REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada saat-saat ketika manusia begitu lelah oleh dunia. Lelah oleh kehilangan yang datang seperti ombak tak bertepi, oleh usia yang perlahan mengikis tenaga, oleh perpisahan yang tak pernah benar-benar bisa dibiasakan.
Di tengah hidup yang rapuh itu, Alquran menghadirkan surga bukan sekadar sebagai tempat, tetapi sebagai pelukan panjang dari rahmat Allah, tempat di mana hati akhirnya pulang tanpa takut terluka lagi.
Dalam Surah Az-Zukhruf ayat 69–73, Allah menggambarkan surga dengan bahasa yang lembut, seolah sedang menenangkan jiwa manusia yang penat oleh perjalanan dunia.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا۟ مُسْلِمِينَ
allażīna āmanụ bi`āyātinā wa kānụ muslimīn
“(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri.”
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berbicara tentang manusia-manusia yang percaya kepada ayat Allah, lalu menjadikan kepercayaan itu hidup di dalam amal dan kepasrahan. Sebab iman bukan hanya cahaya di kepala, tetapi juga jalan yang ditapaki kaki.
Kata muslimīn dalam ayat ini begitu dalam maknanya. Ia bukan sekadar identitas, melainkan keadaan hati: rela tunduk kepada Allah, bahkan ketika hidup tak selalu berjalan sesuai harapan. Menjadi Muslim, dalam makna paling sunyi, adalah belajar percaya bahwa takdir Allah tetap mengandung kasih sayang, bahkan saat mata belum mampu memahaminya.
Lalu Allah melanjutkan dengan panggilan yang terdengar seperti sambutan pulang setelah perjalanan sangat panjang:
ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ تُحْبَرُونَ
udkhulul-jannata antum wa azwājukum tuḥbarụn
“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.”
Ibnu Katsir menjelaskan, penghuni surga tidak masuk dalam keadaan asing dan sendiri. Mereka dipertemukan kembali dengan pasangan-pasangan saleh yang pernah berjalan bersama di dunia. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam ayat ini: bahwa bahkan di surga, Allah mengetahui hati manusia tetap merindukan kebersamaan.
Kata tuḥbarūn mengandung makna kebahagiaan yang melimpah, kegembiraan yang tampak di wajah, kemuliaan yang memenuhi jiwa. Seakan setelah sekian lama hidup menahan luka, Allah berkata: “Kini waktunya kalian berbahagia tanpa jeda.”
Lalu Alquran menggambarkan suasana surga dengan bahasa yang berkilau seperti cahaya pagi.
يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
yuṭāfu ‘alaihim biṣiḥāfim min żahabiw wa akwāb, wa fīhā mā tasytahīhil-anfusu wa talażżul-a’yun, wa antum fīhā khālidụn
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap dipandang mata dan kamu kekal di dalamnya.”

7 hours ago
11















































