Turki Sambut Maulid Nabi, Angkat Tema Akhlak Mulia Rasulullah SAW

1 hour ago 4

REPUBLIKA.CO.ID,ANKARA -- Umat Islam di Turki dan seluruh dunia bersiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang tahun ini jatuh pada hari Senin, 24 Agustus 2025, untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan malam keagamaan ini berlangsung mulai petang tanggal 24 Agustus hingga pagi hari tanggal 25 Agustus 2026, dengan perayaan yang menyoroti ajaran beliau tentang kasih sayang, keadilan, persatuan, dan akhlak mulia.

Diperingati pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal dalam kalender Islam, Maulid Nabi telah dirayakan oleh masyarakat Muslim selama berabad-abad melalui upacara keagamaan, khotbah, pembacaan syair, dan karya-karya yang didedikasikan untuk Sang Nabi.

Istilah maulid, yang berarti tempat dan waktu kelahiran, digunakan dalam budaya Islam untuk merujuk pada kelahiran Nabi Muhammad SAW serta upacara dan karya tulis yang dibuat untuk memperingati peristiwa tersebut.

Hari kelahiran Nabi dirayakan dengan upacara resmi pada masa Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman), Mamluk, Ayyubiyah, dan Fatimiyah, sementara sastra Turki dan Arab menghasilkan banyak karya yang mengungkapkan pengabdian dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu karya paling terkenal yang berkaitan dengan perayaan Maulid adalah "Vesiletü'n Necat" (Sarana Keselamatan) karya Suleyman Celebi, yang sering dilantunkan di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di Turki.

Peringatan ke-1.501 kelahiran Nabi Muhammad tahun ini mengusung tema "Nabi Kita dan Akhlak Mulia."

Presidensi Urusan Agama Turki juga menyelenggarakan berbagai acara di dalam dan luar negeri sebagai bagian dari Pekan Maulid Nabi, dengan program-program yang berfokus pada ajaran dan nilai-nilai moral Nabi.

Huseyin Ari, seorang ahli di Dewan Tinggi Urusan Agama, mengatakan kepada Anadolu Agency (AA) pada Ahad bahwa peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW telah dirayakan oleh masyarakat Muslim selama berabad-abad dengan penuh kerinduan, rasa syukur, dan antusiasme.

Ari menyebutkan bahwa perayaan di Turki secara tradisional diisi dengan pembacaan syair Maulid karya Suleyman Celebi, sementara khotbah dan ceramah keagamaan berfokus pada keteladanan akhlak Nabi serta memperbarui rasa pengabdian dan kecintaan kepada beliau. Ia mengatakan bahwa Maulid Nabi dan Pekan Maulid Nabi tidak boleh dipandang semata-mata sebagai peringatan peristiwa sejarah, melainkan juga sebagai kesempatan untuk merenungkan prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, dan akhlak yang dikaitkan dengan sosok Nabi Muhammad SAW.

"Maulid Nabi dan Pekan Maulid Nabi bukan sekadar peringatan hari kelahiran dalam sejarah, tetapi juga pengingat akan prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, dan akhlak yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW," ujar Ari, dikutip dari laman Daily Sabah, Senin (24/8/2026)

Ia menyatakan bahwa akhlak kenabian sangat relevan di dunia saat ini, di mana rasa keadilan telah melemah, kasih sayang terkadang tergantikan oleh kemarahan dan kekerasan, serta sikap mementingkan diri sendiri semakin mempengaruhi hubungan antarmanusia.

Ari juga menyebutkan bahwa Pekan Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk mengenang kembali penekanan Nabi pada persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam.

Menyinggung kondisi orang-orang yang menderita akibat konflik dan penindasan di seluruh dunia, ia mengatakan bahwa umat Islam dapat membantu mengatasi penderitaan tersebut dengan bersatu dalam memegang teguh ajaran dan nilai-nilai moral Nabi.

Ari mengatakan bahwa tema "Nabi Kita dan Akhlak Mulia" memiliki makna khusus mengingat berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Ia menegaskan bahwa akhlak mulia tidak terbatas pada perilaku individu saja, melainkan mencakup kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, kehidupan profesional, solidaritas sosial, serta interaksi dengan semua orang.

Presidensi Urusan Agama menyelenggarakan berbagai program peringatan, kegiatan keagamaan, serta siaran radio dan televisi untuk menyoroti nilai-nilai luhur Nabi, termasuk kasih sayang, keadilan, kedermawanan, kebaikan hati, dan kerendahan hati.

Ari mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran akan keterkaitan antara iman, ibadah, dan akhlak.

"Meneladani akhlak mulia Nabi serta membangun kembali ikatan yang tak terpisahkan antara iman, ibadah, dan akhlak merupakan tanggung jawab yang mutlak bagi umat Islam," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meneladani karakter Nabi Muhammad SAW dapat memberikan panduan dalam menghadapi tantangan spiritual yang dialami masyarakat di dunia modern.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |