ulul menyebut, banyak jamaah yang telah merasakan Ramadhan di Tanah Suci mengakui bahwa keseimbangan tersebut menjadi kunci kekhusyukan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa faktor cuaca dan durasi puasa bukanlah alasan utama.
"Alasan terbesar bukanlah faktor cuaca atau durasi puasa. Yang lebih mendalam adalah makna spiritual yang Allah janjikan," ucapnya.
Ulul pun mengutip hadits Nabi yang menyatakan bahwa umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji bersama Nabi. "Hadits ini bukan sekadar motivasi emosional, tetapi pesan yang menggetarkan yaitu ada peluang pahala yang luar biasa besar yang tidak hadir di bulan lain," kata Ulul.
Ia menilai, kebiasaan menunda seringkali muncul dengan alasan klasik seperti menunggu waktu lebih longgar, kondisi ekonomi lebih mapan, atau kesiapan hati yang lebih sempurna. Padahal, menurutnya, kesiapan sempurna hampir tidak pernah benar-benar datang.
“Justru langkah kecil menuju ibadah sering menjadi awal perubahan besar dalam hidup seseorang,” katanya.
Ulul menggambarkan Ramadhan di Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik menuju Ka’bah, tetapi perjalanan batin menuju ketenangan. Suasana berbuka puasa bersama di pelataran Masjid Nabawi, lantunan Alquran yang menggema sepanjang malam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, hingga doa-doa yang dipanjatkan dengan linangan air mata menjadi pengalaman spiritual yang sulit tergantikan.
"Jika kita paham betul keutamaan umrah Ramadhan, maka Umrah Ramadhan bukan perjalanan mahal, tetapi sebuah perjalanan investasi ruhani yang dampak dan pahalanya justru melampaui hitungan materi, berapapun itu," jelas Ulul.
Dengan kondisi cuaca yang lebih sejuk, durasi puasa yang bersahabat, serta atmosfer spiritual yang kuat, Ulul menilai Ramadhan tahun ini seolah membawa pesan tersirat bahwa kesempatan tengah terbuka lebar.
“Mungkin sudah saatnya kita tidak lagi bertanya ‘mengapa harus umrah?’, tetapi ‘mengapa tidak?’ Siapa tahu, Ramadhan di Tanah Suci bukan hanya mengubah satu bulan dalam hidup kita, tetapi mengubah arah hidup kita selamanya,” kata Ulul.

19 hours ago
8



































