REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) masih memicu tanda tanya. Meski disebut-sebut bakal dibentuk buat penyiapan pemimpin bangsa, tapi secara konsep dan teknis pembangunan universitas itu memicu kebingungan.
Apakah kampus itu nantinya hanya khusus untuk menyiapkan pejabat di birokrat (aparatur sipil negara), atau akan lebih luas? Bagaimana juga sinergi dengan lembaga-lembaga pendidikan lain di Tanah Air?
Menengok penjelasan Gubernur URI Donny Erman, tujuan besar dari kampus ini adalah menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul.
Pemerintah ingin ada sinergi dari pendidikan dasar, menengah hingga pergguruan tinggi dalam penyiapan pemimpin bangsa. Saat ini, kata ia, pemerintah telah mendirikan sekolah unggulan Garuda yang baru maupun transformasi. "Presiden ingin sinergi pendidikan yang sudah ada saat ini," ujar Donny.
Rencananya, pemerintah akan membangun 10 URI. Adapun lokasi pusat Gedung URI akan dibangun di Bogor, di bekas perkebunan sawit.
URI nantinya akan membawa tiga institusi yang sudah ada sekarang yakni badan sekolah unggulan, badan pengelola perguruan tinggi, dan Lembaga Administrasi Negara (LAN). LAN merupakan Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang administrasi negara.
Salah satu tugas LAN adalah pengembangan kapasitas, serta pembinaan pendidikan dan pelatihan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) agar tercipta birokrasi yang profesional dan berintegritas.
Namun menurut Donny, LAN di bawah URI nantinya tidak hanya ditujukan buat aparatur sipil negara, tapi juga calon karyawan maupun pejabat Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Jadi nanti (URI) ini seperti yang digagas seperti halnya negara tetangga kita yang kita ciptakan ini, di Prancis ada ENA (sekarang INSP)," ujar Donny.
Mereka yang masuk kampus URI, kata Donny, akan dididik secara karakter maupun keahlian manajerial. Peserta juga akan ditanamkan nilai integritas agar bisa menjadi pemimpin masa depan. Inilah juga yang membedakan URI dengan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas).
"Lemhannas akan melaksanakan tugas sendiri, terkait ketahanan nasional, kita ini ke manajerial skill wawasan kebangsaan, punya karakter integritas tinggi, kejujuran, nilai-nilai itu yang ditanamkan di URI."
Lantas bagaimana koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti) yang selama ini membawahi kampus? Donny menyebut akan ada sinergi.
Namun Donny sempat menyatakan URI akan 'mengelola' kampus, meski tidak dijelaskan apakah yang dimaksud itu dengan mengambil alih tugas Dikti. "Nanti kita akan sinergi dengan Dikti dan Dikdasmen yang SMA," katanya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan Universitas Republik Indonesia (URI) tidak membawahi seluruh perguruan tinggi di Indonesia. "Tapi bukan berarti URI itu membawahi seluruh kampus-kampus ya, tidak begitu," kata Brian di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Menurut Brian, URI dibentuk untuk menjalankan program afirmasi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap bertugas di lokasi maupun posisi strategis, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta mendukung berbagai program prioritas nasional.
Namun, ia belum bisa menjelaskan secara detail, dan menyerahkan tentang rincian konsep ke Gubernur URI Donny.
Di publik, konsep ini masih memicu pertanyaan besar, mengingat sudah begitu banyaknya lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, dari mulai perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta, perguruan tinggi kedinasan maupun nonkedinasan di bawah BUMN.
Belum ada naskah akademik
Lagi-lagi, sejumlah pertanyaan muncul tentang siapa saja yang bakal masuk sebagai peserta didik? Apakah kampus ini hanya dikhususkan untuk calon pejabat atau mereka yang menjabat baik di birokrasi atau BUMN?
Kemudian, apakah kampus ini nantinya akan dikhususkan buat sarjana, pascasarjana atau nanti hingga gelar doktoral?
Pertanyaan lain soal apakah ada penjurusan di kampus-kampus ini? Ataukah memang kampus ini hanya sekadar mengajarkan manajerial secara umum?
Ada juga yang bertanya-tanya tentang kemiripan universitas itu dengan Lemhannas, jika tujuannya untuk menyiapkan pejabat negara. Mengapa tidak Lemhanas, fungsinya diperluas sehingga tak perlu menyiapkan lagi lembaga baru.
Pengamat Pendidikan Indra Charismaji mengaku juga masih bingung terhadap konsep Universitas Republik Indonesia itu. Menurutnya belum ada naskah akademik tentang pendirian kampus tersebut.
"Saya terus terang juga bingung tentang konsep URI dan tidak ada Naskah Akademik yang menjelaskan landasan teknokratis dari URI dan bagaimana URI menjadi sarana pencapaian terget RPJMN dan RPJPN," ujarnya kepada Republika, Jumat (24/7/2026).

7 hours ago
10







































