REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Pertamina terus mengikuti perkembangan terkini kondisi di kawasan Timur Tengah. VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan menyambut positif adanya gencatan senjata serta sempat dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski begitu, kondisi tersebut terancam lantararan adanya gejolak kembali di Libanon.
"Pertamina melalui PIS (Pertamina International Shipping) akan memanfaatkan momentum dibukanya rute Selat Hormuz melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan otoritas setempat, agar diplomasi dan negosiasi mendapat hasil yang positif," ujar Baron dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Di sisi lain, lanjut Baron, Pertamina memastikan kondisi terkini armada di kawasan tetap terjaga dengan baik. Ia menyampaikan dua kapal tanker yang sebelumnya terdampak situasi geopolitik masih berada di wilayah Teluk Arab.
"Kedua kapal tanker masih berada di kawasan Teluk Arab dalam kondisi aman," ucap Baron.
Pertamina, sambung Baron, menegaskan aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional. Perusahaan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk meminimalkan risiko.
"Prioritas utama Pertamina adalah keselamatan dan keamanan awak beserta muatannya," kata Baron.
Menanggapi serangan Israel baru-baru ini di Lebanon, para pejabat Iran menyerukan tindakan tegas untuk melawan agresi guna mendukung Lebanon dan rakyatnya. Iran menyatakan Selat Hormuz dapat ditutup kembali sampai serangan terhadap Lebanon berhenti.
Ibrahim Rezaei, juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengatakan hal itu dalam sebuah postingan di X. “Sebagai tanggapan terhadap agresi brutal Israel di Lebanon, pergerakan kapal di Selat Hormuz harus segera dihentikan, dan serangan yang kuat dan tegas harus dilancarkan untuk mencegah serangan lebih lanjut oleh entitas Israel.”
Dalam lansiran dari pihak Iran dan Pakistan sebagai penengah, penghentian serangan Israel ke Lebanon dan semua sumbu perlawanan jadi syarat gencatan senjata. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden AS Donald Trump menyatakan Lebanon tak masuk dalam kesepakatan.
Serangan brutal Israel ke Lebanon dilakukan tak lama setelah Trump mengumumkan gencatan senjata kemarin. Setidaknya 150 serangan diluncurkan Israel ke seantero Lebanon, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai sedikitnya 1.165 orang.
Skala pembunuhan dan kehancuran akibat serangan itu “mengerikan”, kata Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk. Ia mendesak masyarakat internasional untuk “mengakhiri mimpi buruk ini”.
Utusan Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahraini, menekankan pentingnya Israel menegakkan gencatan senjata di Lebanon. Ia menambahkan bahwa Teheran akan melakukan negosiasi perdamaian dengan Washington dengan hati-hati karena kurangnya kepercayaan.
“Mengingat kurangnya kepercayaan, Teheran akan berhati-hati dalam melakukan negosiasi ‘perdamaian’ dengan Washington, dan pada saat yang sama tetap waspada secara militer.”
Ia lebih lanjut memperingatkan mengenai konsekuensi dari serangan terus menerus Israel ke Lebanon. “Kami memperingatkan bahwa kelanjutan serangan akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut dan konsekuensi yang parah.”
Iran juga bersiap menarik diri dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan terhadap Lebanon, kata sebuah sumber kepada Kantor Berita Tasnim. “Iran saat ini sedang mempelajari kemungkinan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan berlanjutnya pelanggaran entitas Israel dan agresinya terhadap Lebanon.”

2 hours ago
3














































