Rupiah Makin Keok, Mendekati Rp 18.000

10 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus mengalami koreksi, dan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah yang berlanjut dipengaruhi tensi geopolitik global yang memanas serta persoalan fiskal di domestik. 

“Hari ini cukup luar biasa pelemahan mata uang rupiah. Ada kemungkinan pembukaan pasar besok pada Jumat kemungkinan besar rupiah akan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangan suara kepada wartawan, Kamis (28/5/2026). 

Ibrahim menjelaskan berbagai sentimen yang memengaruhi terdepresiasinya rupiah, baik sentimen eksternal maupun internal. Dari eksternal, masalah geopolitik menjadi faktor utama. 

“Geopolitik di Timur Tengah semakin memanas dimana AS melakukan penyerangan terhadap instalasi yang ada di Iran, terutama adalah Iran Selatan. Ini kemungkinan besar akan medapat balasan setimpal dari pasukan Iran,” ujarnya. 

Di sisi lain, AS sedang mempersiapkan perang skala besar dengan Iran menurut data intelijen dari Rusia. Bahkan AS akan menggunakan milisi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah untuk melakukan penyerangan terhadap Iran. 

Dikabarkan, kapal-kapal canggih AS sudah mendarat di Israel. Artinya kemungkinan besar AS dan Israel –dalam jeda waktu gencatan senjata- akan memperkuat posisinya dalam melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran. 

Kesepakatan antara AS dan Iran cuma dijadikan sebagai kedok. Ibrahim mengingatkan perang yang terjadi antara Irak-AS beberapa dekade yang lalu. Irak melakukan invasi atau keluar ke Kuwait lewat adanya kesepakatan antara Presiden Irak Saddam Hussein dan Presiden AS George W Bush, namun kenyataannya di tengah jalan pasukan yang keluar dari Kuwait justru diserang habis-habisan dan ribuan prajurin dan alutsistanya hancur total. 

Berkaca dari hal itu, kemungkinan besar konflik yang terjadi di Iran juga serupa. Namun, kemungkinan juga Iran sudah mempersiapkan untuk melawan keliciran AS yang sudah diketahui oleh intelijennya. 

“Ini kemungkinan besar akan membuat ketegangan di Selat Hormuz yang akan memicu harga minyak naik,” terangnya. 

Kemudian, konflik di Eropa antara Ukraina dan Rusia juga masih bergulir. Ibu Kota Ukraina, Kyiv, hancur lebur akibat penyerangan yang dilakukan Rusia. Rusia memborbardir Kyiv karena Ukraina melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah strategis di Rusia. 

Sekarang Ukraina meminta bantuan kepada AS untuk misil patriot dan meminta bantuan juga kepada NATO untuk misil-misil canggih guna melawan Rusia. Kondisi itu membuat ketegangan tersendiri pula secara geopolitik. 

“Geopolitik meningkat tajam baik di Timur Tengah maupun di Eropa Timur. Ini membuat harga minyak kembali di atas 92 dolar AS per barel, sekarang di 96 dolar AS per barel untuk WTI. Mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak akibat tingginya geopolitik, kemudian tingginya transportasi logistik membuat harga-harga di AS mengalami kenaikan yang cukup signifikan terutama gasoline. Inflasi kemungkinan besar akan terus naik, bukan di AS saja tetapi global,” jelasnya. 

Ibrahim melanjutkan, sentimen eksternal lainnya adalah berkaitan dengan kebijakan suku bunga bank sentral AS/The Federal Reserve. Pada Rabu, Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan bahwa kekhawatirna utama Bank Sentral saat ini adalah inflasi yang lebih tinggi daripada kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk. Di era kepemimpinan Gubernur The Fed Kevin Warsh memang fokus pada inflasi, dibandingkan kepemimpinan sebelumnya, Jerome Powell, yang lebih fokus pada data tenaga kerja. 

“Ada indikasi bahwa 52,3 persen para ekonom mengatakan, Bank Sentral kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga sampai akhir tahun ini, bahkan bisa menaikkan suku bunga satu kali. Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi gap up,” jelasnya 

Di sisi lain, lanjut Ibrahim, berkaitan dengan perpolitikan di AS, pemilu sela sudah mulai berjalan. Kantong-kantong Partai Republik dikabarkan mengalami sedikit masalah akibat kepemimpinan Trump yang terus menginginkan perang. Disinyalir kantong-kantong Partai Republik bakal bergeser ke Partai Demokrat. Kondisi ini menjadi ketegangan tersendiri di perpolitikan AS. 

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |