Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Melonjak 20 Dolar AS per Barel

19 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Serangan militer langsung Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada dini hari 28 Februari memicu eskalasi yang dinilai lebih luas dibandingkan konfrontasi sebelumnya.

Senior Vice President sekaligus Head of Geopolitical Analysis Rystad Energy, Jorge Leon menjelaskan penutupan selat hourmuz dan eskalasi konflik di Iran berpotensi langsung berdampak pada harga minyak global.

“Pada awal perdagangan 2 Maret, harga minyak mentah Brent diperkirakan melonjak sekitar 20 dolar AS per barel seiring meningkatnya premi risiko di pasar,” ujar Leon.

Menurut Leon, Iran membalas serangan dengan skala yang jauh lebih agresif dibandingkan sebelumnya, termasuk menargetkan pangkalan militer AS di kawasan dan sekutu Teluknya.

“Ini menandai perluasan konflik secara struktural, bukan lagi sekadar serangan simbolik,” katanya.

Dampak paling nyata terhadap pasar minyak adalah terhentinya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz. Sekitar 15 juta barel per hari (bph) minyak mentah, setara hampir 30 persen perdagangan minyak laut global melintasi jalur tersebut.

Jika gangguan berlanjut, sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak global berpotensi hilang dari pasar, meski sebagian bisa dialihkan melalui jalur alternatif.

Arab Saudi memang memiliki pipa East-West menuju Laut Merah dengan kapasitas sekitar 5 juta bph. Uni Emirat Arab juga dapat memanfaatkan pipa Abu Dhabi berkapasitas sekitar 1,5 juta bph. Namun kapasitas tersebut dinilai belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume yang biasanya melewati Selat Hormuz.

“Apakah selat itu ditutup secara fisik atau secara fungsional dihindari karena risiko tinggi, dampaknya terhadap arus minyak pada dasarnya sama,” jelas Leon.

Ia menambahkan, kenaikan harga acuan global dan kondisi backwardation tajam diperkirakan bertahan hingga jalur pelayaran kembali normal.

Sejumlah negara dengan cadangan minyak strategis (strategic petroleum reserves) berpotensi melepas stok untuk meredam gejolak, termasuk Tiongkok dan negara-negara konsumen utama lainnya. Namun langkah tersebut hanya bersifat penyangga jangka pendek.

“Cadangan strategis dirancang untuk meredam guncangan sementara, bukan untuk menutup gangguan struktural berkepanjangan,” ujarnya.

Rystad memperkirakan, jika Selat Hormuz benar-benar tertutup, kemungkinan besar hanya berlangsung satu hingga dua pekan. Namun bahkan gangguan singkat dapat menciptakan kemacetan logistik, penumpukan tanker, dan keterlambatan pelabuhan yang efeknya bertahan lebih lama.

Menariknya, kelompok OPEC+ dijadwalkan bertemu dan dikabarkan tengah membahas peningkatan produksi lebih besar dari perkiraan. Dalam kondisi normal, kenaikan produksi akan menekan harga.

Namun Leon menegaskan bahwa jika minyak mentah tidak bisa keluar dari Teluk akibat kendala di Selat Hormuz, tambahan produksi tidak akan berdampak signifikan dalam jangka pendek.

“Masalahnya bukan kapasitas produksi hulu, melainkan rute ekspor dan jalur pelayaran,” katanya.

Rystad Energy menilai saat ini belum terlihat tanda-tanda de-eskalasi. Jalur diplomatik disebut mandek, sementara risiko telah bergeser dari konflik terbatas menuju potensi gangguan sistemik.

Beberapa indikator krusial yang perlu dipantau ke depan antara lain pembukaan kembali jalur diplomasi, respons negara-negara GCC, konfirmasi serangan terhadap infrastruktur energi, serta pola lalu lintas maritim secara real time di Selat Hormuz.

“Konflik ini telah memasuki fase yang secara material lebih berbahaya. Bagi pasar minyak global, status efektif Selat Hormuz baik tertutup secara fisik maupun secara fungsional menjadi variabel paling dominan,” tutup Leon

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |