Survei RISED: Mayoritas Keluarga Rentan Dukung MBG, Jadi Bantalan Ekonomi

11 hours ago 7

Image Safitri

Kabar | 2026-02-13 17:57:24

Direktur RISED, M Fajar Rakhmadi (kiri) berfoto bersama Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi (kanan) usai paparan hasil riset "Dampak Awal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Terhadap Kesejahteraan Anak" di Jakarta, Jumat (13/2).

JAKARTA -- Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi mengenai dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Studi ini untuk memperkaya diskusi kebijakan yang selama ini lebih banyak menyoroti implikasi makro, namun masih terbatas melihat perubahan yang dirasakan di tingkat rumah tangga.

"Sebagai program prioritas nasional yang menyerap sumber daya fiskal besar, MBG perlu terus dievaluasi berbasis data agar arah penyempurnaannya lebih terukur dan tepat sasaran," kata Peneliti RISED, M Fajar Rakhmadi dalam pemaparan hasil survei RISED di Learning Atelier, Kemang Jaya, Mampang Prampatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).

Melibatkan sekitar 1.800 orang tua, studi ini memberikan gambaran awal mengenai efek mikro-harian program, khususnya terhadap pengeluaran rumah tangga dan kebiasaan anak. Sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian setelah MBG berjalan, terutama pada komponen bekal makan dan uang saku anak.

Namun, sekitar 63 persen responden menyatakan besaran penghematan tersebut masih berada di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan. "Temuan ini menunjukkan bahwa MBG membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, tetapi belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan," kata Fajar.

Ia menjelaskan, program saat ini lebih berfungsi sebagai bantalan konsumsi kecil dibandingkan sebagai instrumen peningkatan daya beli yang luas. Meski dampak ekonominya masih terbatas, tingkat dukungan terhadap program tergolong kuat, terutama dari kelompok rentan.

Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. "Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap Fajar.

Mayoritas responden juga mengaku program berjalan relatif konsisten, dengan 84 persen menyebut MBG diterima setiap hari di sekolah. Namun, 69 persen orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan belakangan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur secara memadai.

Perubahan yang paling terasa justru terlihat pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi. Kemudian, 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan. "Yang tadinya tidak biasa makan sayur di rumah, karena melihat teman-temannya akhirnya ikut makan sayur," kata dia.

Meski demikian, RISED menegaskan bahwa dampak terhadap status gizi objektif, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal implementasi ini. Evaluasi jangka menengah dan panjang diperlukan untuk memastikan apakah perubahan perilaku tersebut dapat terakumulasi menjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan temuan tersebut, RISED menyampaikan sejumlah catatan konstruktif untuk penyempurnaan kebijakan. Kejelasan kedudukan program dinilai penting, mengingat MBG saat ini berada di persimpangan antara program sosial, intervensi gizi, dan instrumen pembangunan SDM.

Fajar mengatakan, tanpa kejelasan posisi, indikator keberhasilan dan desain evaluasi berisiko tidak konsisten. Selain itu, konsistensi kualitas menu, variasi gizi, serta ketepatan waktu distribusi perlu terus dijaga agar manfaat program tidak melemah.

"Kebutuhan evaluasi longitudinal juga menjadi krusial untuk menjawab pertanyaan lebih besar mengenai kontribusi MBG terhadap pembangunan SDM dalam jangka panjang," kata dia.

Studi ini diposisikan sebagai baseline awal untuk mendorong penguatan kebijakan berbasis riset dan data. Artinya, pemerintah dapat memahami apa yang telah berjalan, apa yang masih terbatas dan perlu diperbaiki.

MBG telah menunjukkan dampak awal dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan membentuk kebiasaan makan anak ke arah yang lebih baik. Sejalan dengan itu, RISED menekankan pentingnya penyempurnaan kebijakan berbasis temuan lapangan.

“Hasilnya dapat menjadi dasar untuk penyempurnaan desain dan peningkatan kualitas implementasi MBG, sekaligus memperkuat sistem pemantauan di lapangan," katanya.

Ke depan, evaluasi lanjutan dengan periode implementasi yang lebih panjang juga sangat penting agar dampak program terhadap pembangunan SDM bisa diukur secara lebih komprehensif. Sementara, tantangan berikutnya adalah memastikan dampak awal ini tidak berhenti pada efek jangka pendek, melainkan menjadi fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi memaprkan hasil riset "Dampak Awal Program MBG Terhadap Kesejahteraan Anak" di Jakarta, Jumat (13/2).

Di tempat yang sama, Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi menilai temuan awal penelitian tersebut menunjukan peran penting MBG. Terutama sebagai instrumen pengurang tekanan pengeluaran harian keluarga kelas menengah yang relatif rentan tertekan dampak ekonomi.

“Kalau misalnya satu keluarga memiliki dua anak dan dibekali Rp 15 ribu sehari, kita tahu ada 20 hari sekolah, ini berarti membantu mengurangi beban Rp 600 ribu," kaya Fithra.

Menurut dia, meskipun dampak tersebut belum sepenuhnya terpetakan dalam penelitian RISED saat ini, konsistensi program dinilai akan membawa perubahan besar bagi struktur ekonomi rumah tangga. "Kalau ini persistent, ini akan berdampak lebih besar lagi. Ini akan menciptakan surplus konsumen bagi kelas menengah," kata dia.

Dengan berkurangnya biaya konsumsi anak, rumah tangga memiliki fleksibilitas anggaran yang lebih luas. Menariknya, kelebihan dana tersebut tidak hanya berhenti pada konsumsi jangka pendek, melainkan berpotensi dialihkan ke sektor yang lebih berdampak. "Menariknya, budgetnya dialihkan ke hal produktif, untuk pendidikan dan kesehatan," kata Fithra.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |